Gempa 7,1 Guncang Venezuela dan 6,5 Landa Jepang

TILIK.ID — Venezuela dan Jepang dilanda gempa tektonik masing-masing magnitudo 7,1 dan 6,8. Gempa Venezuela terjadi pada Rabu sore waktu setempat, sedangkan gempa di Jepang terjadi Kamis dini hari WIB (25/6/2026). Otoritas Venezuela memberi peringatan tsunami.

Sedangkan gempa di Jepang menurut pantauan BMKG RI terjadi di wilayah di dekat pantai timur (Near East Coast) Honshu, Jepang, itu tidak berpotensi tsunami di Indonesia.

Di venezuela, menurut lembaga geologi Amerika Serikat USGS, episentrum gempa terletak di barat wilayah pesisir Moron, Venezuela, dengan kedalaman kurang lebih 10 kilometer.

Guncangan gempa terasa sangat kuat di Caracas, ibu kota Venezuela, di mana masyarakat berlarian keluar dari gedung-gedung tinggi untuk menyelamatkan diri.

Peringatan tsunami dikeluarkan Pusat Peringatan Tsunami Pasifik untuk wilayah pesisir Venezuela serta pulau-pulau Aruba, Bonaire, dan Curacao yang merupakan wilayah Belanda.

Peringatan tsunami juga diaktifkan untuk wilayah AS Puerto Rico dan Kepulauan Virgin, dengan otoritas setempat secara aktif memantau indikator gelombang pesisir untuk mendeteksi pergerakan gelombang tak biasa.

BACA JUGA :  Ultah ke-79 Tahun, Doa untuk Jusuf Kalla

Otoritas pertahanan sipil di Venezuela sudah dikerahkan ke wilayah terdampak paling parah di dekat pusat gempa untuk meninjau kerusakan infrastruktur.

Hingga saat ini, masih belum ada laporan terkait korban jiwa akibat gempa tersebut.

Untuk gempa Jepang, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan di Jakarta, Kamis, mengatakan peristiwa gempa bumi tektonik di wilayah lepas pantai Honshu tersebut terjadi pada pukul 05.30.23 WIB.

“Gempa bumi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,8 dengan episenter terletak pada koordinat 40,23° LU dan 142,09° BT,” katanya.

Wijayanto memaparkan pusat gempa bumi tersebut tepatnya berlokasi di laut pada jarak 27 kilometer arah timur Kuji, Jepang, dengan instrumen mencatat kedalaman hiposenter berada di 118 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah yang dipicu oleh adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng.

BACA JUGA :  Rektor UMI Disomasi Gegara Ikut Cawe-Cawe di Munaslub Ikatan Alumni

Lebih lanjut, kata dia, hasil analisis mekanisme sumber yang dilakukan oleh pihak BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tektonik ini memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Terkait dampak gempa tersebut, BMKG mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di wilayah pesisir, agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Masyarakat diminta memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi, situs web, telegram, maupun aplikasi seluler resmi yang telah terverifikasi,” ujar Wijayanto. |**

Komentar