oleh

Rocky Gerung di AFU: Pakai Akal Sehat Agar Tidak Ditipu Akal Bulus

TILIK.id — Podcast Akbar Faizal Uncensored (AFU) kembali menghadirkan kritikus dan pengamat politik Rocky Gerung yang ditayangkan Kamis malam (22/4/2021).

AFU bersama Rocky Gerung kali ini tidak dilakukan di studio tapi di alam terbuka di sebuah rumah lembah yang dikelilingi sungai jernih. Letaknya pada sebuah lembah di antara Gunung Salak den Gunung Gde Pangrango, Kabupaten Bogor.

Lokasi ini terletak di Desa Tangkil Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Tempat ini menurut Akbar Faizal diapit dua lembah dan dikelilingi sungai yang airnya bisa langsung diminum.

“Jadi hari ini judulnya kembali ke alam tetapi kita akan berbicara tentang demokrasi seperti biasanya bersama Rocky Gerung,” kata Akbar Faizal dalam pengantarnya.

Direktur Eksekutif Nagara Institute ini memberi prolog dari hasil riset Nagara Institute tentang dinasti politik dalam Pilkada 2020. Faktanya, dari 132 yang mendaftar, ada 8 yang gagal maju, ada 124 yang bertarung. Hasilnya, 57 yang menang dan ada 72 yang kalah.

“Pertanyaan kita adalah, apakah mereka kalah karena kurang persiapan, kurang modal, ataukah masyarakar kita sadar apa yang harus mereka lakukan untuk seorang pemimpin wilayah?” tanya Akbar Faizal kepada Rocky Gerung.

“Saya tidak peduli apa sebab dia kalah, yang penting ada yang kalah. Kalau tidak ada yang kalah, wah bahaya. Dan yang kalah lebih banyak dari yang menang,” jawab Rocky Gerung.

Dari data ini, menurut Rocky, lebih banyak orang yang tidak menginginkan dinasti dengan alasan apapun dibanding yang menginginkan. Riset Nagara Institute yang banyak dikutip oleh media tentu dibaca oleh konstituen di daerah.

“Jadi ada pengaruh dari riset Nagara Institute. Inilah pentingnya suatu institusi yang dijaga Akbar Faizal dan teman-teman yang menghasilkan kesadaran masyarakat. Beda dengan lembaga survei yang mempromosikan 3 periode dengan alasan rakyat menginginkan,” kata Rocky.

Mestinya, menurut Rocky, rakyat bertanya, masak rakyat tidak menginginkan dinasti politik tapi menginginkan tiga periode. Tiga periode itu dinasti juga.

“Jadi ada yang kontras. Ada yang terbalik, semua orang menganggap tiga periode adalah kehendak rakyat tapi Nagara Institute mengatakan tidak. Rakyat tidak menghendaki. Buktinya lebih banyak yang tidak memilih dinasti,” kata Rocky.

Karena itu, Rocky Gerung mengajak rakyat terus merawat akal sehat supaya tidak ditipu oleh akal bulus akal bulus dalam pemilihan bupati, walikota, gubernur atau presiden ini dengan menghargai hasil berpikir akademis.

Akbar Faizal ingin tahu ketika ada dinasti politik yang kalah atau menang, apakah hal ini bisa dikatakan demokrasi kita makin membaik di negara kita yang sudah terjebak pada oligarki kekuasaan?

Untuk pertanyaan Akbar Faizal, Rocky mengatakan, dengan fakta banyaknya dinasti politik yang kalah, paling tidak pomodal politik akan berpikir ulang untuk melakukan investasi politik.

“Kita mungkin terlalu cepat mengambil kesimpulan demokrasi kita makin baik. Tapi ada pelajaran yang baik bahwa tidak mungkin lagi disuruh memilih hanya dengan disodorkan amplop,” kata Rocky.

Perbedaan pikiran dengan Akbar Faizal, menurut Rocky Gerung, sebenarnya adalah saling menegur pikiran. Perbedaan pendapat adalah persahabatan di antara orang berpikir.

“Saya dengan Akbar Faizal tidak bersahabat untuk melakukan korupsi, tapi kita bersahabat untuk melahirkan pikiran demokratis melalui riset semacam yang dilakukan Nagara Institute,” kata Rocky.

Dia mengatakan, kalau di daerah ada penolakan terhadap dinasti politik, itu tanda bahwa rakyat menghendaki demokrasi. Kalau kemudian ada indeks korupsi. pelemahan demokrasi, ada partai yang dikudeta, penangkapan aktivis dan lain-lain, itu soal di institusi-institusi sendiri.

“Tapi dalam kultur kita sebenarnya, kita menghendaki demokrasi, kita menghendaki pemimpin yang dipilih itu adalah hasil dari pilihan akal sehat kita. Bukan karena dapat dompet tebal, tapi karena otak tebal maka saya pilih dia,” beber Rocky Gerung.

Akbar Faizal mengungkapkan, Nagara Institute juga melihat keterkaitan dinasti politik yang dibiayai cukong banyak yang kalah akhirnya banyak diperiksa oleh penegak hukum. Di Sulsel misalnya, para cukung-cukong mulai dipanggil kejaksaan.

Bahkan, kata Akbar, kenapa cukong itu selangkah lebih maju dari hukum itu, kenapa cukong lebih canggih dari perangkat hukum itu sendiri?

Menurut Rocky, cukong selangkah lebih maju dari hukum karana hukumnya memamg dibiayai oleh cukong. Misalnya jika ingin melakukan kejahatan pada bulan Juli nanti, cukong sudah mengantisipasi. Sudah dimainkan di legislatif, di pemerintahan, dan di penegak hukum.

“Jadi cukong mengantisipasi. Kalau dia akan melakukan kejahatan pada bulan Juli nanti, maka bulan April sudah mulai dicicil. Anggota DPR mana yang harus disogok sehingga awal Juli nanti tidak hukum yang berlaku untuk dia. Jadi diijon dulu pembuat hukumnya,” beber RG.

“Kalau katakanlah cukong, kalau berbuat jahat kan dihukum. Nah, sebelum saya ketahuan, hukumnya saya ubah dulu. Mala saya sogok hakim, sogok jaksa, dan macam-macam,” tambah Rocky disambut tawa oleh yang hadir.

Muncul kemudian pertanyaan, kapankah negara kita selangkah dua langkah lebih maju terutama dalam hal penguatan civil society, di hadapan kekuatan-kekuatan oligarki politik?

Menurut Rocky, yang perlu diwaspadai adalah adanya pelemahan institusi-institusi negara. Hukum melemah, moral DPR melemah, hakim bisa disogok, institusi polisi berantakan bikin skenario saja gampang dibaca,, dll.

“Sebenarnya banyak hal yang bisa dibetulin. Cara betulinnya adalah malalui partai politik, karena memang partai politik yang membuat UU kan? kata RG.

Rocky sangsi adalah misalnya partai politik mengumpulkan konstituennya dalam acara seperti ini? Yang ada adalah kumpul di kamar hotel bagi-bagi sogokan agar konstituen diam dan tidak ngoceh di publik.

“Nah kita di sini bebas. Di partai politik kita tidak bebas diskusi begini. Begitu ketua partai politik bilang stop, ada telepon dari istana saya mesti meluncur ke istana, ditinggalin diskusinya tuh,” kata Rocky Gerung.

Padahal, kata Rocky menambahkan, politik mestinya saling diskusi, kritik, saling mengingatkan dan saling bercakap-cakap.

“Kenapa terjadi pelemahan institusi? Karena tidak ada kurikulum buat rakyat bercakap-cakap. Jadi diskusi di lembah ini adalah gabungan seluruh partai politik untuk diskusi yang tidak pernah dilakukan oleh partai kita bikin di sini,” beber RG.

Dikatakan Rocky, menurunkan gengsi untuk bertemu rakyat itulah cara terbaik untuk melakukan pendidikan politik. Karena pendidikan politik adalah bertatap dengan rakyat, bukan wawancara di tivi, bicara hasil konges, dll itu.

Lebih jauh Rocky mengaku melihat banyak ketidakadilan, baik ketidak adilan ekonomi maupun ketidakadilan hukum. RG tidak melihat dari statistik yang dikeluarkan setiap minggu oleh pemerintah, tapi Rocky membaca ketidakadilan dari mata emak-emak yang ada di desa ini.

“Pagi-pagi sudah pusing, dari kantongnya tinggal 3 lembar uang 10 ribuan, padahal panen masih dua bulan lagi. Anaknya ada di TK PAUD misalnya, mau dikasi jajan nggak ada lagi. Jadi yang disebut ketidakadilan ada di mata perempuan, di mata emak-emak, bukan di mata statistik yang setiap mingggu dibicarakan di istana,” ungkap RG. (lms)

Siaran lengkap Akbar Faizal Uncensored:

Komentar