oleh

Bambang Brojonegoro dan Yenny Wahid Masuk Jajaran Komisaris BukaLapak

TILIK.id — Setelah Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) dilebur kedalam Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek, mantan Menristek Bambang Brojonegoro tidak perlu berlama-lama istirahat. Bambang langsung masuk sebagai Komisaris Utama BukaLapak.

Bambang diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dari perusahaan market place berplatform daring tersebut. Bambang Brodjonegoro, dalam siaran pers Bukalapak mengungkapkan semangatnya untuk berkolaborasi bersama Bukalapak.

Bersamaan dengan itu, RUPS BukaLapak juga mengangkat Yenny Wahid sebagai salah satu komisaris di perusahaan dagang daring tersebut.

“Menjadi bagian dari keluarga besar Bukalapak yang berfokus untuk menciptakan akses pasar berbasis teknologi, diharapkan akan memberikan dampak yang lebih besar pada adopsi teknologi di UMKM serta inovasi yang mengarah pada transformasi digital dan penguatan UMKM,” kata Bambang Brodjonegoro.

Menurut dia, aspek inovasi dan teknologi merupakan hal krusial yang harus diadopsi agar UMKM bisa berkembang.

“Bukalapak telah menciptakan wadah pasar strategis bagi UMKM untuk terus berkembang seiring dengan kemajuan digital,” kata Yenny Wahid.

Ia mengutarakan harapannya agar dengan bergabung bersama Bukalapak, dapat terbentuk sinergi yang melahirkan lebih banyak peluang usaha untuk membantu UMKM dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Sementara itu, CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin dalam paparannya menyatakan bahwa pada 2020, Bukalapak mencatat peningkatan 4 juta Pelapak dan MitraBukalapak, sehingga kini Bukalapak memiliki lebih dari 6.5 juta Pelapak, 7 juta MitraBukalapak.

Selain itu, ungkap dia, Bukalapak memiliki sekitar 100 juta pengguna yang 70 persen didominasi oleh pengguna di luar kota besar.

Hal tersebut, lanjutnya, menunjukkan peran digitalisasi Bukalapak tidak hanya berpusat di kota-kota besar tetapi juga menjangkau seluruh daerah yang memiliki tantangan akses dan infrastruktur.

“Bukalapak terus melakukan pengembangan fitur dan layanan baik pada platform marketplace ataupun O2O (online to offline), untuk menjawab kebutuhan di tengah masyarakat terlebih di situasi pandemi sekarang,” papar Rachmat. (lms)

Komentar