oleh

Ancol dan PHK Karyawan

by: Geisz Chalifah
(Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol)

BERBULAN-bulan Ancol ditutup, tak ada pemasukan alias Nol rupiah. Baru dibuka sebentar lalu tutup kembali.

Seorang karyawan datang bertanya dgn mata berkaca dan suara bergetar:
”Bapak apakah Ancol akan ada PHK?”

Saya menjawab dengan lugas: PHK baru akan terjadi kalau nyawa Ancol sudah dileher (Sekarat). Selama nyawa Ancol belum mencapai leher, Tidak akan ada PHK.

Pesan Gubernur DKI Anies Baswedan pada seluruh direksi maupun komisaris BUMD; Yang utama adalah harus memberi maslahat kepada masyarakat.

Memberi benefit pada masyarakat, bukan sekedar semata-mata fokus pada profit.

Ancol dikelola dengan hati bukan sekedar menghitung angka. Ayuk kita bersama menyelamatkan Ancol yg artinya juga menyelamatkan semua karyawan.

Mendapat masalah adalah hal yang lumrah. Menghadapi pandemi seperti ini tentu saja berat dan kita semua mengerutkan kening. Berfikir keras dan menjaga dengan cara yang paling maksimal sampai tetes keringat terakhir sampai tak ada lagi tenaga tersisa.

Bila badan masih sehat, tenaga masih ada, otak masih normal. Bukan lagi sepuluh, dua puluh apa lagi seratus. Satu karyawanpun kita jaga semaksimalnya agar tak mengalami PHK.

(Terkecuali mereka yang perilakunya memang ingin “BERSALAMAN”).

Karyawan yang bertanya tadi itu mengucapkan terimakasih lalu balik badan.

Dengan bersemangat dia mengambil sapu lalu dengan bergairah, membersihkan sampah yang berserakan dari daun-daun pohon yang berjatuhan. Cintanya dengan perusahaan ini tak terbatas bahkan ketika masa pensiun tiba cintanyapun akan tetap terpatri dengan dalam.

Semangatnya meninggi, komputer dan ruang ber AC yang nyaman mereka tinggalkan.

Berada di lapangan menjaga Ancol tetap bersih bahkan toilet dan tempat-tempat sampah tak ada yang luput dari perhatian oleh mereka yang biasanya hanya berhadapan dengan administrasi dan sejuknya ruangan.

Panas pantai tak menjadi halangan untuk berjaga di pintu gerbang melayani para pengunjung yang datang.

Ancol adalah kawasan wisata yang berkali-kali mengalami “musibah”.
Efek Tsunami Banten sungguh memukul hingga berbulan-bulan, tapi kita semua berhasil melaluinya.

Kini Pandemi melanda tapi bukan Ancol bila tak berdiri kembali dengan tegak. Setiap kali terjatuh maka kita semua bangkit dua kali lebih kuat dari sebelumnya.

Kita semua baru akan menyerah, bila masing-masinh dari kita berada dalam keranda jenazah membawa kita ke alam kubur.

Sebelum itu terjadi, maka bangkit berdiri bersama menjadi bagian dari cara kita menghadapi segala masalah.

Para direksi Ancol bukan direksi kaleng-kaleng yang terdiri dari orang-orang cengeng. Bukan direksi yang mencari jalan mudah, tapi direksi Ancol adalah mereka kaum yang teruji di lapangan, bukan yang cuma modal lobby kanan kiri dan bila menghadapi masalah berlindung lalu cari selamat. Mereka hadir dan berdiri paling depan dalam menghadapi semua tantangan.

Make Ancol Great Again

Sebuah lagu Leo Kristy Syairnya berbunyi:

Bila cermin tak lagi punya arti pecahkan berkeping-keping.

Kita berkaca diriak gelombang dan sebut satu kata..

Akuuuu.

Jabat tangan erat-erat Saudaraku…

Komentar