oleh

Jurnalis Cendekia Alfian Mujani Melangkah ke Gerbang Husnul Khatimah


Catatan Duka Bang Sèm

 

KABAR duka selalu singgah setiap hari. Beberapa di antaranya bikin saya terkatup mulut. Rabu, 13 Januari 2021, petang ketika tertidur di sofa rehat, anak saya — Khairil — yang sedang ke rumah, mengusik saya.

“Yah.. bangun… Om Alfian wafat,” serunya.

Saya terperangah beberapa saat.
Saya terkejut dan tak percaya. Malam hari, saya kontak ‘anak ‘ saya Riana Dewi. Kemudian para kerabat dan sahabat meyakinkan saya.

Zuzy Anna – Guru Besar Ilmu Perikanan dan Kelautan, Direktur SDG’s Universitas Padjadjaran, Bandung dan Clara Shinta Rendra mengonfirmasi.

Semuanya meyakinkan saya, Alfian Mujani telah berpulang ke haribaan Ilahi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Alfian Mujani adalah jurnalis cendekia sekaligus cerdik dan bijak dalam menyikapi perubahan era yang sangat cepat. Dalam banyak hal saya menemukan dinamika sikap profesi saya di masa seusia dia.

Alfian salah seorang putera seorang Kyai di Pandeglang yang sangat terkenal dengan solusinya mengatasi perbedaan mazhab di masa lalu. Allahyarham ayahnya, menempuh jalan musyawarah yang unik pada masanya, di wilayah Carita. Memanifestasikan hakikat wasathiyah yang memainkan peran alim ulama – cerdik pandai sebagai medium mencari dan menemukan titik temu.

Kami bercerita tentang hal itu sekaligus saling buka ‘tirai’ ihwal keluarga saat dia bersama Nani Wijaya menangani Jawa Pos Biro Jakarta di Jalan Prapanca – Kebayoran Baru. Al, begitu biasa saya panggil, sempat kesal karena saya tak jadi gabung bersamanya. Saya beroleh pekerjaan di tempat lain, di negeri jiran Malaysia.

Dari beberapa kolega, saya mengikuti perkembangannya. Termasuk ketika dia untuk pertama kalinya menerbitkan Radar Bogor (kabarnya merupakan cikal bakal jaringan koran Radar di Indonesia).

Tahun 2007, ketika saya diminta menangani Harian Jurnal Nasional yang kala itu cenderung sudah kadung distigma sebagai koran partisan, saya jumpa Budi Winarno di redaksi dan Alfian di divisi pemasaran dan iklan.

Menghadapi kondisi manajemen dan besarnya bobot politik partisan, saya lebih banyak diskusi dengan kedua ‘adik’ ini. Khasnya untuk memandu kembali koran itu sesuai dengan prinsip bisnis media yang dicitakan oleh para pemegang saham, terutama berkaitan dengan bisnis.

Alm. Alfian Mujani (kiri) dan Refly Harun.

Saya tak sanggup mengubah banyak hal, terutama konten, karenanya harus merayu secara intens jurnalis andal yang lebih piawai, Asro Kamal Rokan untuk memimpin redaksi.

Saya minta Al untuk menggagas alternatif sumber income dengan menerbitkan koran lokal yang orientasi bisnisnya lebih dominan. Atas persetujuan komisaris Al fokus pada penerbitan Jurnal Bogor dengan lembaran suplemen khas Jurnal Depok dan Jurnal Sukabumi. Saya berjaga-jaga segala kemungkinan politcking yang bakal terjadi.

Saya percayakan Al membentuk timnya sendiri, sesuai prinsip saya: berikan wewenang kepada siapa saja yang kita berikan tugas dan tanggungjawab.
Al yang selalu salat tepat waktu dan punya cara menemukan dan memberi solusi, adalah pekerja cerdas yang tak henti belajar keras memperkuat keikhlasannya menjalankan hidup sebagai profesional. Meski wataknya seorang pemberani yang ‘sungguh berani hidup,’ dia tak suka konflik.

Dalam banyak hal dia lebih memilih ‘mengalah’ ketika terjadi konflik kepentingan, karena menurutnya, sekecil apapun konflik, akan berdampak pada organisasi bisnis keseluruhan. Alfian banyak membantu saya mengendalikan diri.

“Kalo abang sakit, paling banter orang lain hanya mendo’akan,” katanya.

“Integritas diri kita gak bakal melorot, karena kita mengalah bang..,” katanya suatu ketika.

Al berhenti, kemudian menggarap beberapa media di beberapa kota, sambil melanjutkan program magisternya di Universitas Muhammadiyah Solo, almamaternya. Dia harus meninggalkan apa yang dia ‘hidupkan’ bukan karena hal-hal prinsip profesional.

Sebagai ‘adik’ dia tak pernah abai ambil peduli pada diri saya, terutama ketika saya sakit. Hampir setiap akhir pekan dia komunikasi. Dia gembira melihat saya lebih ringan menjalani hidup.

Ketika saya mengalami kecelakaan lalu lintas di Indramayu dengan kondisi kendaraan yang remuk, dia datang menghibur.

“Nanti Allah ganti bang yang lebih nyaman, bang..,” tukasnya sambil menunjuk ke arah langit di jalan tol Jagorawi, dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta, usai diskusi Peraturan Daerah tentang Larangan Merokok di kota Bogor.

“Rejeki abang ada di situ dan seluas langit, itu..,” ujarnya sambil terkekeh.

Ketika istri saya wafat, Al sedang di Solo. Dia kabari semua teman di Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang. Beberapa kali saya ketemuan. “Abang hidup enjoy aja sekarang, semua anak, ‘anak,’ adik, dan ‘adik’ tak berkurang sayang dan hormatnya kepada abang. Saya hanya minta abang jangan berhenti kreatif dan menulis, dalam keadaan apapun,” ujarnya.

Mei 2020 dia kontak saya, ngobrol lama di telepon, tentang Kota Mandiri. “Abang coba elaborasi imagineering dan policy design yang tepat untuk itu,” ujarnya ketika itu. Kami sepakat melakukannya dengan pendekatan profesional.

Putera Mandalawangi – Pandeglang ini ternyata sudah bekerja di perusahaan properti dan Wakil Sekjend DPP REI. Allahyarham yang sangat mengasihi ayah, ibu, istri, anak dan cucunya ini, fokus pada orientasi budaya kota mandiri termasuk ikutannya (sosial, ekonomi, dan politik).

Lima hari lalu, saya lihat akun facebooknya, dia di rumah sakit dan ‘mohon do’a’ lewat statusnya. Saya respon, dia merespon balik.

Alfian adalah satu dari beberapa ‘cermin keikhlasan hidup’ bagi saya. Allah lebih menyayanginya. Nanomonster Covid-19 yang terlambat ditangani menjadi lantaran kepulangannya ke keabadiannya. Alfian wafat, pas pada hari, ketika vaksinasi yang masih diragukan banyak orang, dimulai.

Allahyarham Alfian Mujani, insya Allah husnul khatimah.. Saya meyakini, allahyarham, syahid di jalan kebajikan yang terus ditelusurinya.

Do’a orang banyak yang merasakan kebaikan dan kebajikannya, mengiring kepulangannya di senja hari.. di waktu yang pendek bilangannya tapi banyak maknanya. |

Komentar