oleh

ANIES: POLITIK FOTO

by: Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

SEBUAH gambar, kata pepatah China kuno, melampaui seribu kata-kata.

Lalu, Anies menyihir: Ia mengunggah foto diri. Mengenakan kain sarung, membaca buku _How Democracies Die_ . Dari caranya mengerutkan dahi, tampaknya sang istri yang menjepret. Dan, publik heboh dalam perbincangan politik.

Buku memang selalu menyertai pemimpin hebat. Buku yang dibaca menunjukkan ukuran isi kepalanya. Buku juga digunakan untuk keperluan lain:
Sebelum disingkirkan, Presiden Liu Shao-chi dinasihati Mao agar membaca buku Heidegger dan Diderot yang memuat kata ‘mekanis’.  Cara Mao menekan Liu agar tak keras kepala, menentang revolusi kebudayaan. Tapi, Liu terlanjur tak dapat melunakkan kepalanya.

Anies memang sedang memenuhi kebutuhan, melayani kegemaran: membaca. Juga sedang berpolitik. Tepatnya, berkomunikasi politik. Cara yang ia pilih memang elegan: unsur kecerdasannya tinggi, serta mengandung daya kocak yang lembut. Mengingatkan pada kisah:

Presiden Sukarno mengundang sejumlah tokoh, bertemu di istana Tampak Siring. Tentu Masyumi tak diundang. Hasilnya: Nasakom. Eksperimen Bung Karno yang disambut tepuk tangan riuh. Tapi, Masyumi protes keras. Dan, P. Natsir menulis opini berjudul: Pertemuan Tampak Siring, Demokrasi Tampak Miring.  Bung Karno tentu saja geram. Sekalipun begitu, Bung Karno tak bilang: itu isu lama, aku lebih ngerti soal demokrasi daripada Natsir. Atau, teriak di mimbar: radikal, intoleran.

Suatu ketika, masih pada masa Orla, susu hilang dari peredaran. Langka di pasar-pasar. Lalu, muncul, dikoran-koran, foto Perdana Menteri Burhanuddin Harahap menggendong seekor anak domba. Tak lama setelah itu, susu kembali muncul di pasar.

Politik di masa damai, mestinya memang dikomunikasikan secara anggun, cerdas, dan tak kering dari daya kocak. Mao memberi contoh. Ketika itu ia sudah berumur 60-an dan, sedang menghadapi banyak penentang yang membuatnya marah besar. Para lawan ia peringatkan dengan cara unik: berenang di sungai Yangtse.

Melalui foto renang simbolik itu, Mao menyampaikan pesan: tekad dan kekuatannya menangani lawan. Lalu, menambahkan sebuah puisi:

Aku tak peduli.. apakah angin melemparkan aku  atau gelombang menghantamku.
Aku hadapi mereka semua dengan lebih santai dibandingkan berjalan-jalan di kebun.

Politik hari ini, memang vulgar menampilkan jurus main kayu. Tak ada seni, tak ada sense of humor. Hanya kras..kres.. asal beres. Otoritarianisme tak berkelas memang tak memiliki cita rasa seni, puisi, dan humor. Diksi dan prasanya kerontang: gorong-gorong, meroket, salah ketik, …… Paling jauh: radikal, intoleran. Layaknya seorang pelatih bola yang terus mengunyah-unyah gula-gula karet yang sudah habis rasa manisnya. Kesebelasan yang diasuhnya memang terancam degradasi, tersingkir dari lapangan.

Taraf komunikasi politik, memang dipengaruhi tingkat kecerdasaan para pemainnya. Patut disayangkan, pemain lawan tak cukup cerdas menjawab sapaan politik Anies. Mereka tak keluar dari jurus: memelintir menjadi fitnah dan jurus mabuk. Seorang Doktor lulusan Amerika, mestinya tak dipukul dengan buku. Bila itu yang dilakukan, terbukti, si pemukul babak belur. Tampaknya, ia memang tak paham soal buku.

Apalagi mengandalkan juru dengung yang jluntrungnya hanya soal duit: BuzzeRp. Tak biasa mereka berpikir cerdas. Misal: cari foto paling seksi, foto junjungannya berdua bersama Anies, dari file lama, ketika Anies menjadi jubir tim pemenangan. Bubuhkan kalimat yang tidak lebih panjang dari judul buku yang dibaca Anirs. Misal: Kita untuk demokrasi.

Tak masalah banyak orang mencibir, buzzeRp dibayar untuk itu. Paling tidak, foto itu mengingatkan: kita pernah bersama dan, gambar wajah Anirs melegitimasi anak kalimat: untuk demokrasi. Patut diduga, Anies terusik, risau pikiran dan hatinya. Dan, boleh jadi, foto itu bakal memicu kehebohan, setara dengan kehebohan yang dipicu Anirs.

Syukurlah, Anies ditakdirkan menang dua babak. Tendangannya ampuh, langsung mencetak gol. Sementara tendangan balik lawan, meleset, membobol gawang sendiri.

Komentar