oleh

22 Tahun FORHATI, Hanifah Husein Ajak Alumni Perkuat Ketahanan Keluarga

TILIK.id. Jakarta — Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) pada 12 Desember 2020 genap berusia 22 tahun. Syukuran memperingati hari jadinya sudah digelar secara sederhana di Sekretariat MN KAHMI yang juga dirangkaikan dengan seminar secara daring.

Program Tilik Bang Sem di Channel Salam Radio mengundang khusus Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI Hj Hanifah Husein. Dalam perbincangannya yang live di youtube Senin (14/12/2020) malam, Hanifa membeberkan orientasi program dan komitmen MN FORHATI untuk umat, Bangsa dan Negara.

Hanifah mengajak keluarga besar FORHATI mendoakan tokoh-tokoh pendiri organisasi ini yang dulu dengan karya-karyanya dan kontribusinya sehingga organisasi ini terus eksis sampai sekarang.

“Dalam usia 22 tahun ini, Forum Alumni HMI Wati yang didirikan para senior tentu saat ini saya mengajak mendoakan para pendiri alumni HMI Wati, semoga mereka atas karya karyanya atas insan cita Heni yang mereka perbuat sampai akhir hayatnya selalu menjadi pendamping bagi nya diomel akhir dan dikuburnya. Aamin,” kata Hanifah.

Dikatakan, 22 tahun adalah satu usia menjelang dewasa, dan di rumah besar ini telah banyak karya yang ditorehkan tetapi mungkin belum optimal dalam pandangan ideal karena sebetulnya alumni ini sudah besar ditempatnya masing-masing.

“Karena itu, kita ingin mengajak ke rumah besar ini untuk sama-sama mengejawantahkan insan cita HMI ini khususnya dalam pemberdayaan perempuan Indonesia,” ujarnya.

Para alumni HMI Wati ini sudah tersebar di banyak ladang profesi dan ladang amal. Potensi alumni yang berserakan itu belum tercover dalam sistem keorganisasian.

“Karena itu, pada periode kepengurusan kami periode 2017/2022 ini, kami ingin sekali membuat data centre. Mungkin alumni HMI pun belum teroptimalkan, apalagi PB HMI, berapa anggota sebetulnya itu saya rasa belum ada,” kata Hanifah.

Menurut Hanifah, karena kita hidup di era digital maka seharusnya hari ini menjadi tidak sulit untuk dilaksanakan membuat diigital center atau pusat data digital alumni HMI Wati.

“Alumni HMI, khususnya HMI Wati, banyak sekali di berbagai kehidupan tapi bagi saya hari ini masih melihat secara gamblang. Namun pemikiran-pemikiran mereka di senua sektor kehidupan, rasanya hari ini sudah bisa dibanggakan,” katanya.

Kedepan, kata Hanifah, dengan adanya data center, kemudian kita buttom up, mendata alumni-alumni yang ada di daerah, dari teman-teman daerah, insha Allah suaru hari kita punya data alumni yang ada di tentara, di kepolisian, kenudian angkatan laut, angkatan udara. Mungkin ada pilot pesawat terbang, pilot kapal selam, pilot sunmarine.

“Hari ini kita tidak terkejut lagi bahwa di perusahaan-perusahaan penerbangan sudah banyak perempuan jadi pilot, apalagi co pilot. Nah karena itu, yang pertama kita ingin meng-collect ini, dan kedua kita ingin memberikan bukti nyata bahwa alumni HMI Wati itu ada di berbagai sektor kehidupan,” katanya.

Itu juga membuktikan bahwa pembicaraan gender sudah tidak menarik lagi sebetulnya. HMI Wati sudah tidak ada lagi di sisi sana di sisi sini.

“Mungkin dari segi politik iya, tapi bagi saya, meski budaya patriaekis masih ada, saya yakin ke depan, dengan intelektual dan kemampuan meyakinkan masyarakat seharusnya persaingan itu tidak ada,” katanya.

Terkait tema Milad FORHATI yaitu Ketahanan Keluarga Kunci Menghadapi Pandemi dan Krisis Multidimensi, Hanifah menjelaskan bahwa ketahanan keluarga merupakan kunci dalam mengarungi kehidupan. Karena hari ini bukan hanya pandemi tapi sudah menjadi multiplier effect.

“Hari ini kita menghadapi krisis ekonomi, kemudian krisis dalam keluarga itu, krisis nilai, krisis pemahaman dan lain-lain. Kalo lah keluarga ini tidak menjadi benteng memang akhirnya tidak akan terjadi, misalnya anaknya uang maka dia membunuh ibunya,” kata Hanifah.

Kalau anak itu dididik dalam tatanan nilai di rumah, dia pasti tahu sorga itu di bawah tlapak kaki ibu. Kalau dia tau dalam Al Quran diajarkan tatanan nilai, dia pasti tau bagaimana membuat Tuhan tersenyum. Membuat Tuhan tersenyum adalah ketika membuat ibu kita tersenyum

“Oleh karena itu kami melihat bahwa tidak ada benteng utama dan pertama kecuali adalah ketahanan keluarga itu sendiri “ katanya.

Hanifah pun mengajak keluarga, khususnya di kalangan alumni HMI Wati untuk mendidik anak-anak. Mendidik itu bukan hanya tugas satu orang, tapi mendidik anak adalah tugas istri juga.

“Memang betul bahwa ibu adalah madrasatul di rumahnya. Tapi untuk menciptakan keseimbangan dalam rumah adalah tugas ayah dan ibu,” kara Hanifah.

Hanifah Husein mengingatkan pentingnya keutuhan keluarga, karena keutuhan keluarga akan menciptakan ketahanan keluarga, dan selanjutnya menciptakan ketahanan nasional dan ketahanan bangsa.

“Ini semua tergantung pada peran ayah dan ibu. Era digital tidak bisa kita tolak, Yang penting bagaimana kita mendampingi anak anak kita di era digital tersebut. Bagaimana mendampingi anak anak kita ketika belajar pake daring, tapi setelah itu kita tidak bisa membiarkan melihat konten konten yang lain yang justru berdampak negatif kepada anak kita,,” katanya.

Sekarang banyak sekali kasus dan itu sudah masuk Indonesia bagaimana konten/konten digital itu sudah mendorong anak anak muda itu menjadi penganut agnostik. Misslnya agama itu tidak penting, Tuhan itu mau ada atau tidak ada itu tidak penting. Yang penting manusia berbuat baik saja.

“Hal-hal inilah yang tidak kita kehendaki. Bahwa mengantisipasi itu maka cara-cara pendampingan itulah yang kita berharap ibu-ibu muda Ibu ibu muda ibu ibu yang cerdas bisa mendampingi anak anaknya. Karena kalau tidak, kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Sebab, bagaimanapun era digital sudah ada dalam genggaman kita,” kata Hanifah.

Namun di sisi lain, kata Hanifah, ada jomplang. Banyak yang belum menikmati era digital itu. Misalnya santri-santri Hanifah di Garut, tidak punya HP, tidak punya sinyal, karena di tempat dia tidak ada wifi, dan lain-lain.

“Itu tidak bisa kita pungkiri bahwa itu yang terjadi. Pemerataan juga adalah hal yang sangat penting dan yang kedua adalah kita juga tidak boleh menutup mata bahwa orangtua-orangtua yang ada sekarang banyak yang tidak berpendidikan, dan ini harus kita mencari jalan, mencari solusinya agar gap antara anak yang dilahirkan dengan anak yang bersekolah pada masa-masanya saya dengan anak yang ibunya tidak bersekolah, tidak jauh,” katanya.

Dia kembali mengajak alumni HMI Wati untuk secara cerdas mendampingi anak-anak di era digital yang meskipun jomplang, tidak merata, untuk menciptakan ketahanan yang baik. Hanifah mengaku miris, kejadian di Pandeglang dan terbaru di Nias karena faktor ekonomi membunuh tiga anaknya.

“Di Nias, masalah ekonomi hanya pemicu, namun faktor iman yang lemah yang membuat ibu membunuh anak-anaknya. Di sinilah pentingnya kunci dan peran agama di dalam rumah tangga,” katanya.

Karena itu, Hanifah mendorong khususnya alumni HMI Wati untuk mengejawantahkan lima insan cita. Jangan sampaii di sekitar kita terjadi kasus Pandeglang-Pandeglang lainnya, kasus-kasus Nias-Nias lainnya.

“Dalam hal ini kita harapkan alimni HMI Wati kembali memperkuat ketahanan keluarga untuk kemudian ketahanan nasional, bangsa dan negara. Sepeti dalam Quran, jagalah diri dan keluargamu,” katanya.

FORHATI nasional diakui telah banyak melakukan aksi-aksi sosial di semua daerah bencana di seluruh Indonesia. Seperti gempa di NTB, tsunami di Palu-Sigi-Donggala di Sulteng, tsunami di Tanjung Lesung Banten, longsor di Bogor dan Masamba.

Menurut Hanifah, aksi kemanusiaan menjadi program penting MN FORHATI sehingga dibentuk FORHATI Family Center. Bencana-bencana alam di mana pun selalu menimbulkan korban kaum perempuan dan anak-anak yang tidak sedikit.

“Tapi kami specifik. Kalau orang memberi pakaian bekas, kami memberikan pakaian dalam untuk laki-laki dan perempuan. Kalau orang memberikan popok untuk bayi, kami memberikan panpers untuk orang dewasa,” kata Hanifah.

Semua itu dilakukan sebagai wujud kepedulian FORHATI. Selanjutnya teman-teman di daerah diharapkan melanjutkan kerja-kerja sosial ini.

@Dan kepada pemangku kepentingan kita kirimkan pesan, bahwa terjadinya musibah, terjadinya bencana, itu karena ulah tangan-tangan manusia,” kata Hanifah Husein.(bmd)

Komentar