oleh

Cermin Retak 2020

n. syamsuddin ch. haesy

AKALsehat dan akalbudi telah tumbang, meski masih menyisakan bongkah di sepanjang 2020.

Virus corona di Wuhan, China, yang kemudian menjadi pandemi global dan mendapat nama populer Covid-19, sejak bulan Maret telah mengubah banyak hal dalam kehidupan keseharian kita.

Tak hanya itu. Nanomonster Covid-19 yang membawa berbagai fakta brutal di lapangan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan bahkan agama telah menelanjangi kita sebagai manusia nihilis yang tak pernah tahu diri.

Meski sudah ratusan anak bangsa, mulai dari petinggi (di lingkungan pemerintahan maupun akademik), saintis, sampai masyarakat amah, telah direnggut nyawanya, sehingga kita mengalami krisis tanah pemakaman, tetap saja kita belum pandai membaca hikmah di balik peristiwa.

Harkat keberadaan insani sebagai sesempurna makhluk telah berubah menjadi khayawan an nathiq, hewan yang berakal. Dalam kehidupan sehari-hari, melalui berbagai saluran media massa, kita menyaksikan dengan seksama, manusia tinggal selongsong yang ditinggalkan jiwa.

Kebersihan tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah sebagai indikator manusia yang religius, manusiawi, adil, dan beradab, yang diciptakan Tuhan berbeda-beda untuk bersinergi, berkolaborasi, berintegrasi untuk bersatu dalam kebangsaan, telah terkontaminasi oleh syahwat berkuasa di lapangan politik, ekonomi, dan sosial.

Realitas sosial menunjukkan bagaimana polarisasi secara ekstrem terjadi, sehingga daya kecerdasan dan kearifan untuk memahami demokrasi berhikmah sebagai bekal untuk bermusyawarah, tak cukup dipahami dengan baik. Akibatnya, keadilan sosial untuk seluruh umat – rakyat, masih tersimpan dalam angan-angan, asa, dan bahkan bualan retoris para petinggi.

Nanomonster Covid-19 telah mempertontonkan dengan jelas, bahwa kebiasaan mengemas diri untuk selalu terkesan positif, kini menjadi ironi pahit. Karena kosakata ‘negatif’ menjadi sesuatu yang utama dan diburu siapa saja.

Basa-basi hari kemarin dengan jabat tangan seolah-olah erat, cipika-cipiki, dekapan, telah terkuak kepalsuannya, karena kini, kekariban dan kehangatan ‘seolah-olah’ mendatangkan bencana. Karena siapa saja, tidak lagi menjadi rahmat bagi dirinya dan orang lain, melainkan menjadi petaka yang harus dihindari.

Sistem ekonomi sosialisme mondial dan kapitalisme global, tertelanjangi, sehingga tak bisa menyembunyikan kerapuhannya. Penguasaan sumberdaya alam secara berlebihan tanpa kesadaran untuk mematuhi kewajiban insani sebagai rahmat atas alam, mati suri. Tertikam perburuan rente berlebihan yang menguatkan struktur kemiskinan yang kian menampakkan sosoknya.

Konveksitas ekonomi menampakkan sosoknya dengan utang luar negeri yang terus bertambah dan pasa saatnya mendorong kita ke sudut jalan buntu ironi negara kaya sumberdaya alam dengan penduduk yang mengalami kemiskinan persiten.

Celakanya, realitas dan berbagai fakta brutal, seperti resesi ekonomi, ketidak-adilan, dehumanitas, dan syahwat politik yang diliputi was-was dan nafsi-nafsi, mendorong aksi politik represif atas nama pluralisme sambil meninggalkan norma realitas hidup suatu bangsa yang pluralis dan multikultural.

Untuk dan atas nama kecurigaan yang lebai, nafsu dehumanitas menggila dan dengan sukacita merampas hak hidup manusia. Kejahatan kemanusiaan secara konotatif dan denotatif terjadi. Enam nyawa melayang sia-sia. Pejabat tinggi negara sampai ke tingkat menteri tak sungkan menerima suap. Bahkan, bantuan sosial bagi rakyat miskin pun masih dikentit.

Tahun 2020 boleh diamsalkan sebagai cermin retak kemanusiaan. Bila kita tak juga mau sadar terhadap realitas ini, tak mustahil di tahun-tahun berikutnya akan menjadi bencana sosial yang dahsyat, disamping memancing murka semesta lewat bencana. |

Komentar