Pemimpin Sejati Bukan ‘Pemimpin Kelontong’


by Bang Sém


PETAKA
dapat menghadirkan atau menghancurkan seotang pemimpin. Pemimpin yang saya maksudkan dalam artikel ini masing-masing: pemimpin sejati (the real leader) dan pemimpin kelontong (the kitsch leader).

Pemimpin sejati sungguh seorang yang dengan keilmuan, pengetahuan, dan pengalamanya hadir di tengah rakyat sebagai solusi. Seorang yang dengan integritasnya menjadi suluh bagi rakyat dalam menelusuri lorong panjang yang gelap menuju cahaya.

Pemimpin sejati tak pernah lelah bergerak bersama dan berinteraksi dengan rakyat.

Akan halnya pemimpin kelontong adalah petinggi yang dikemas dengan strategi rekacitra (image engineering) seolah-olah merupakan seorang pemimpin.

‘Pemimpin Kelontong’ selalu menampakkan sosok aslinya dengan lack of leadership (kepemimpinan yang lemah) dan hadir sebagai aktor yang sangat bergantung pada skenario, sutradara, dan asisten sutradara.

Zara Abrams (2020) – jurnalis sains – kolomnis lepas berbasis ilmu neuroscience dan science communication and journalism dari University Southern California — menyebut, petaka — seperti pandemi Covid 19 — menghadapkan pemimpin pada cabaran (tantangan) dan menguji mereka melalui proses komunikasi yang dilakukannya.

Pemimpin sejati mampu menyampaikan informasi kepada rakyat dan berhasil mengurangi kegundahan atau kerisauan dengan menyemai dan merawat optimisme nyata untuk memulai kembali kehidupan sehari-hari.

Pemimpin sejati mampu mengelola dirinya dan kepemimpinannya mengelola efek sekunder dari gangguan sosial dan ekonomi yang menerjang dan menghimpit.

BACA JUGA :  Teror Kobra Di Banten Adalah Serangan Terhadap Demokrasi

Sebaliknya, para pemimpin kelontong berkomunikasi dengan buruk, tidak memberikan informasi yang dapat dipercaya, dan gagal menepati janji.

Strategi komunikasi yang bertumpu pada teknik dan teknis kemasan yang mereka lakukan, untuk memelihara dan mempertahankan citra (terutama image engineering) di atas pola intuitive reason, justru memberi kesan buruk – negatif dan kian menampakkan dirinya sebagai petinggi, bukan pemimpin yang sesungguhnya.

Abrams mengemukakan, penelitian dan kepakaran psikolog yang telah mempelajari kepemimpinan krisis, memberikan isyarat kepada kita, bahwa pemimpin sejati berkomunikasi secara efektif dan belajar dari kelemahannya, serta siap berjaya (sukses).

Sebaliknya, pemimpin kelontong, berusaha menyembunyikan keyakinan dirinya mengatasi masalah dan bimbang, dan memelihara kegaduhan untuk menutupi kelemahannya.

Sadar dan tak sadar, para pemimpin kelontong yang membiarkan para pengekornya melakukan aksi-aksi komunikasi brutal — menebar kebencian, bully, hoaks, pemutar-balikan fakta, supra defensif, dan sentak sengor, justru sedang menciptakan bahaya bagi dirinya.

Lantas, membuat jarak dan kedekatan palsu, yang perlahan-lahan mengasingkan dirinya dengan para konstituennya.

Pemimpin sejati mendekati dan sublim bersama rakyat. Pemimpin kelontong ‘mendekati’ (kian ‘dekat’ kian berjarak) rakyat dan beroleh kedekatan palsu (artificial proximities) juga dari rakyat.
Pendekatan dan ‘kedekatan’ yang dilakukan pemimpin kelontong, hanya tampak sebagai tontonan, semacam gelaran dalam adegan-adegan sandiwara belaka.

Pasalnya? Meminjam pendapat Ronald Riggio — guru besar ilmu kepemimpinan psikologi organisasi di Claremont McKenna College -California — para pemimpin sejati, menyadari bahwa ketika krisis melanda, tidak berpuas diri dan berpikir bahwa semuanya akan berjalan normal.

BACA JUGA :  Jakarta International Stadium dan Mereka yang Tak Terlihat Kamera

Pemimpin sejati terus menerus memanfaatkan ruang dan waktunya untuk mempersiapkan cara (the way of solution) atas beragam masalah yang menyeruak bersamaan, dan mengeksekusi kebijakan-kebijakan yang mengatasi masalah.

Sebaliknya, pemimpin kelontong, lebih banyak memproduksi alasan-alasan (reason) yang justru mengembang-biakkan masalah.

Pemimpin sejati hadir dengan komunikasi yang jelas dan dapat dipercaya.

Praktik kepemimpinannya, bertumpu pada transparansi, kejujuran, kebertanggungjawaban, simpati, empati, apresiasi, respek dan kecintaan sejati kepada rakyatnya.

Pemimpin sejati, menurut Abrams, berkomunikasi dengan baik, dimulai dengan memahami rakyatnya, tak segan berdialog dengan para ahli dan kemampuan menganalisis data untuk menjawab persoalan rakyat secara akurat.

Ia, seperti kata Baruch Fischhoff, guru besar kebijakan publik di Carnegie Mellon University, senantiasa menguji semua aksi kebijakan dan pesan yang disampaikannya kepada rakyat, untuk memastikan pesan tersebut tidak membingungkan orang.

Bahkan, ia menulis sendiri pesan yang hendak disampaikannya (gagasan, narasi, aksi) dan mengkaji secara mendalam feed back (masukan) dari rakyat bersama tim kepemimpinannya dalam organisasi.

Dengan begitu, pemimpin sejati, seperti ungkap psikolog Jeremy Hunter – profesor praktik dan direktur pendiri The Executive Mind Leadership Institute – the Drucker School of Management at Claremont Graduate University, California – seperti yang dikutip Abrams, menempatkan transparansi total sebagai sesuatu yang sangat penting dalam mengatasi kritis.

BACA JUGA :  Refleksi 77 Tahun Merdeka: Anies Tak Sekadar Maju Pilpres, Tapi Bagaimana Memerintah dengan Baik

Pemimpin sejati, paham betul, menahan (apalagi menyembunyikan) informasi (termasuk informasi numerik dalam statistik), pada dasarnya menembak diri sendiri karena itu menimbulkan ketidakpercayaan dan ketidakpastian.

Meski menyadari, bahwa tak sedikit pengikut dan konstituennya mengalami kesulitan memahami angka atau melakukan matematika mental, pemimpin sejati tidak harus menghindari berbagi informasi numerik, kata Ellen Peters, psikolog dan direktur Pusat Penelitian Komunikasi Sains di Sekolah Jurnalisme dan Komunikasi Universitas Oregon.

Kemauan dan kemampuan mengelola komunikasi dengan transparansi (kejelasan) total, menjadi bagian penting pemimpin sejati dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya menciptakan nilai. Karena pada nilai itulah integritas dibangun, keterpaduan kolaborasi dan sinergi dikuatkan, dan kebersatuan – integralisme — dihidupkan untuk menghidupkan dan mengembangkan optimisme.

Di sini, pemimpin sejati dan rakyat saling menguatkan dalam melayari dan melintasi krisis.

Pengalaman bersama inilah yang kemudian akan menjadi modal utama bagi seorang pemimpin sejati untuk mengemban amanah rakyat lebih besar lagi.

Melihat kepemimpinan Anies Rasyid Baswedan selama hampir lima tahun terakhir memimpin Jakarta – dengan segala dinamikanya, termasuk bagaimana dia menyikapi segala lontaran bully, hoax dan fitnah, menunjukkan dirinya sebagai pemimpin sejati. Bukan pemimpin kelontong. |


Artikel ini merupakan pendapat pribadi

Komentar