oleh

Ketua Harian Partai Gerindra Dicecar Pertanyaan ‘Nakal’ Akbar Faizal

TILIK.id, Jakarta — Partai Gerindra memandang bahwa politik itu senantiasa bergerak dinamis. Bagi parpol yang didirikan Prabowo Subianto ini, pilpres 2024 masih bergerak dinamis. Saat ini tetap berhubungan dengan semua pihak.

Demikian salah satu jawaban Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Achmad dalam dialog dengan Direktur Nagara Institute Dr Akbar Faizal yang ditayangkan langsung oleh channel Akbar Faizal Uncensored, Senin malam.

Akbar Faizal dalam dialog itu bertindak sebagai host dalam sesi dialog dengan Wakil Ketua DPR RI itu. Akbar mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedikit nakal.

Misalnya, Partai Gerindra yang tiba-tiba berubah menjadi partai pendukung pemerintah. Padahal dua pilpres selalu memposisikan diri head to head dengan Jokowi.

Selain itu, Akbar juga mempertanyakan mengapa Sufmi Dasco Achmad yang menjadi Ketua Harian Partai Gerindra? Bukankah ada nama-nama lain yang juga kapabel seperti Fadli Zon, Edhi Prabowo, Achmad Muzani, dll?

Menjawab ini, Sufmi Dasco langsung mengatakan memang banyak yang bertanya juga. Namun jawabannya ada sama Pak Prabowo sebagai ketua dewan Pembina.

“Itu juga banyak yang tanya kenapa harus saya? Saya bilang tanya aja sama Pak Prabowo. Karena dalam kongres luar biasa kemarin diamanahkan ketua umum dan Ketua Dewan Pembina sebagai formatur tunggal, sehingga kewenangan untuk menyusun itu ada pada Pak Prabowo,” jawab Sufmi Dasco.

Dikatakan, pengurus Gerindra itu tegak lurus satu komando. Jadi kita tidak bertanya lagi. Begitu diperintah kita jalan. Menjadi ketua harian mari kita jalan.

Namun menurut Akbar Faizal, penunjukan Sufmi menjadi ketua harian tentu tidak sesederhana itu. Bahkan ada analisis mengatakan hasil kongres Partai Gerindra adalah kemenangan kelompok moderat mengalahkan kelompok ektrem.

Moderat itu, kata Akbar Faizal, adalah mereka yang fleksibel melihat realitas politik dibanding atau berhadapan dengan kelompok ekstrim. Artinya apakah Gerindra berubah melihat realitas politik, termasuk untuk 2024 nantinya?

“Saya juga bingung ya, dibilang kelompok extrem itu yang mana? Kalau dikatakan adalah mereka yang tidak ikut dalam pemerintahan, saya tetap berkomunikasi dengan mereka. Pak Prabowo juga cukup berhubungan misalnya dengan PA 212, saya tetap berkomunikasi dengan Ustadz Zainal Maarif untuk saling berbagi dengan situasi terkini,” kata Sufmi Dasco Achmad.

Untuk 2024, kata Sufmi Dasco, itu masih panjang. Hanya memang realitas sekarang kami membantu di pemerintahan, namun juga terus membangun hubungan dengan siapa saja.

“Sampai tahun 2024 nanti, akan kita lihat bagaiman-bagaimana, kan politik itu dimamis kan, Bang,” kata Sufmi Dasco.

Namun Akbar Faizal terus menukik pada analisis perubahan Partai Gerindra sabagai hasil kemenangan kubu moderat yang lalu.

“Saya kira tidak ada di Gerindra, kan kelihatan tidak ada apa-apa,” jawab Sufmi.

Namun Akbar melanjutkan bahwa memang terjadi perubahan dalam memandang realitas sehingga Gerindra akan menjadi soft nantinya. Bahkan ada yang menghubungkan partai ini akan bersama dengan PDIP.

“Saya kira begini kalau kita bicara 2024 dan dengan PDIP, kami sekarang kan mencoba bersinergi dengan partai-partai yang kemarin kita berhadapan ketika periode lalu. Misalnya dengan PDB kami dalam Pilkada di banyak tempat kita berkoalisi,” katanya.

“Tapi kami juga koalisi dengan Partai NasDem, Golkar, itu juga kita berkomunikasi bagus di Pilkada Pilkada juga berkoalosi. Sehingga kalau kita ngomong 2024 ya nanti kita lihat bisa dengan PDIP atau dengan yang lain,” kata Sufmi.

Akbar makin menjurus dengan pertanyaan, benarkah nanti Pak Prabowo akan berpasangan dengan Puan Maharani dari PDIP? Tingkat kebenarannya seperti apa?

“Begini kalo di kongres Luar biasa kemarin itu kan hampir. Bukan hampir ya, tapi semua memberi dukungan kepada pak Prabowo sebagai ketua dewan pembina sekaligus ketua umum. Itu kan ditambah satu poin yaitu dukungan untuk maju kembali sebagai calon presiden 2024,” kata Sufmi.

Cuma, tambah Sufmi, Pak Prabowo menyampaikan jawaban langsung, bahwa karena ini masih lama, maka nanti akan diputuskan satu tahun sebelum 2024.

Akbar memancing lagi dengan mengatakan bahwa Prabowo dengan PDIP mesra banget sekarang. Lalu bagaimana dengan dua nama yang dulu dekat dengan Prabowo yaitu Sandiaga Uno dan Anies Baswedan.

“Ya sejauh ini kita kan komunikasi baik semua. Pak Sandi Akan saya panggil sebagai bro Sandi juga masuk di struktur wakil ketua dewan pembina Gerindra, sehingga hitung hitungan eskalasi 2024, karena politik itu dinamis bang, jadi nanti kita lihat lah. Kita kan komunikasi selalu baik. Dengan Pak Anies baik, tidak berhenti. Bahkan Bro Sandi barangkali setiap seminggu sekali ketemu,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, apalagi Sandiaga Uno masih dalam struktur Dewan Pembina Partai Gerindra, Akbar bertanya berarti masih ada peluang Anies atau Sandi, tanpa harus Prabowo kan?

“Wah kalau itu kita susah jawab. Karena politik kan dinamis,” singkat Sufmi Dasco Ahmad.

Sufmi juga seperti menjawab sumir ketika ditanya apa tidak khawatir jika Anies atau Sandiaga dipinang partai lain dan mengusungnya di Pilpres 2024 nanti?

“Ya kembali lagi bahwa politik itu dinamis. Tidak bisa kita dipastikan sekarang, bahwa Prabowo harga mati. Saya kira situasinya belum matang untuk memutuskan,” katanya. (lms)

Komentar