oleh

Lawan Kita Adalah Ketika Kekuasaan Bekerja untuk Kebutuhan Rezim

TILIK.id, Jakarta — Siituasi bangsa Indonesia saat ini sudah berada di titik nadir. Tidak terlihat lagi ada upaya perbaikan. Demokrasi tak lebih dari sekadar demokrasi prosedural, hukum tidak jalan, ekonomi mandek. Rakyat akhirnya menjadi susah karena negara srperti salah kelola.

Upaya perbaikan itu tidak lagi bisa mengandalkan pemerintahan saat ini, karena sangat dirasakan lemahnya sebuah kepemimpinan. Negara tidak lagi hadir sebagai pembawa persatuan, tapi justru menciptakan kegaduhan.

Aparat juga tak lagi berdiri di senua golongan, tapi menjadi partisaan dan musuh bagi golongan yang menginginkan perubahan. Diyakini perubahan bisa terjadi melalui gerakan sivil society.

Sayangnya gerakan masyarakat sipil yang mayoritas Islam tidak dikelola dengan baik. Bahkan begitu cepat dipatahkan. Kepemimpinan informal tumbuh kuat, namun lagi-lagi dengan capatnya ditebas.

Habib Rizieq Shihab yang sangat fenomenal menjadi harapan umat Islam. Sayangnya pula keleluasan geraknya langsung dipotong oleh rezim melalui penggunaan seluruh perangkat kekuasaan. Mengapa bisa terjadi?

Berikut lanjurtan hasil diakusi terbatas Perkumpulan Usaha Memajukan Anakbangsa (UMA) secara daring yang digelar Sabtu malam (12/12/2020). Tampil pembicara N Syamsuddin Ch Haesy, mantan anggota DPR dan bupati Sofyan Mile, mantan menteri Ferry M Baldan, Ketua METI Surya Darma, Djabir Mawardi, Tigor Sihite, Lilik Muflihun, Ade Adam Noch. dan lainnya.

Salah satu yang menjadi faktor penentu pemicu perubahan adalah sejauh mana isu dan opini bisa menjadi alat kontrol publik melalui sosial media (medsos). Jika melihat pola dan orientasi media-media mainstream yang condong pada kekuasaan-capital, maka medsos menjadi tools bagi publik menyampaikan pandangan yang berbeda.

Inilah yang sedikit dibahas Ferry Mursyidan Baldan dalam diskusi terbatas UMA tersebut, Menurutnya, informasi yang berulang-ulang dengan substansi yang sama dengan bahasa yang berbeda hanya membuat inflasi informasi.

Contohnya bahasanya bervariasi kaya, namun substansinya sama adalah kebiasaan kita. Kita banyak menshare pandangan-pandangan yang tidak kita buat dengan kalimat yang sama.

“Sebenarnya menjadi inflasi yang membuat jenuh, tidak menggetarkan lagi,” kata Ferry Mursyidan Baldan.

Sebaiknya informasi yang ada difilter. Jika sudah clear baru disebar. Tidak pula seolah berlomba mendapatkan sumber lebih awal. Yang pennting pesan yang sampai fokus pada memelihara kesadaran yang mulai muncul.

Yang kedua, terkait fenomena hukum yang dihadapi HRS dan tewasnya enam laskar FPI di Tol Cikampek, Ferry mengatakan banyak yang seolah-olah berada pada posisi sekadar pro pada HRS dan organisasinya.

“Padahal yang harus dilawan, dibongkar itu, adalah pendapat hukum oleh negara yang sudah dianggap tidak benar,” katanya.

Pesertanyaan-pertanyaan teman-teman di luar negeri sulit dielaskan. Apa yang dilakukan oleh polisi di negara kamu, apakah kewenangannya sampai sejauh itu, semua hal ditangani, mulai korupsi, narkoba, perbuatan tidak menyenangkan, pencurian, narkoba sampai keurumunan orang pun ditangani. Dan seolah tidak ada yang berhak mempersoalkan.

“Saya kira fokusnya adalah ketika kekuasaan digunakan untuk kebutuhan rezim. Kita tidak usah lagi banyak ngomong people power, Yang harus dihadapi dan bisa melawannya adalah kerika memang ada tindakan sudah di luar batas,” kata Ferry.

Sedangkan Ketua METI Surya Darma memaparkan bahwa melihat situasi sekarang, seperti ada skenario-skenario yang tidak kita tidak tahu. Walaupun ditutup-turupi bagaimana pun akan terbuka. Bahwa kondisi saat ini memang sangar sangat mengkhawatirkan.

“Hari ini Dan kemarin saya sudah berfikir bahwa kasus semacam ini pasti akan ada. Setelah Benny Mamoto mengungjkap teroris, setelah ini apalagi yang terjadi,” kata Surya Darma.

BACA JUGA:

Kakuatan Rakyat Sangat Besar, Tapi Tidak Punya Siasat

Surya mengaku tidak terlibat dalam politk. Namun dalam dirinya bertanya mau dibawa kemana negeri ini. Ada prediksi tahun 2025 Indonesia masuk dalam big five, berulkah itu?

“Tadi dikatakan Tahun 2002 lima itu Indonesia akan menjadi negara big five
dalam ekonomi. The big five itu masih tantangan yang luar biasa. Kenapa? Karena posisi kita sekarang untuk melewati midle income grade itu tidak gampang,” kata Surya.

Dikatakan, prediksi lima besar itu jangan-jangan meninabobokkan dan tau tau kita berada tidak lagi di midle tapi malah kembali ke posisi yang sangat sulit.

“Apalagi kalau kita lihat sekarang misalnya 50% orang Indonesia yang bonuss demografi itu adalah anak-anak muda dengan jumlah yang besar itu masuk dalam kategori millennial yang kadang kala memang tidak peduli sama politik,” ujarnya.

Jadi menurut Surya Darma Apa yang kita sampaikan apa yang kita diskusikan di sini bagi mereka tidak peduli dengan itu. Mereka larut dengan dunianya, larut dengan aspek-aspek yang lain yang tidak ada hubungannya dengan politik.

“Dengan keadaan seperti itu, maka kaum millenial ini akan berhadapan dengan suatu sistem yang semuanya akan berubah kedepan,” ujar Surya Darma.

Lalu pertanyaannya, sispa yang bisa memfasilitasi untuk mengatasi gap yang besar ini? Surya Darma meragukan kondisi lebih baik melihat situasi negara seperti sekarang ini.

“Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi jika jutaan rakyat ramai-ramai datang ke kantor polisi minta dipenjara karena telah melanggar protokol lesehatan,” pungkas Surya Darma.

Djabir Mawardi kemudian menyampaikan pandangannya terhadap Habib Rizieq Shihab. Dia mengatakan pernah menghadiri ceranah Habib Rizieq tentang ideologi Pancasila. Apa yang didapat Djabir?

“Tanggal 1 dan 2 Juni tahun 2016, Saya hadir di seminar di gedung balai Kartini. Seminar itu yang keynot speech nya Pak Tri Sutrisno, kemudian pembicaranya Pak Gatot Nurmantyo. Ada Sinton Panjaitan juga sebagai pembicara. Salah satu pembicara lainnya Habib Rizieq,” kata Djabir.

Habib Rizieq, kata Djabir lagi, dia tampil berbicara membahas mengenai Pancasila undang undang dasar empat lima, dalam kaitan negara republik Indonesia dengan Islam. Hadir pula jenderal Wijoya Sujono, Agum Gumelar dan ratusan jenderal hadir.

Dari tokoh-tokoh agama lain, dari Hindu, Budha, Kristen, juga hadir. Ketika Habib Rizieq tampil berbicara hampir satu jam, itu genuruh tepuk tangan jenderal-jenderal itu.

“Dia membahas secara sistematis dengan proyektor, pakai laptop, mengenai Pancasila dari A sampai Z. Jadi benar sekali bahwa Habib Rizieq ini memang cerdas intelektual,” katanya.

Masalahnya sekarang, kata Djabir, itu sudah tidak ada dialog. Pada waktu Gatot Nurmantyo jadi panglima, inisiasi diskusi-diskusi itu jalan.

“Sekarang dialog-dialog itu sudah tidak ada. Habib Rizieq sudah diposisikan sebagai lawan, sebagai musuh,” tutup Djabir Mawardi. (bmk)

Komentar