oleh

Diskusi Virtual UMA: Antisipasi Covid Ambigu, Negara Menuju Krisis

TILIK.id, Jakarta — Perkumpulan UMA (Usaha Memajukan Anakbangsa) kembali menggelar silaturahmi lewat diakusi virtual ba’da Isya dan taraweh Ahad malam. Diiskusi bertema Nasib Pemerintahan Jokowi Menghadapi Ciovid-19.

Tampil sebagai marasumber dalam diskusi adalah mantan anggota DPR tiga periode Sofhian Mile, Budayawan dan Penyair N Syamsuddin Ch Haesy, pakar kesehatan masyarakat Dr Herry Norman, mantan Deputi Penempatan Ketenagakerjan Kemenaker Ade Adam Noch, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, anggota Komisi IX DPR RI Darul Siska, dan Ketua Umum Masyarakat Energi Baru dan Terbarukan Indonesia (METI) Ir Surya Darma.

Diskusi yang berlangsung hingga dinihari itu diawali paparan Sofhian Milie. Menurutnya, pandemi Covid-19 membawa negara pada krisis yang sangat serius. Element-element negara, termasuk partai politik, seperti mati rasa dan seperti tak kuasa menahan laju kebijakan yang tidak pro kepada keselamatan rakyat.

“Parpol tidak berteriak sama sekali. Mana isu-isu penting yang merugikan rakyat mengekor saja. Tiada ide-ide cemerlang yang dia lahirkan untuk menyelamatkan bangsa,” katanya.

Partai politik itu bisa memainkan banyak peran, apalagi dengan tiga fungsi setelah masuk ke parlemen. Oke dia bisa setuju dengan langkah pemerintah, tapi dia bisa dengan cara dan taktis politik yang banyak sekali caranya.

Tidak harus secara telanjang melakukan dukungan secara langsung. Ada agenda-agenda lain yang merupakan misi partai politik yg seharusnya mereka bawa.

“Kalau dulu kita di Golkar bersama Ferry (Ferry Mursyidan Baldan, red) ada agenda Golkar yang tidak bisa kita buka. Semua partai bisa sama dalam mendukung topik yang diajjukan pemerintah., tapi kita ada agenda tersendiri yang harus diperjuangkan,” kata Sofhian Mile.

Mantan Bupati Luwuk Banggai ini menyebut cara itu adalah gaya bersilat dan ilmu yang tidak ada dalam perguruan tinggi. Ini ilmu lapangan, ilmu malam, ilmu siang, ilmu subuh, yang bisa diterapkan oleh partai politik.

Menurutnya, kita tidak lagi melihat peran independensi parpol. Tidak memiliki independensi yang kuat. Bahkan selalu dipengaruhi oleh kekuatan di luar partai politik itu sendiri.

“Jika kita kaji lebih jauh, sebenarnya bukan pemerintah yang mempengaruhi langkah-langkah parpol itu. Tetapi ada kekuatan lain, kekuatan pemodal yang sangat besar mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil,” kata Sofhian.

Bahkan, bukan saja keputusan politik an sich, tapi ada keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan nasalah ekonomi, politik, bahkan lebih miris lagi masalah yang berkaitan dengan eksistensi bangsa ini.

“Ini masalah serius. Kita terganggu sekali, kalau masalah budaya dan eksistensi bangsa yang terganggu, apalagi yang mau kita pertahankan untuk negeri ini. Kita bisa marah, tapi marahnya kepada siapa,” ujar Sofhian.

Dikatakan, kita sudah melihat sesuatu yang tidak bisa kita maafkan. Beberapa UU yang akan diputuskan. Ada keputusan strategis yang ditandatangani presiden terkait tata ruang, reklamasi, dan lain-lain dengan investasi yang sangat besar. Ini menyusup masuk sampai sumsung tulang bangsa ini.

“Ini masalah kedaulatan bangsa. Kedaulatan negeri ini terganggu, tapi kita diam saja. Mungkin forum ini tidak punya waktu yang pas, karena obrolan-obrolan seperti ini sudahlah. Tetapi saya ingin detil kepada forum ini bahwa mari kita beri dukungan kita pada kelangsungan eksistensi negara tercinta ini dengan langkah yang lebih ril,” katanya.

Negara ini tidak akan bertahan lama kalau kita biarkan krisis ini berlangsung terus. Tidak akan sampai akhir tahun ini kita akan kolaps secara ekonomi, secara politik, secara budaya, bahkan kedaulatan kita terganggu.

“Demikian pengantar awal saya. Mudah-mudahan kita bisa sepakat untuk melihaht kembali bangsa Indonesia yang lebih baik,” katanya.

Diskusi yang dipandu Host Ir Tigor Sihite itu selanjutnya meminta Budayawan N Syamsuddin Ch Haesy. Pria yang akrab disapa Bang Sem ini menyebut negeri ini sebagai ironi. Ironi bangsa setengah.

“Apa-apa yang selama ini kita bangga banggakan bangsa ini bangsa yang hebat semua bohong. Bangsa kita itu tidak hebat, tesrbukti kita dijajah Belanda ratusan tahun,” katanya.

Kemudian katanya bangsa ini hebat, nenek moyang kita hebat. Secara parsial adalah iya. Dari Aceh sampai ke Papua secara lokal kita hebat, tapi sebagai sebuah bagsa tidak. Ketidakhebatan itu muncul saat melihat fakta-fakta koruptor di hadapan kita.

“Kita memiliki agama akan tetapi sekaligus mempermainkan Tuhan. Kita memiliki bangsa tapi tidak mampu mengurus negara. Kita memiliki politisi tapi langka negarawan, kita memiliki agamawan tapi langka ulama,” katanya.

Kemudian kita memiliki konstitusi, akan tetapi kita takluk dengan transaksi. Kemudian kita memiliki begitu banyak petinggi tapi kita tidak memiliki elite yang dalam istilah Bang Sem kaum hoszos.

“Hoszos adalah kaum yang ilmunya, experiencenya, responsibilitinya, itu memiliiki manfaat buat rakyat banyak. Bangsa ini tidak memiliki elite, yang dimiliki hanya petinggi-petinggi, mulai tingkat desa sampai tingkat nasion,” kata Bang Sem.

Kita memiliki banyak sekalinguru besar, akan tetapi kita tidak memiliki intelektual. Kemudian kita memiliki begitu banyak parpol tapi sedikit sekali yang mengerti politik.

“Kemudian kita memiliki begitu banyak pengusaha akan tetapi sedikit memiliki entepreneur. Oleh karena itu, ketika kita memasuki krisis semua relatif kolaps. Kemudian kita kaya dengan sumberdaya alam, kemudian kita kaya dengan penduduk, akan tetapi kita juga kaya dengan masalah. Akhirnya kita tak lebih dari kuli,” katanya.

Kemudian kita kaya dengan kearifan dan kecerdasan lokal tapi kita kurang sekali terhadap sebagai sebuah bangsa. Akibatnya yang kita hadapi saat ini adalah sebuah realitas di mana bangsa kita menjadi bangsa ambivalen.

“Akibatnya kita terjajah, dari masa ke masa. Kemudian melihat realitas kita saat ini tidak akan sampai akhir tahun kita menjadi negara miskin. Negara carruk. Dalam situasi ini, pilihan kita hanya dua: berubah atau punah,” kata Bang Sem.

Lalu apa yang harus dilakukan? Bang Sem mengatakan, yang harus dilakukan adalah reposisi dan transformasi perubahan. Karena revolusi kita gagal, reformasi kita hancur lebur, maka yang diperlukan adalah transformasi perubahan.

BACA JUGA:

Covid-19: Negara Krisis Keuangan, Nawaitunya untuk Menyelamatkan Rakyat?

Diskusi Virtual MN KAHMI soal Covid-19: Peran Berat dan Penting Perempuan

Diskusi KAHMI, Stop Provider Platform Digital, Serahkan Kartu Prakerja ke Kemenaker

Sementara itu, Ketua Umum METI Surya Darma melihat dampak Covid—9 dar sisi ketahanan energi. Menurut dia, beberapa masalah jika tidak dilakukan apa-apa dipastikan bangsa Indonesia menuju kehangkrutan.

“Selama berpuluh-puluh tahun, Indonesia bergantung pada sumberdaya alam. Mau atau tidak mau, terlepas dari perebutan politik, sumberdaya alam ini menjadi rebutan sekelompok tertentu. Di sisi lahan, 80 persen dikuasai oleh beberapa orang saja,” katanya.

Hal ini, kata Surya Darma, tak bisa kita pungkiri, karena 20 persen itu dibagi untuk 250 juta rakyat Indonesia. Ini luar biasa. Apalagi segelintir orang itu tidak berpikir untuk kepentingan negara. Inilah yang sangat berbahaya.

“Ini memang terlihat pada sektor ekonomi saja. Tapi dampaknya lari ke sektor energi yang akan kita kelola,” katanya.

Kondisi Covid-19 hari ini menyebabkan kita disandera. Penyanderaan ini, menurut Surya Darma, lebih kepada upaya untuk mencegah dan memperlambat penyebaran. Hanya kesadaran warga saja bisa menyelemarkan anak kita.

“Tetapi yang terjadi adalah sampai sekarang belum ada kesepahaman di antara mereka, baik pwmerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pola yang diambil harusnya tindakan cepat dan bersama-sama, sehingga menjadi solusi yang bagus dalam rangka mencegah Covid-19 ini,” kata Surya Darma.

Dikatakan, Penyebaran Covid-19 terus bertambah. Tidak hanya di Indonesia, tapi di dunia pun sudah sampai pada angka 2 juta kasus. Di Indonesia sudah 13 ribu lebih. Namun sampai hari ini belum ada sebuah metoda yang paling tepat untuk mengatasi atau memprediksi kapan pandemi itu akan berakhir.

“Oleh karena itu kondisi ini pasti akan sangat berpengaruh pada sektor energi.
Coba lihat harga minyak sampai jatuh sampai 0 dolar. Itu adalah sebuah kondisi yang tidak bisa dibantahkan karena covid tapi di lain pihak juga disebabkan karena pertarungan-pertarungan yang luar biasa,” kata Surya Darma.

Dari kondisi ini, bagaimana pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. IMF pada tahun 2019 memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia rata-rata 2,3 persen sampa tahun 2020. Setelah Covid-19 ini, prediksinya adalah pertumbuhan ekonomi dunia rata-rata minus 4,2 persen.

“Bagaimana dengan Indonesia? Jika Indonesia berhasil mengatasi Covid sampai pada kuartal ketiga, maka itu akan bisa positif posisinya, pada 2,3 persen. Tapi kalau tidak berhasil maka dia akan minus, minus 0,4 persen,” katanya.

Memang Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Tapi tidak ada yang tahu karena di Indonesia ini sangat sulit jika melihat dalam proses pengambilan keputusan dalam mengatasi covid.

“Kita lihat dalam beberapa hari, antara beberapa Manteri belum ada kata sepakat yang tepat dalam mengatasi covid-19. Beruntung dana untuk pembangunan ibu kota baru dibatalkan. Kalau tidak, kita sudah habis,” kata Surya Darma.

Oleh karena itu, menurut dia, berdampak luar bisa dari sisi ekonomi. Akibat tersanderanya warga di rumah, dunia usaha mandek. Sektor ril mandek. Transprtasi menurun drastis. Sektor pertambangan juga sama. Meski beberapa sektor stabil dan bahkan naik.

Dikatakan, jika pandemi berakhir, apakah akhir tahun atau bahkan lebih, ekonomi akan lebih terpuruk lagi. Ada sektor yang akan kalah dan ada yang menang atau bertahan.

“Yang bisa jatuh atau kalah adalah industri tekstil, UMKM dan energi. Yang menang nanti kemungkinan adalah sektor jasa pelayanan data, pemrosesan penjualan makanan dan minuman, kemudian alat-alat pribadi dan kesehatan, IT sudah pasti naik, kemudian perdagangan online, dan sektor pertanian masih bisa diandalkan,” katanya.

Kalau bicara sektor apa yang kalah dan menang, Dimana posisi Indonesia? Kalau masih mengacu pada yang ada saat ini, tergantung pada sumberdaya alam, menurut Surya Darma, kemungkinan besar kita akan berada pada posisi yang kalah.

“Bagaimana dengan sektor energi? Sektor energi di saat pandemi ini saja permintaan dan suplai sangat tidak berimbang. Permintaannya menurun luar biasa drastis. Sementara pasokan masih stabil karena pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi 2,4 persen sementara Indonesia 5,3 persen,” katanya.

Kedepan, ada akibat dari pandemi ini, pasti akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek akan banyak dihentikan, dan akan dikurangi. Apalagi di sektor minyak bumi suplai akan membeludak. Konsekuensinya adalah, sebagai contoh, pernah minyak bumi sampai minus 36 dolar AS per barel.

“Tapi kita tidak bisa menampung. Kita tidak bisa apa—apa,” kata Surya Darma.

Apa yang harus dilakukan untuk masalah Indonesia ini? Surya mengatakan, energi terbarukan menjadi penting. Jerman sudah akan menghentikan energi fosil dan menggantinya dengan energi terbarukan. Jika ini dilakukan oleh Indonesia, maka kita tidak tergantung lagi pada energi tua itu.

“Kita memang prihatin. Mudah-mudahan bangsa kita bisa keluar dari krisis itu dengan kepemimpinan yang lebih baik. Dengan negarawan yang lebih baik,” katanya. (lms)

Komentar