Dari Rasil ke Gaza; Jalan yang Tidak Selalu Masuk Akal

TENTANG ORANG-ORANG YANG TIDAK TAKUT MUSKIN


Oleh: Geisz Chalifah

JAM 9 pagi saya sudah sampai di Studio Radio Silaturahim (Rasil AM 720); parkiran mobil dan motor sudah berjejer. Hari ini ada rapat untuk membahas perkembangan sekolah di Pasar Minggu.

Di tengah situasi yang katanya pendengar radio sudah jauh berkurang; Rasil AM 720, radio tanpa iklan, bukan saja pendengarnya tidak berkurang, tetapi aktivitasnya juga tak pernah sepi. Ada sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan grafik di sana.

Mungkin itu juga yang membuat Ichsan Thalib tetap tersenyum, bahkan ketika pasar properti sedang lesu. Ia seperti tidak pernah benar-benar memisahkan dunia dan akhirat; atau mungkin justru tidak melihat alasan untuk memisahkannya sejak awal.

Selesai rapat, Faried mengatakan bahwa dr. Ben dan Luly, juga teman-teman yang aktif saat pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, akan datang ke Resto Makan Bawah Pohon; tempatnya cukup ditempuh dengan berjalan kaki dari studio, dan pengunjungnya tak pernah sepi.

BACA JUGA :  Ketua Komisi Kejaksaan Dirujak Geisz Chalifah

Tempat itu bukan sekadar ramai; ia punya ruang yang lapang dan hidup. Kebun yang menyatu dengan area makan, pendopo yang terbuka, dan suasana yang tidak dibuat-buat. Bukan kemewahan yang ditampilkan, tapi keluasan yang memberi napas. Seolah orang datang bukan hanya untuk makan, tapi untuk tinggal sejenak lebih lama.

Seperti ada aliran yang tidak terlihat; dari usaha yang tidak sepenuhnya dimaksudkan untuk menumpuk, tetapi juga untuk mengalirkan. Tidak semua keuntungan berhenti di angka; sebagian berubah menjadi jalan bagi hal-hal yang tidak kasatmata.

Dalam rapat, Ustadz Husein Alatas, yang video kajiannya viral dan juga diposting oleh Panji, menyampaikan pandangannya. Ia tidak sedang membela siapa pun; ia hanya setia pada apa yang ia pahami. Itu seringkali lebih berat daripada sekadar memilih posisi.

BACA JUGA :  Alumni SMA 03 Jakarta Deklarasi “Teladanies”, Ini Kata Geisz Chalifah

Dalam rapat itu, ia menitikberatkan pada pendidikan akhlak di sekolah. Saya tidak benar-benar menyimak seluruh ucapannya; bukan karena tidak penting, tetapi karena saya sudah mengenal pola pikirnya. Saya justru melihat wajahnya. Wajah seseorang yang tidak pernah bernegosiasi dengan rasa takut miskin.

Ada orang yang bersedekah setelah menghitung; ada yang menghitung setelah bersedekah. Ia tampaknya bukan keduanya.

Bubar rapat, saya menuju Resto Makan Bawah Pohon. dr. Ben, Luly, Faried, dan yang lain sudah lebih dulu duduk. Wajah-wajah yang pernah berada dalam satu pekerjaan yang sama; sesuatu yang pada awalnya lebih dekat ke kata mustahil daripada mungkin.

Kami pernah membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Dan itu selesai.

BACA JUGA :  Geisz Chalifah Soroti Draft RUU DKJ

Tidak semua yang selesai itu mudah; sebagian selesai justru karena tidak terlalu banyak dipertimbangkan dengan logika yang biasa.

Gaza, bagi kami, bukan sekadar tempat; ia adalah batas uji dari keyakinan. Di sana, kata “tidak mungkin” kehilangan wibawanya. Yang tersisa hanya pertanyaan sederhana; apakah kita benar-benar ingin, atau hanya sedang menghitung.

Di bawah pohon itu, obrolan berjalan biasa saja. Tidak ada nada kepahlawanan; tidak ada yang merasa sedang mengulang cerita besar.

Mungkin memang begitu cara kerja hal-hal yang berarti; ia tidak datang dengan suara keras, tetapi tinggal lama dalam diam.

Komentar