oleh

Srikandi Jakarta itu Bernama Premi Lasari

Geisz Chalifah

DIA bekerja dalam senyap, tak membawa kamera wartawan. Tak mewawancarai tunawisma di pinggir jalan, lalu menjadi drama Korea.

Dia kerjakan yang harus dikerjakan sesuai tupoksi. Dia selami masalah dan berfikir untuk mencari solusi dari masalah. Bukan mencari cara agar wajahnya tampil di media dan jadi perbincangan publik.

Srikandi Jakarta ini pernah menjadi Lurah Terbaik, Camat Terbaik.

Lahir di Pisangan Baru, Alumni SMA 61 Pondok Bambu. SMA-nya jelas, karena nggak lihat Monas cuma dari kalender. Oleh sebab itu dia faham Jakarta bukan hanya bermodal akun medsos tapi secara sosiogis dia menyelaminya.

Warga Jakarta beruntung memiliki Kepala Dinas Sosial yang memahami secara utuh warga daerah mana saja yang memerlukan bantuan. Karena peta itu ada di dalam kepalanya tanpa harus buka google yang itupun masih salah. Bagaimana bisa mengkritis Jakarta bila Gurun Sahara yang adanya di Afrika dikatakan di Arab. Mana pula orang-orang seperti itu faham tentang Tanah Tinggi Gang 12, mana pula mereka faham Lorong 101, mana pula mereka faham tentang Gang Mes, Gang Tembok, dsb.

Belum lagi beragam istilah, yang menjadi simbol-simbol pemberhentian transportasi di masa lalu, seperti Velbak, Panci, Bogor, Pal Meriem, dsbnya.

Jakarta kini dikelola dengan hati hingga bukan saja lansia dan kaum miskin, disabilitas, perempuan, anak-anak terlindungi, dan mendapat hak-haknya. Bahkan hewan terbangpun kini kembali memiliki tempat berhinggap di kota ini.

Komentar