oleh

Tanggulangi Bencana Sulawesi Barat Berbasis Kearifan dan Kecerdasan lokal


catatan Bang Sèm


Alawe membolong di nawang, nawang membolong di alawe, alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe, alawe membolong di atuang, atuang membolong di alawe.


GEMPA
bumi yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat Kamis 14 Januari pukul 12.35 dengan 5,9 skala richter, dan Jum’at 15 Januari 2021 pukul 00.28 dengan 6,2 skala richter adalah gempa pembuka dan gempa utama, yang disusul dengan gempa ikutan sebanyak 32 kali, menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono (17/1/21) termasuk kategori shallow crustal earthquake.

Gempa kuat di kerak dangkal, yang biasanya diikuti oleh tak kurang 100 gempa susulan. Artinya seluruh kalangan perlu tetap waspada merespon rima-rima gempa yang bisa terjadi kapan saja.

Dalam situasi demikian, apapun karakter dan jenis gempanya, yang harus dilakukan adalah melakukan berlapis cara menanggulangi korban manusia. Diperlukan daya dan energi tambahan untuk lapisan bala bantuan, sambil berharap, bahwa gempa di Majene ini, sudah tuntas.

Sesuai filosofi yang dikutip di awal artikel ini, adalah kesadaran, bahwa penyelamatan manusia menjadi utama dan prioritas. Dengan cara ini, segala berlaku beberapa prinsip dasar.

Pertama, karena manusia merupakan bagian dari semesta yang menjadi wilayah kekuasaan Tuhan, selain gerakan aksi fisik penyelamatan korban disertai aksi kesehatan dan sosial, setarikan nafas juga harus dilakukan aksi religio-spiritualis untuk menciptakan ketenangan dan menghidupkan kembali harapan bagi korban. Khasnya untuk mengatasi himpitan psikis;

Kedua, karena manusia adalah bagian dari budaya dan budaya tak terlepas dari diri manusia, maka aksi sosio budaya (termasuk aksi kemasyarakatan) dalam bentuk penggalangan dana bantuan di atas prinsip (kesepahaman) assamaturuanna to Mandar. Yakni: akuntabilitas (mikke’de’ di attonganan); gotong royong – solidaritas (mippalingutti’ di assamaturuang); dan integralitas (missulekka di ammesang) dalam wujud kolaborasi, sinergi, koordinasi, dan sinkronisasi untuk mengatasi setiap prioritas masalah di lapangan;

Ketiga, karena manusia merupakan bagian dari individualitas dan personalitasnya, maka pendataan atas setiap korban — yang selamat, yang harus dirawat dan wafat — mesti jelas dan jernih. Pendataan ini diperlukan untuk kepentingan recovery ke depan dengan prioritas utama pada manusia – rakyat, sebagai pertimbangan pembangunan sentra-sentra keselamatan sosio – ekonomi pertama (secara darurat) sebelum melangkah ke arah rehabilitasi kemudian.

Mengacu pada kecerdasan dan kearifan lokal budaya Mandar, tiga hal utama harus dilakukan. Yakni: menolong siapa saja yang harus ditolong (korban), siapapun dia, sesuai dengan komitmen ingga’e mie’ mattulung to parallu ritulung, iya mo tu’u pappasanna to diolo’ta. Hindari segala bentuk pemanfaatan situasi untuk kepentingan pencitraan.

Lantas, lakukan penguatan jaringan domestik, nasional dan internasional (melalui diaspora bugis – mandar). Antara lain dengan menghidupkan solioditas dan solidaritas serempak: mu’a cappu’ di sayammu siri’mu mbei, mua’ siri’ balala tomi diang dua-a rakke’mu lao di Puang.
Setarikan nafas, menyiapkan akses korban kepada modal untuk mencari nafkah dalam situasi darurat, sesuai dengan prinsip maui pole lembong tallu sitonda talippurus, sumombal toa’ ma’itai dalle’iya hallal.

Semua ini harus dilakukan, untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang ‘menjual penderitaan,’ karena leluhur melarang keras hal itu: Sara dao pappetandoang panra’ di tau laeng, andiang tu’u melo’na dipanrai’i (Jangan menyodorkan kesusahan kepada siapapun, karena tak ada orang yang mau dibagi kesusahan).

Di sini, pemerintah via Kementerian Sosial kudu mafhum mukhallafah tentang hal ini. Bergerak cepat, sekaligus melakukan aksi preventif mencegah kecenderungan ‘memelihara’ penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Beranjak dari pandangan di atas, bersama Badan Penananggulangan Bencana (Pusat maupun Daerah), Palang Merah Indonesia, berbagai lembaga relawan dan perkumpulan atau organisasi kemasyarakatan, secara kolektif kita hidupkan semangat fastabiqul khairat (berlomba dalam kebajikan) di atas landasan dedikasi tulus pada kemanusiaan dan kebudayaan yang teruji kuat oleh adanya musibah ini.


Cegah dan hindari segala bentuk pemanfaatan musibah untuk kepentingan politik praktis (politisasi). Persoalan kemanusiaan tak akan menunggu waktu agenda seremoni. Kita perlu belajar banyak pada pengalaman baik penanggulangan bencana di Aceh, Yogyakarta, Palu, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Pun demikian halnya dengan bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Kalimantan Selatan, perlu berpijak di atas kearifan dan kecerdasan lokal. Tentu, dengan memanfaatkan segala bentuk produk budaya kini, termasuk sistem dan cara penyelesaian masalah.

Kita optimistis, bencana di Sulawesi Barat dan daerah lain bisa tertanggulangi cepat, dan optimum. La tahouf, wa la tahzan, Allah ma anaa. Ambil hikmah dari peristiwa ini. Di balik kesusahan selalu ada inspirasi, selesaikan dahulu masalah yang sedang dihadapi, kelak lanjutkan dengan ikhtiar berikutnya (termasuk recovery dan rehabilitasi infrastruktur), disertai aksi serempak pertobatan nasional !

Komentar