Jakarta International Stadium dan Formula E Jakarta


Oleh: Geisz Chalifah

JIS dibangun secara senyap, sejak dimulai perancangan dan pembangunan tak banyak publikasi terhadap pembangunan JIS.

Bahasa Anies Basewdan adalah: Tepuk Tangannya nanti saja setelah selesai semua. Di samping itu juga adalah upaya meredam pemberitaan.

Karena semakin menjadi sorotan media maka segala hambatan, ganjalan akan selalunya hadir. Agar proyek kebanggaan anak bangsa dan yang dinantikan oleh warga Jakarta itu sukses, maka semua yang berada dalam lingkaran untuk melakukan OMERTA.

Sudah menjadi tradisi selama lima tahun selama Anies memimpin Jakarta dalam banyak hal yang kami ketahui namun tak pernah bicarakan ke publik. (Omerta) yang artinya tutup mulut.

Bagi semua yang berada di lingkaran Anies tanpa terkecuali. Tak ada gegap gempita, tak yang bicara ke media sebelum mahakarya itu menunjukkan tanda-tanda sukses sampai finish pembangunannya.

Berbeda dengan Formula yang sejak negosiasi dengan FEO bahwa Formula E akan dilaksanakan di Jakarta, maka beritanya menyebar lalu dimulailah serangan para buzzer dari hari kehari tanpa jeda.

BACA JUGA :  Sebira versus Siberia: Catatan Untuk Anies BaswedanP

Persiapan sangat mepet, halangan datang silih berganti. Ratusan pekerja pembuat lintasan di lapangan membaca pemberitaan.

Ada keraguan dari banyak orang apakah proyek tanpa dukungan ini bisa selesai jadwal dengan berbagai kesulitan yang seringkali merupakan hambatan eksternal.

Namun semangat para pekerja tetap terjaga, ribuan opini para buzzer mereka tak hirau, bahkan semakin bertekad agar sirkuit itu bisa tuntas tetap waktu.

Seringkali selepas jam kerja saya menemui para pekerja, mengucapkan terimakasih atas kerja tanpa lelahnya lalu berbincang dengan mereka semua.

Para anak bangsa yang sedang berjuang menjadikan kota ini, bangsa ini, sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Bertekad harus tuntas sebelum pelaksanaan dimulai.

Saat sirkuit itu finish dan tuntas dikerjakan, mereka membentangkan spanduk berbunyi : *E Formula Jakarta. Nothing Gonna Stop Us Now.*

Spanduk itu dengan telak menjawab semua keraguan media, semua provokasi kaum buzzer OD.

Tibalah hari penyelenggaraan tiba. 4 Juni 2022, Adalah hari yang mendebarkan.
Malam hari menjelang esok acara, saya dan teman-teman di Ancol masih berkumpul di Nyiur Resto untuk membahas ulang persiapan hari H.

BACA JUGA :  Kesadaran Kolektif Modal Utama Membangun Kualitas Demokrasi di Era Post Truth

Semua teman berkordinasi, mengechek ulang bagian yang bahkan paling remeh temeh sekalipun.

Lalu perhelatan berjalan sukses, kami semua bernafas lega.

Sukses Formula E dengan segala hambatannya tentu saja mencengangkan bagi semua. Bagi mereka yang pesimis bahwa anak bangsa ini, bisa melaksanakan event dunia walau sudah berusaha dihalangi dan diprovokasi sedemikian rupa.

Kini JIS yang telah berdiri dengan megah itupun telah semakin rapih, dan ada kebutuhan untuk JIS dipakai untuk kompetisi dunia U17.

Apakah JIS akan mendulang sukses seperti Formula E? Tentu saja semua berharap demikian. Namun ada satu catatan tak tertulis. Catatan itu berbunyi: JANGAN SAMPAI NAMA Anies ikut mendapat benefit dalam perhelatan. Anies harus lebih dahulu dideskreditkan walaupun stadion megah yang digagsanya itu berhasil dibangun di masanya.

Oleh sebab itu sebagaimana Formula E yang dihambat sebelum pelaksanaan, kini JIS yang sudah tuntas, sebuah stadion yang menjadi MAHA KARYA anak bangsa, ribuan tenaga kerjanya lokal.
Perlu diperlakukan secara khusus dengan narasi negatif. Tidak standar FIFA, akses pintu masuk kawasan, akses bus pemain dan kemudian rumput.

BACA JUGA :  10 Februari, Jutaan Pendukung AMIN Akan Banjiri JIS

Dibicarakan dengan penuh drama, mengundang wartawan sambil membawa vendor.
Agar pada saat JIS digunakan maka mereka bisa berkata: Stadion ini KAMI yang MERENOVASI.

Komentar