Penelitian Vaksin Nusantara Dilanjutkan, Namun Sekarang Berbasis Pelayanan

TILIK.ID — Vaksin Nusantara yang penelitiannya dihentikan kembali dilanjutkan dengan perubahan berbasis pelayanan sel dendritik. Penelitian itu dikembangkan RSAD Gatot Subroto dan mendapat dukungan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa.

Sel dendritik diorientasikan sebagai upaya meningkatkan imunitas tubuh untuk menghadapi pandemi Covid-19. Artinya hasil penelitian ini tidak akan diproduksi massal untuk melawan Covid-19.

Penelitian ini sudah dibuatkan MoU antara Menko PMK Muhajir Efendy, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Menkes Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala BPOM Penny K Lukito.

KASAD Andika Perkasa mengatakan, 0
penelitian berbasis pelayanan tersebut memanfaatkan fasilitas Cell Cure Center yang dimiliki oleh RSPAD Gatot Soebroto. Fasilitas akan mempermudah pelaksanaan penelitian.

“Saya berpikir bahwa penelitian ini adalah sesuatu yang sifatnya saintifik. Bagi saya sesuatu yang sangat mungkin didukung,” kata Jenderal TNI Andika Perkasa dalam siaran TNI AD diterima di Jakarta, Kamis.

Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa dukung penelitian Sel Dendritik

Menurut KASAD, Cell Cure Center merupakan fasilitas yang digunakan untuk memberikan pelayanan kepada individu yang sifatnya seperti immunotheraphy. Dapat pula digunakan kepada penderita kanker, diabetes melitus, lupus hingga yang memiliki permasalahan pada otak maupun otot.

BACA JUGA :  Luhut Menggila, Ibadah Pakai Kartu Vaksin

Dia mengakui, penelitian tersebut sebelumnya disebut sebagai Vaksin Nusantara, yang kemudian berubah menjadi penelitian berbasis pelayanan dengan sel dendritik untuk meningkatkan imunitas tubuh dalam menghadapi Covid-19.

Menko PMK Muhajir Efendy mengatakan, penelitian di RSPAD Gatot Soebroto merupakan upaya akhir, dan segera mendapatkan solusi. Dia pun berterima kasih kepada TNI Angkatan Darat yang berkenan untuk memberikan bantuan dan dukungan pada penelitian ini.

Penelitian dilakukan oleh RSPAD Gatot Soebroto itu ditujukan hanya untuk perorangan, hal tersebut berdasarkan hasil kesepahaman antara Kementerian Kesehatan RI, TNI Angkatan Darat, Badan POM dan Kemenko PMK.

Dalam kesepakatan tiga empat institusi itu, Badan POM berperan menyediakan pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan penelitian berbasis pelayanan sel dendritik itu.

“Ini adalah proses penelitian yang tidak akan masuk ke jalur registrasi Badan POM. Maka dari itu tidak akan diproduksi secara massal dan digunakan dalam suatu vaksinasi yang bersifat massal,” ujar Kepala BPOM Penny K Lukito.(lms)

Komentar