oleh

Diadili Anak Muda Ancol: Regenerasi Adalah Keniscayaan

SENIN tanggal 21 Desember, sesuai waktu yang diminta, saya hadir di Cafe Hoax. Beberapa teman-teman muda di Ancol melalui Maruli ingin berdialog dengan saya tentang masa depan Ancol.

Saya menyanggupi dan tentu saja bersemangat karena bertemu anak-anak muda dengan kritisme mereka akan sangat menyenangkan.

Pada merekalah masa depan Ancol akan kemana arahnya ditentukan.
Pada merekalah regenerasi akan terjadi.
Merekalah yang antinya menjadi nakhoda Ancol dimasa yang akan datang. Karena regenerasi adalah keniscayaan yang tak bisa siapapun menolak walau dengan cara bagaimanapun.

Rata-ratanya mereka masih berumur 20-an keatas, tentu saja punya banyak hal berupa gagasan dan visi Ancol masa datang.

Saya menyimak berbagai pertanyaan dan menjawab yang saya bisa jawab namun demikian saya juga menyerahkan pada mereka sendiri beberapa pertanyaan yang punya relevansi kekinian yang berhubungan dengan kehidupan anak muda.

Setidaknya saya meyakini setiap zaman punya keunikan sendiri dan mereka adalah anak zaman yang tak mungkin saya mampu memahami secara menyeluruh zaman yang mereka sendiri sebagai pemiliknya.

Sebagaimana puisi Kahlil Gibran:

Puteramu bukanlah puteramu dia datang melalui kamu tapi bukan dari kamu.
Engkau bisa memberi tempat bagi raganya tapi tidak bagi jiwanya. Lantaran Jiwa mereka ada dimasa depan yang tak bisa kau gapai sekalipun dalam mimpi.

Anak-anak muda itu butuh ruang berekspresi butuh didengar butuh respek dan di ujungnya mereka menginginkan memiliki Pride  sebagai orang Ancol.

Saya menikmati forum yang dimoderatori oleh Sarah dengan berbagai pertanyaan. Saya juga menyimak beragam ide yang disampaikan dalam forum informal sesudah acara selesai. Beragam gagasan disuarakan.

Tentu saja tak hanya sampai disitu, kedepan saya meminta Divina dan kawan-kawan untuk membuat diskusi dua mingguan berthema: Forum Anak Gaul Ancol atau apalah namanya. Yang mendiskusikan beragam topik kekinian. baik itu makanan sehat yang sedang trend maupun isu lingkungan, dll.

Pada akhirnya dari semua itu saya berharap kita akan mendapat calon-calon pemimpin yang egaliter, punya visi yang kuat namun juga terbiasa dicallenge oleh orang lain dan yang tak kalah penting terbiasa bekerja dengan berkolaborasi.

Sebagai Senior (bahasa halus dari sudah tua), saya berusaha semaksimalnya menjadi pejembatan antara anak muda itu dengan gagasan-gagasannya untuk diangkat kepermukaan dan menjadi bahan dalam mengambil keputusan. Minimal mereka mendapat apresiasi, karena suara (ruang komunikasi) yang terbuka akan menguntungkan banyak pihak (perusahaan)

Geisz Chalifah
(Lagi belajar dengan mereka para pemilik zaman)

Komentar