oleh

Selamat Ulang Tahun ke-22 FORHATI

TILIK.id, Jakarta — Forum Alumni HMI Wati (FORHATI) genap berusia 22 tahun. Organisasi perempuan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini menggelar syukuran secara sederhana dengan menerapkan protokol kesehatan di Sekretariat Jl Turi I No 14, Sabtu siang (12/12/2020).

Sebuah nasi tumpeng sederhana menandai syukuran. Usai sambutan-sambutan pemotongan tumpeng oleh Koodinator Presidium MN FORHATI Hj Hanifah Husein dan diserahkan kepada Koordinator Presidium MN KAHMI Sigit Pamungkas.

Syukuran dirangkaikan dengan webinar bertema “Ketahanan Keluarga Kunci Bertahan di Tengah Pandemi dan Krisis Multi Dimensi.” Syukuran dan webinar seluruh jajaran FORHATI seluruh Indonesia.

Sedangkan hadir di sekretariat antara lain Korpres MN KAHMI Sigit Pamungkas dan Koordinator Presidium MN FORHATI Hj Hanifah Husein dan seluruh jajaran pengurus seperti Hj Jamilah Abdul Gani, Hj Faizzah, Hj Kasmawati Kasim, serta junior dan senior FORHATI Gefarina Johan, Kamsani, dan Hj Lies Efendi.

Dalam webinar yang diikuti jajaran FORHATI seluruh Indonesia, tampil sebagai narasumber adalah Ustad Rofiuddin Hasbullah.

Pemberian potongan tumpeng MN FORHATI ke Korpres KAHMI Sigit Pamungkas. 

Dalam pidato Milad ke-22 dan pengantar webinarnya, Koodinator Presidium MN FORHATI Hj Hanifah Husein mengatakan, Hari ini FORHATI berusia 22 tahun yang didirikan oleh senior-senior alumni HMI Wati.

Organisasi ini didirikan karena waktu itu dianggap penting karena ini adalah rumah besar kami sabagai alumni HMI Wati untuk mengejawantahkan insan cita HMI.

“Insan cita HMI itu ada lima. Insan akademis nomor 1, insan pencipta kedua, isam pengabdi, insan berfafaskan Islam, dan kelima, ini yang paling berat yaitu insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT,” kata Hanifah Husein.

Menurut Hanifah Husein, insan cita HMI dan alumni HMI Wati ini adalah ciita-cita ideal dari proses pengkaderan. Rumusan insan cita ini diciptakan oleh pendahulu HMI.

“Jadi kalau kita mau mengungkit kembali kita bisa marah kita sama alumni. Berani banget berjanji,” kata Hanifah berseloroh.

Dikatakan, pada ulang tahun ke 22 FORHATI ini kami memilih tema yaitu Ketahanan Kunci bertahan Keluarga di Tengah Pandemi dan Krisis Multidimensi.

“Kita memilih tema ini karena realitas kehidupan sosial hari ini tidak hanya dihadapkan pada Pandemi global, tetapi juga jauh lebih luas yaitu krisis multidimensi,” katanya.

Pemberian cenderamata MN FORHATI ke narasumber Ustads Rofiuddin Hasbullah.

Kita sudah menghadapi fakta brutal di sekeliling kita. Mulai dari krisis kesehatan, krisis sosial, krisis ekonomi, krisis politik, krisis budaya, dan krisis ahlak. Krisis Multidimensi membawa kita ke lorong gelap yang panjang tak berujung.

“Krisis Multidimensi kita terima sebagai ujian Allah menimpa mental kita untuk melangkah optimis melintasi lorong kegelapan menuju cahaya terang benderang. Mina zurumati ilannur,” katanya.

Kita sedang menghadapi tantangan abad ke-21 yang nyata, mulai dari upaya menaklukkan Pandemi, membalik kemiskinan, mengelola sirkularitas, malayari trans humanisme, mengubah gaya hidup sampai merancang peradaban baru.

“Sebagai insan akademis insya Allah keluarga HMI wati yang mempunyai kemampuan intelktual memanusiakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan napas Islam, kita harus yakin dan optimis mampu menghadapi dan menjawab semua tantangan ini,” urai Hanifah Husein.

Sementara itu, Ustads Rofiuddin Hasbullah dalam paparannya menghadapi pandemi menekankan pada keimanan dan ketaqwaan pada Allah serta amal dan ibadah.

“Memang pandemi membuat kita samua membatasi diri. Nilai-nilai silaturahmi terbatas karena tidak jabat tangan, ketakutan cipika cipiki. Kumpul-kumpul dan beejamah pun dilarang, bahkan bisa ditangkap,” katanya.

Namun, kata Ustads Rofiuddin Hasbullah, bukan itu yang penting. Yang penting adalah keimanan kita pada Allah. Dengan ini kita selamat, dunia maupun akhirat.

Dalam sesi tanya jawab webinar, empat penanya, satu dari Palembang, satu dari Surabaya, dan dua dari Jakarta cukup membuat diskusi menjadi dinamis. Korupsi Bansos di tengah pandemi menbuat hak-hak masyarakat dirugikan.

Gefarina Johan, senior dan mantan Ketua FORHATI mengatakan kasalehan sosial belum membumi. FORHATI dengan kegiatan-kegiatan sosialnya cukup membantu.

“Namun keimanan itu kan kalau melihat sekitar ada yang susah sampai anaknya menderita mungkin karena lingkungan sosialnya tidak membantu,” kata Gefa.

Dia mengakui kegiatan sosial FORHATI sudah banyak membantu, menyentuh ke bawah. Namun kesalehan sosial itu bagaimana kemudian dari sisi keimanan menyentuh hal-hal yang terkait dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. (lms)

Komentar