Selamat Malam Menjelang Pagi Para Aktifis Punjual Harga Diri


by Geisz  Chalifah

DI PERTENGAHAN tahun 80-an, sebuah diskusi yang dibuat di daerah Kebayoran. Kelompok studi mahasiswa yang namanya sudah agak lupa. Kelompok studi ini diketuai oleh Ismed Hasan Putro.

Saya hadir saat itu. Salah satu pembicaranya adalah Purnawirawan Jendral TNI Hasnan Habib.

Baru saja acara itu dimulai, tak lama kemudian datang aparat, meminta acara diskusi itu dihentikan. Di masa itu dimasa kekuasaan dijalankan dengan tirani, kebebasan mahasiswa sangat dibatasi.

Kejadian semacam itu puluhan kali terjadi. Termasuk juga beberapa kali saya datang keacara diskusi di LBH Salemba, juga bukan sekali dua kali dibubarkan dengan alasan tak ada ijin atau ijinnya dicabut, dsbnya.

Oleh karenanya mahasiswa dimasa itu, melakukan perlawanan terus menerus dengan tema gerakan: Aksi Informasi.  Namun itu semua terjadi dimasa gelap demokrasi sebelum reformasi terjadi.

Kini setelah lebih dari 20 tahun reformasi. Setelah dengan berdarah-darah diperjuangkan. Bahkan banyak yang kehilangan nyawa, ntuk hadirnya demokrasi dalam perpolitikan Indonesia.

Berkali-kali ijin acara Anies Baswedan dicabut hanya beberapa jam sebelum acara.

BACA JUGA :  Merdeka (6): NKRI Harga Diskon?

Padahal yang dilakukan Anies Baswedan dan tim Ubah Bareng, adalah sedang melaksanakan agenda nasional. Yakni melaksanakan kontestasi Pilpres yang selayaknya difasilitasi, diberikan ruang untuk berkontestasi secara fair.

Untuk ketujuh atau kecedelapan kalinya acara Anies baswedan yang bertema Desak Anies, selalu dan selalunya dibatalkan alias dicabut ijin penggunaan tempat. Hanya dalam selang waktu beberapa jam sebelum acara.

Bahkan yang terjadi di Jogja adalah: Teman-teman Ubah Bareng sedang mempersiapkan sound siystem untuk acara esok harinya. Ijin penggunaan tempat sudah mereka miliki. Namun malam hari itu pula mereka mendapat kabar ijin yang sudah mereka dapatkan dicabut.

Bisa dibayangkan kerepotan yang mereka alami (anak anak muda Ubah Bareng). Dalam waktu yang sangat mepet, mereka harus cari tempat baru di malam itu juga, dan mempersiapkan segala sesuatunya dari awal kembali.

Belum lagi memberi kabar pada ribuan peserta yang sudah mendaftar. Bahwa tempat acara dipindahkan.

Yang menarik buat saya adalah: Sikap para aktifis yang dulunya berteriak terhadap hal yang demikian, kini sebagian dari mereka bungkam.

BACA JUGA :  Wayang Zulkifli

Mereka tak bersuara bahkan terkesan menikmati hambatan, juga tekanan yang dialami oleh Anies dan Tim. Semata-mata karena berada dalam posisi dukungan kepada paslon yang berbeda.

Bahkan ada pula yang dengan “Otak Dikit”nya memberi pembelaan atas tindakan itu, bahwa gedung tersebut adalah museum yang dikelola olah TNI. Sebuah pembelaan yang sungguh ironis dan tak logis, namun demi syahwat kekuasaan memang banyak orang bersedia untuk jadi Tolol. Tetmasuk manusia itu yang selama ini mengklaim sebagai aktifis di masa lalunya.

Menurut saya mereka bukan sejatinya aktifis, yang dulu gencar berteriak tentang demokratisasi.  Mereka kini hanyalah “Penjual Harga Diri”. Hanya “Kaum Oportunis Pecundang” yang tak punya malu.

Lalu menutup mata atas berbagai kejadian semacam itu yang dulu mereka lawan. Mereka marah dengan situasi semacam itu, namun sekarang menjadi corong pembenaran atas perilaku yang sedemian buruk bagi demokrasi.

Beda situasi memang merubah persepsi, merubah pola pikir dan saya sederhanakan dalam satu kesimpulan: Mereka tak lebih hanya kaum “Pecundang penjual harga diri”. Menggadaikan idealisme.

BACA JUGA :  Jangan-Jangan KPU Bakal Bernasib Sama dengan MK

Tak peduli bahwa mereka termasuk kaum yang ikut terlibat menjadi menggerus demokrasi, kembali ke masa gelap. Kembali ke titik awal, kembali ke jaman di masa Soeharto berkuasa.

Perilaku mereka “Menjijikkan
dengan mencari-cari dalil pembenaran atas sesuatu yang salah. Yang dimasa lalu mereka menolak sekeras-kerasnya.

Kejdian yang dialami Anies Baswedan bukan pertama kalinya namun berulang dan berulang.

Sama persis seperti saat Soeharto berkuasa, yang rajin membubarkan acara diskusi. Kini dengan kekuasaan mereka mencabut Ijin.

Ada banyak lagi hal lainnya. Selain soal ijin acara, pesawat yang tak boleh mendarat dsb-nya. Yang menbuat berbagai jadwal Anies dalam melaksanakan agenda nasional yang merupakan putusan Undang-Undang tentang penyelenggarsan Pemilu selama lima tahunan.

Namun kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Teman-teman Ubah Bareng telah membuktikan mereka tak roboh, mereka selalunya bangkit dan bangkit. Melawan tirani yang sewenang-wenang, termasuk kepada mantan aktifis yang kini sedang menjadi penggadai harga diri dengan murah.

Komentar