oleh

Lieus Sungkharisma Tutup Usia, Geisz Chalifah Sampaikan Kesan

TILIK.ID — Tokoh dan aktivis berdarah China Lieus Sungkharisma tutup usia. Kabar wafatnya aktivis sosial dan kritikus ini disampaikan sahabatnya Geisz Chalifah, Selasa malam ini (24/1/2023).

Menurut Geisz, Lieus Sungkharisma meninggal dunia beberapa saat lalu, Selasa (24/1), di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Lieus meninggal dunia karena serangan jantung.

Melalui akun twitternya, Geisz mengatakan dirinya mendapat kabar duka dalam waktu yang berdekatan. Pertama kehilangan Ferry Mursyidan Baldan, tak lama kemudian menyusul sahabat baiknya yang mengajarinya tentang kehidupan kucing tak berpemilik Adis Dewi.

“Malam ini saya dapat berita duka Lieus Sungkharisma meninggal dunia,” kata Geisz di akun twitternya yang dipantau, Selasa malam.

Menurut Geisz, Lieus Sungkharisma wafat akibat serangan jantung. Tak banyak keterangan yang disampaikan mantan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol ini. Namun menurutnya telah kehilangan teman berdiskusi dan berdebat.

Kepada TILIK, Geisz menyampaikan kesan dan kenangannya tentang mantan tokoh pemuda itu.

“Saat saya masih menjadi penukung Ahok, Lieus mencoba meyakini saya bahwa Ahok itu perangainya berbahaya bagi bangsa,” kata Geisz.

“Lalu ada jokes dari Lieus, Elu Arab dukung Ahok gue yang China gak dukung dia. Saya jawab, Gue dukung Ahok gak ada urusannya dengan dia China. Ahok itu tokoh anti kemapanan dsbnya sambil saya puja puji Ahok.”

“Kemudian Lieus mentertawakan saya karena tentunya dia jauh mengenal Ahok daripada saya yang cuma baca via media. Belakangan setelah Ahok berkali-kali membuat blunder terutama setelah dia memaki seorang perempuan yang menanyakan KJP-nya yang tak bisa dicairkan lalu Ahok malah memakinya dengan kasar: ‘Ibu Maling’, maka saya berhenti dukung Ahok”.

“Setelah itu Lieus mentertawakan saya. Kalimatnya: Elu kagak percaya sama gua sih,’ ujar Geisz mengenang Lieus Sungkharisma.

Lieus Sungkharisma lahir pada 11 Okrober 1959 dengan nama Tionghoa: Li Xue Xiung. Lieus adalah aktivis sosial Indonesia yang berketurunan Tionghoa.

Dia sempat menjabat sebagai Ketua Umum Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (PARTI), Wakil Bendahara Depinas SOKSI periode 1986-1991, Ketua di DPP AMPI dan DPP KNPI, Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabuddhi) pada tahun 1985,

Dia juga Ketua Perhimpunan Pengusaha Tionghoa DKI Jakarta dan Ketua Umum Multi Culture Society, sekaligus Wakil Presiden The World Peace Committee. Dia juga pernah mengelola tabloid bernama Naga Post. (jos)

Komentar