Pengakuan Ketua MPR RI di Peluncuran Buku Ferry Mursyidan Baldan, Layak Disimak

TILIK.ID — Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan Pancasila yang dikagumi dunia justru kini menghadapi resistensi dari dalam negeri sendiri. Tidak sedikit dari kalangan masyarakat yang mulai menyangsikan, bahkan menegasikan nilai-nilai luhur Pancasila.

Namun  Bambang Soesatyo mengaku sepakat dengan pandangan almarhum Ferry Mursyidan Baldan, bahwa memudarnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat karena minimnya tokok-tokoh negarawan yang dapat dijadikan panutan dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Minimnya keteladanan atau panutan tokoh bangsa menyebabkan nilai-nilai luhur Pancasila hanya nampak di permukaan, belum membumi, dan masih miskin dalam manifestasi dan keteladanan.

Pernyataan Bambang Soesatyo itu dikemukakan dalam pidatonya pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan sekaligus peluncuran buku “Ferry Mursyidan Baldan Sang Politisi Negarawan” di Gedung Nusantara IV Komplek Parlemen RI Senayan Jakarta, Senin sore (10/4/2023).

Hadir pada acara itu antara lain, Hanifah Husein (istri almarhum Ferry Mursyidan Baldan), Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Drs H Darul Siska, Pendiri HIPMI dan mantan Menteri Tenaga Kerja serta Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya Abdul Latief dan Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof. Siti Zuhro.

BACA JUGA :  Ferry, Abang Ganteng Yang Mempesona

Hadir juga senior HMI Nazar Nasution, Ida Ismail, Krisnina Akbar Tandjung, Surya Darma, HM Sofhian Mile SH MH, Yahya Zaini SH, Burzah Sarnubi, N Syamsuddin Ch Haesy, anggota DPRD Banten H Moh Bahri, Ade Adam Noch, para penulis seperti Tigor Sihite, Syahganda Nainggolan, Syahrir Lantoni, Geisz Chalifah, dan lainnya.

Peluncuran buku obituari Ferry Mursyidan Baldan dilakukan sekitar 130 hari wafatnya politisi kawakan dan mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN itu.

Mantan Ketua Umum PB HMI itu meninggal dunia pada 1 Desamber 2022 di Jakarta. Kepergiannya ditangisi keluarga, kerabat, sahabat, politisi dan keluarga besar HMI. Presiden Jokowi dan mantan Wapres Jusuf Kalla memberikan testimoni saat melayat ke rumah duka.

Yang mengenal dekat Ferry Mursyidan Baldan langsung menuliskan testimoninya di berbagai media. Ada pula yang memberikan testimoni melalui audio visual. Ratusan testimoni itu kemudian dibukukan sehingga mencapai ketebalan buku kurang lebih 500 halaman.

Ketua MPR Bambang Soesatyo yang juga sahabat Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, dalam konteks manifestasi dan keteladanan nilai-nilai luhur kebangsaan inilah, peluncuran buku tentang almarhum Ferry Mursyidan Baldan menemukan kontekstualitas dan relevansinya.

BACA JUGA :  Hj Reni Marlinawati, Perempuan Hebat PPP dan KAHMI, Tutup Usia

Tujuan peluncuran buku ini juga memiliki spirit yang sama, yaitu untuk mewariskan nilai-nilai luhur kebangsaan yang telah diteladankan oleh almarhum semasa hidupnya.

“Saya bersyukur menjadi salah satu dari sekian banyak sahabat yang berkesempatan mengenal sosok almarhum. Baik sebagai aktivis mahasiswa dan pimpinan organisasi kepemudaan seperti HMI, Kosgoro, AMPI dan Partai Golkar, sebagai tokoh politik, anggota MPR RI, maupun sebagai menteri kabinet,” jelas Bamsoet.

Sebagai aktivis, kata Bambang Soesatyo, almarhum Ferry M Baldan adalah sosok yang konsisten menjaga idealisme.  Pemikiran kritis almarhum selalu dilandasi itikad baik, untuk tidak sekedar mengoreksi, namun juga menawarkan solusi.

Almarhum selalu memberikan teladan, dorongan dan motivasi, serta menjadi inspirasi bagi segenap anggota dalam menjalankan roda organisasi.

Sebagai tokoh politik, almarhum menjadi figur yang taat asas dan taat hukum. Memiliki pandangan visioner dan senantiasa menempatkan kepentingan bangsa dan negara sebagai prioritas utama.

Dan sebagai anggota MPR, almarhum memiliki keteguhan komitmen dalam menjalankan berbagai tugas konstitusionalnya sebagai anggota parlemen.

BACA JUGA :  Ferry Selalu Menbawa Keceriaan

“Sebagai menteri kabinet, almarhum telah melakukan berbagai langkah terobosan dan inovasi dalam bidang pelayanan publik yang berorientasi pada budaya melayani dan prinsip efisiensi. Di samping itu, almarhum juga senantiasa mengedepankan pendekatan yang humanis dalam setiap kebijakan yang menyangkut hak-hak kepegawaian,” kata Bamsoet. (lis)

Komentar