M. Kece Virus Kece

Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

SURABAYA 6 Pebruari 1918. Ribuan umat muslim tumpah ruah. Hari itu digelar pertemuan akbar yang dimotori Serikat Islam-Cokroaminoto, kulminasi kemarahan umat atas penistaan terhadap Islam-Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya, Abikusno Cokrosujoso melalui Koran SI, Oetoesan Hindia meminta Raja Surakarta, Susuhunan Pakubuwono X, juga Pemerintah Kolonial di Batavia agar menghukum Marthodarsono, Hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Djawi Hiswara. Pemicunya, sebuah tulisan berjudul Pertjakapan Marto dan Djoyo yang dimuat Djawi Hiswara , 11 Januari 1918. Koran itu bermarkas di Surakarta. Dalam Pertjakapan dimaksud dinyatakan Goesti Kanjeng Nabi Rasul minum ciu A.V.H dan minum opium.

Pertemuan akbar protes umat itu melahirkan Tentara Kanjeng Nabi Muhammmad guna mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan kaum muslimin, serta berhasil menghimpun dana tidak kurang dari 3.000 gulden. Isu penistaan itu menyedot kemarahan umat Islam dan perhatian publik selama beberapa bulan.

Para ahli sejarah menganalisis peristiwa itu seturut  landscape politik jaman itu: politik Pemerintah Kolonial terkait Volksraad (Dewan Rakyat), relasi antar kekuatan politik, khususnya Budi Utomo-SI, dinamika-konflik internal SI, …. Pemerintah Kolonial juga kawatir isu itu berkembang liar dan kontraproduktif bagi kepentingannya.

BACA JUGA :  Menakar Potensi Anies Baswedan Lolos Presidential Threshold 20 Persen

Beberapa tahun terakhir ini, acap berulang kasus penistaan agama, khususnya terhadap agama Islam. Dan, video M. Kece kasus terbaru.

M. Kece bikin gaduh melalui video unggahannya yang diduga kuat menista Islam dan Nabi Muhammad SAW. M. Kece sungguh kece, karena dengan kengawurannya mencaci kehormatan agama Islam.

Tampaknya M. Kece bukan orang Jawa. Dalam bahasa Jawa, kece berarti memincingkan sebelah mata. Adakalanya disamakan dengan picek: salah satu biji mata tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi, penggunaan kata itu tidak selalu berarti atau menunjuk pada kondisi fisik organ mata. Sering kali ilustratif untuk menggambarkan sikap tidak peduli terhadap yang benar, atau tidak mau melihat kebenaran. Dan, pura-pura tidak melihat ada kesalahan, oleh orang Jawa diumpat: micek.

MUI telah menyampaikan pernyataan protes dan meminta pelaku segera ditangkap. Juga Muhammadiyah. PBNU akan mengadukan M. Kece ke Polisi. Kelakuan Kece sebenarnya sudah cukup lama. Video-videonya tentu beredar luas. Tapi, ia tak segera ditangkap.

Para ahli hukum pidana, telah menunjukkan bukti juga opini hukum yang meyakinkan, bahwa ulah Kece sudah memenuhi unsur – ketentuan tindak pidana penodaan agama, ujaran kebencian, memecah belah persatuan, ……

BACA JUGA :  Bukan Nambah Saham Bir, Anies Mau Jual

Apakah sesungguhnya di balik ulah Kece dalam tata rias politik Indonesia dewasa ini? Mengapa umat Islam tidak menggelar aksi protes dengan mengerahkan massa? Apakah sensitifitas umat terhadap penodaan kehormatan Islam sudah menipis?

Wabah- PPKM tentu menjadi alasan pokok. Selain, boleh jadi, pengaruh perkembangan politik international: kemenangan Taliban. Di Indonesia, Taliban sudah terlanjur distigmatisasi radikal, ekstrimis, bahkan teroris. Cap Taliban efektif digunakan untuk menghalau sejumlah pegawai KPK yang dinilai berdedikasi dalam memberantas korupsi. Banyak pihak yang melihat kemenagan Taliban dengan kaca mata kece. Lalu, mewanti-wanti agar mewaspadai pengaruhnya terhadap dinamika politik nasional. Maksudnya, sangat mungkin terdapat kelompok Islam radikal yang ‘semangat tempurnya’ sedang dipompa oleh efek kemenangan Taliban.

Umat Islam tampaknya mengendus fenomena Kece ini seperti halnya para BuzzeRp, yang memang dipelihara kekuasaan. Dapat dimengerti, karena dewasa ini, Islam memang tampak diposisikan dalam jarak tembak. Intens dipancing melalui serangkaian ulah BPIP, perlakuan terhadap sejumlah ulama, penerapan hukum kekuasaan kepada HRS, FPI. Sementara pembantaian 6 orang pengawal HRS nyaris sepi.

BACA JUGA :  NEGERI SANTET

Boleh jadi, Kece dan sejenisnya merupakan permainan pihak-pihak tertentu untuk tujuan kekuasaan tertentu dengan cara memukul umat Islam. Sehingga umat Islam menahan diri untuk tidak melakukan aksi protes. Umat Islam mawas, agar terhindar dari giringan menuju ‘ladang pembantaian’.

Entahlah, yang pasti, sebrengsek-brengseknya Orba, tak ada ruang bagi Kece-Kece itu. Orba amat peka dan bertindak tegas terhadap setiap hal SARA yang merusak persatuan. Orba memang melakukan banyak cara untuk memreteli demokrasi, juga promosi kekerasan, agar terus berkuasa, tapi dengan tetap menjaga persatuan.

Tampaknya, dewasa ini, itulah perbedaannya!

Komentar