oleh

Aktor Bom Bali Sudah Radikal Sejak Kelas 4 SD, Simak Pengakuannya di AFU

TILIK.id — Podcast Akbar Faizal Uncensored yang tayang kemarin cukup ekslusif. Dia mengangkat isu terorisme dengan menghadirkan aktor utama Bom Bali Ali Imron dan mantan aktivis NII Ken Setiawan.

Dua tokoh ini baru pertama bertemu dan sekali bertemu langsung di forum bergengsi Akbar Faizal Uncensored (AFU) ini. Ken Setiawan sendiri terbang langsung dari Lampung untuk berbicara di podcast AFU ini.

Ali Imron sendiri pernah dipenjara dengan tuntutan penjara seumur hidup. Namun kini aktif untuk membantu program deradikalisasi terorisme itu sendiri.

“Kedua narasumber ini baru pertama bertemu, namun tentu saja saling memahami posisi masing-masing, setidaknya di masa yang lalu,” kata Akbar Faizal dalam prolognya.

Akbar Faizal menjelaskan, bahwa Ali Imron saat ini telah berubah, statement-statemennya banyak yang kontras dari sikap dan pandangannya di masa lalu.

“Apa yang terjadi pada Anda, kemudiian begitu berbalik dengan perubahan sikap Anda,” tanya Akbar Faizal dalam posisinya sebagai host.

Ali Imron menyampaikan terima kasih pada Akbar Faizal yang memberi kesempatan berbicara di forum ini. Ali Imron mengatakan sudah kenal baik Akbar Faizal, politisi yang cukup punya nama.

“Beliau ini seorang yang terjun di politik. Beliau ini seorang politisi yang sangat saya hormati. Artinya ada politikus yang ingin bertemu dengan saya.” kata Ali Imron.

Terkait pertanyaan Akbar Faizal, mengapa kemudian terjadi perubahan sikap dan pandangannya, Ali mengatakan pertanyaan itu penting mengapa terjadi perubahan itu.

“Pertanyaan penting. Bahwa mengapa saya yang paling banyak berperan dalam Bom Bali kok saya yang paling sadar pertama kali. Ini penting sekali,” kata Ali Imron.

Ali kemudian melanjutkan, kalau bicara ke belakang, Ali mengaku sudah radikal sejak kelas 4 sekolah dasar.

“Jadi kebelakang, Pak. Saya itu sejak kelas 4 SD sudah radikal. Pada waktu itu saya ribut sama ayah almarhum gara-gara saya menurunkam lambang Garuda Pancasila dan foto presiden dan wakilnya,” kata Ali Imro bercerita.

Dari mana pemahaman itu? Ali Imron mengatakan, pemahaman itu ditanamkan oleh Mukhlas atau Ali Gufron, kakak kandung Ali Imron, yang saat itu mondok di Pesantren Al Mukmin Ngruki milik Ustad Abubakar Baasyir.

“Dari adiknya, yang paling disayang itu saya, bungsu. Maka ketika dia liburan dari pondok Selalu saya digandeng. Jadi kalimat ‘toghut’. ‘Soehato toghut’, ‘Pancasila toghut’ itu sudah saya dengar sejak kelas 3 SD,” ungkap Ali Imron.

Makanya, kata dia lagi, sejak kelas 4 SD sudah ribut sama ayah, karena waktu itu ayah adalah sekretaris desa, sehingga masalah-masalah seperti itu cukup krusial.

“Oleh karena itu di kemudian hari, begitu saya lulus Aliyah, yang ingin saya ikuti jejaknya yaitu Ali Gufron, Mukhlas, yang saat itu saya ketahui Mukhlas ini sudah datang dari Afganistan,” kata Ali Imron.

Dijelaskan, Ali Gufron berangkat ke Afganistan tahun 1985 awal dan kembali pada awal tahun 1990 kemudian menikah di Malaysia. Pada waktu itu Ali Imron masih kelas 3 madrasah aliyah Muhammadiyah.

“Apa yang saya lakukan saya kelas 3 SD itu adalah menulis surat kepada dia (Ali Gufron) yang intinya saya akan menyusul dia, saya akan mengikuti jejak dia, sekolah dia. Makanya begitu lulus, ijazah belum saya ambil, saya duluan berangkat ke Malaysia,” beber Ali Imron.

Ali Imron di forum Akbar Faizal Uncensored.

Saat berangkat ke Malaysia, lanjut Ali Imron, dirinya ikut bersama TKI yang akan bekerja di sana. Orang-orang di Lamongan tahunya Ali Imron berangkat sebagai TKI. Begitu sampai di Kuala Lumpur, dijemput mertuanya Mukhlas dan akhirnya bertemu dengan Mukhlas di Johor Baru.

“Ketika bertemu dengan Mukhlas, hal yang pertama saya sampaikan adalah saya ingin mengikuti jejak dia. Belajar di Pakistan, Agfanistan. Mulhlas jawab iya, karena dia tau bahwa saya adiknya paling berhasil ditanamkan pemahaman itu sejak kecil,” kata Ali Imron lagi.

Kemudian Mulhlas mengingatkan kepada Ali Imron untuk siap. Siap meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, dan semuanya. Mukhlas kemudian berangkat untuk bertemu Ustad Abdullah Sungkar dan Ustad Abubakar Baasyir di Negeri Sembilan.

“Seminggu datang, Mukhlas langsung bilang ke saya, Alhamdulillah keinginan Antum dikabulkan ustadz. Berarti saya adalah salah satu yang akan dikirim ke Afganistan. Ya sudah waktu itu hubungan dengan keluarga putus, kecuali hubungan ke Mukhlas,” kata Ali Imron.

Untuk ke Afganistan, Ali Imron ke Singapura dulu selama 15 hari. dan setelah itu balik lagi kemudian dipertemukan dengan Ustad Abdullah Sungkar sebelum berangkat. Sebelum berangkat ke Afganistan, Ali Imron mengaku dibaiat dulu.

“Waktu itu kan walaupun sudah radikal sudah dibaiat tapi belum pernah diarahkan atau mengikuti jamaah. Yang saya pahami pada waktu itu baiat ini adalah baiat untuk tugas. Karena saya diberangkatkan oleh ustadz Abdullah Sungkar berarti saya harus baiat. Baiatnya adalah sami’na waato’na,” kata Ali Imron.

Ali Imron (kiri), Akbar Faizal (tengah) dan Ken Setiawan di Channrl AFU.

Begitu sampai di Afghanistan, lanjut Ali Imron, dirinya mendengar dari kawan kawan yang sudah masuk bahwa ketika orang sudah berangkat ke Afganistan belum pernah melakukan baiat masuk jamaah, maka baiat sebelum berangkat itu merupakan baiat masuk jamaah Darul Islam.

“Karena saya sudah sampai pada sami’na waato’na maka saya dikirim ke Afghanistan untuk masuk ke Akademi Militer Mujahidim Afghanistan bersama-yang lain. Saya termasuk yang terakhir masuk. Itu September tahun 91,” beber Ali Imron.

Di Akademi Militer Mujahidin Afganistan, Ali Imron ditempatkan di Batalion Logistik bersama Imam Samudra. Ali Imron dan Imam Samudra di Akademi Militer Mujahidin Afganistan merupakan satu angkatan.

Akademi Militer Mujahidin Afganistan ini bermarkas di Pakistan. Tempat itu berada di wilayah Sadr, Provinsi Parajinar, perbatasan Afganistan-Pakistan. Tempat itu diberikan oleh Presiden Pakistan Ziaul Haq untuk membantu melatih mujahidin Afganistan melawan pemerintahannya yang sangat cenderung ke Komunis.

“Di situ ditempatkan selama dua tahun. Setelah pemerintahan Benazir Bhutto maka Akademi itu sudah mau diusir oleh Benazir. Jadi suatu hari Benazir Bhutto jadi sasaran teroris itu sudah pas karena pernah mengusir kami,” kata Ali Imron.

Dua tahun di Akademi militer itu Majelis Mujahidin memutuskan bahwa Akademi Militer Mujahidin Afganistan tidak di situ lagi. Mau dipindahkan ke Kabul. Di situlah ditawarkan apa mau ikut pindah ke Kabul.

Karena di Akademi Militer Mujahidin itu ada dari golongan Jamaah Islamiyah dan golongan Darul Islamiyah. Mayoritas Jamaah Islamiyah minta satu tempat sendiri di Turkhom, wilayah perbatasan Pakistan-Afganistan juga.

“Di Akademi Milter Mujahidin Afganistan ini memang dikhususkan untuk pejuang Afganistan dan Jamaah Islamiyah dari Indonesia. Kami yang dari Indonesia ini membawahi Jamiyah Islamiyah Afganistan,” ujarnya.

Akbar Faizal beranggapan bahwa mujahid-mujahid Indonesia di Akademi Militer Afganistan sangat disegani. Dan itu dibenarkan oleh Ali Imron sendiri.

Hanya saja, menurut Ali Imron, dalam perencanaan dan desain aksi peledakan bom, mujahid Indonesia merasa malu pada mujahidin dari seluruh dunia.

“Mereka yang kita ajari di Afganistan sudah buat aksi di negaranya, tapi kita yang ngajarin kok belum. Nah inilah yang saya ajari di deradikalisasi kepada teman-teman. Bahwa ini hawa nafsu,” kata Ali Imron.

Akbar Faizal dan Ken Setiawan.

Dikatakan, betul mereka paham di dalam Al Quran ada soal jihad, mati sahid, membela agama, dan lainnya itu, tapi ada embel-embel hawa mafsu untuk melakukannya.

“Kita malu belum melakukan apa-apa. Contohnya begitu karena di sana kita kondang. Semua, orang Iran, Afganistan, dan negara lain kita ajar tapi kita belum melakukan aksi,” bebernya.

Menurutnya, Akademi Militer Mujahidin Afganistan itu berbeda dengan akademi militer Indonesia, misalnya. Di Afganistan itu seperti Kopassus, mempelajari penggunaan senjata mulai senjata pulpen sampai menjalankan thank.

“Jadi Anda bisa menggunakan thank?” tanya Akbar Faizal.

“Bisa. Kalau misalkan saya mau kabur Ada thank saya setir bisa. Pesawat tidak bisa karena tidak diajarkan,” jawab Ali Imron tertawa diiringi tawa yang lain.

Kemudian soal bom. Mulai dari yang paling ringan, bom petasan sampai bom kimia, nuklir, dipelajari semua, terutama di angkatan Ali Imron. Bom Bali pun, kata Ali Imron, baru percobaan. Artinya itulah bom paling ringan yang pernah dibuat.

Ali Imron menceritakan bahwa munculnya Mujahidin muslim Afghanistan itu adalah untuk memberi peringatan kepada pemerintahan Afghanistan. Negara mayoritas muslim kok pemerintahnya condong ke komunis. Makanya demo-demo juga banyak yang memprotes rezim berkuasa.

“Teroris itu mengharap ada medan perang. Iya yang ditunggu terus itu adalah perang. Makanya sering saya katakan kalau orang normal mendambakan kedamaian maka teroris mendambakan perang,” beber Ali Imron.

Akbar Faizal ingin detailnya, mengapa orang yang menjadi teroris begitu gampang terhipnotis, yang kemudian itu merugikan banyak orang.

“Harus tahu dulu latar belakangnya. Kami ini penerus NII yang dulu diproklamirkan Kartosuwiryo pada tahun 1949 atau empat tahun setelah kemerdekaan. Makanya kami pelaku Bom Bali ini adalah generasi ke empat, berarti kami ini bagian dari penerus DI/TII,” ungkap Ali.

Kemudian, tambah Ali Imron, ketika ditamya kenapa kami bom Kedubes Filipina, maka jawabannya adalah karena membantu mujahidin muslim Moro perang dengan rezim penguasa Filipina.

“Jadi kalau ditanya kenapa gampang terhipnotis, maka itu dimulai dari pendidikan tarbiyah yang diajarkan agar mendirikan negara di atas syariat Islam. Karena dikatakan kurang sempurna manakala orang Islam tidak memiliki negara Islam,” katanya.

“Itu yang pertama ditanamkan kepada kita. Nanti caranya itu nanti sampai kita konsern dengan cara itu,” tambahnya.

Untuk yang mengarah kepada aksi, maka jangka panjangnya adalah bagaimana mendirikan kekuasaan Islam. Jangka pendeknya adalah jihad fisabilillah untuk melaksanakan syariat Islam.

“Karena itu, untuk bagaimana melakukan aksinya, saya hanya mengajarkan dua jam sudah bisa orang itu menjadi teroris, kata Ali Imron.

Namun Ali Imron akhirnya mengaku prihatin melihat kondisi terorisme seperti ini. Artinya ketika kemarin terjadi aksi di Kathedral Makassar, disusul di Mabes Polri, ada pengamat yang bilang Polri gagal mencegah radikalisasi membuat dirinya jengkel.

“Mengapa? Saya tidak meremehkan para korban, saya tidak meremehkan keluarga korban akibat sasaran aksi teroris, tetapi ketika aksi terorisme itu cuma sebegitu saya bersyukur. Karena saya tahu persis petanya terorisme di Indonesia itu besar sekali, baik yang afiliasinya ke Al Qaeda maupun ke ISIS,” ungkap Ali Imron.

“Saberapa besar? tanya Akbar Faizal penasaran.

“Begini, di Indonesia itu ada dua afiliasi. Yaitu yang berafiliasi ke Al Qaeda dan yang berafiliasi ke ISIS. Syukurnya kita di Indonesia, yaitu keduanya tidak akur. Ini kita syukuri. Kalau akur, bahaya kita,” jawab Ali Imron.

Besarnya teroris di Indonesia, menurut Ali Imron, sekarang alumni Afganistan dan alumni Filipina Jamiyah Islamiyah saja itu kurang lebih 400 orang. Yang terlibat pengeboman itu baru 20 orang.

“Dengan jumlah itu, apa saya tidak ngeri.
Karena itu sebetulnya saya gigih sekali untuk deradikalisasi itu, sehingga alhamdulillah bersyukur, setelah kami kampanyekan gerakan deradikalisasi yang saya motori dan Nasir Abbas dkk yang sadar ini, bisa mengeliminir alumni Afganistan. Gak ada yang terlibat,” katanya.

Meski masih banyak teroris alumni Afganistan di Indonesia, menurut Ali Imron, namun mereka masih sangat sulit diajak mengkampanyekan gerakan deradikalisasi.

“Mereka diajak tidak mau. Mereka bilang lha apa urusannya? Yang mengebom kan kalian,” ungkap Ali Imron.

Dalam hal ini, Ali mengatakan, bahwa walaupun banyak kelompok DI atau JI di Indonesia, namun tidak semua setuju cara pengeboman.

Hal lain lagi adalah, semua kelompok teroris itu, baik DI maupun JI, induknya adalah NII. Dalam podcast AFU, Akbar Faizal menghadirkan Ken Setiawan, mantan aktivis NII.

Apa pandangan Ken Setiawan, bisa disaksikan pembicaran tiga figur dalam video ini:

Komentar