oleh

Geisz Chalifah di Mata Para Pecinta Kucing

Oleh: Adis Dewi

(The Cathy & Friends)

PADA Minggu sore, sebuah pesan WA masuk ke gadget saya. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari Bang Geisz bahwa beliau bersedia meluangkan waktu untuk saya dan sahabat-sahabat saya pecinta kucing ngobrol dan bersilaturahmi.

“Bisa.. jam 3an ya”, begitu tulis Bang Geisz. Ketika saya info ke WAG grup. Sontak sahabat-sahabat saya langsung heboh, surprise banget bahwa Beliau ternyata mau menerima kami komunitas pencinta kucing.

Duh, kami deg-degan, karena kalau melihat seorang Geisz Chalifah di ILC, selalu terlihat “garang” berdebat dengan lawan diskusinya. Hati kami sudah “ngeper” duluan. Jujur, yang ada di pikiran kami, “ ehm apakah nanti bisa nyambung? Lhah wong kami biasa mengurus kucing, ga biasa mengurus politik”.

Adis Dewi dan kucingnya

Kami tiba di kantor beliau di bilangan Tebet lebih awal dari yang dijadwalkan dan Bang Geisz sudah standby. Ternyata apa yang ada di bayangan kami bertolak belakang. Bang Geisz jauh dari sikap “garang”.

Saat kami ngobrol dengan Bang Geisz semua mengalir hangat bahkan kami bisa tertawa terbahak-bahak karena cerita lucu Beliau.

Bang Geisz itu ternyata orangnya santai, lugas, apa adanya, hangat, humoris dan juga gaul. Banyak cerita yang dishare beliau membuat saya dan teman-teman takjub.

Seorang Bang Geisz memiliki sikap pluralisme, jauh berbeda dari yang sering diberitakan media. Beliau memiliki banyak sahabat dari berbagai kalangan dari kelas bawah sampai konglomerat, dan berasal dari berbagai etnis budaya dan keyakinan, beliau tetap membumi dan rendah hati. Beliau dapat bercerita dengan sangat fasih tentang budaya dan karakter orang etnis China, dari China Semarang, China Jakarta, China Surabaya, China Medan sampai China Kalimantan. Sahabat-sahabat saya pecinta kucing yang saya perkenalkan dengan Bang Geisz semua etnis China (Fifie, Fiona dan Justin) sampai terheran-heran. Bang Geisz ternyata penggemar berat film-film Mandarin, tempat tongkrongannya adalah bioskop seputaran Senen, dan sampai sekarang pun masih hafal nama-nama aktor/aktris China di jamannya. Salut!

Jiwa kemanusiaan Bang Geisz juga patut diacungi jempol. Banyak kegiatan beliau membantu orang-orang tidak mampu dalam operasi katarak, membangun hunian baru yang terkena gempa bumi di NTB, dan masih banyak kegiatan-kegiatan kemanusiaan lainnya. Teman-teman beliau sering menyebut “tukang cari donasi”. Walaupun begitu tetap masih banyak yang nyumbang, karena kata beliau.. “yang paling penting kegiatannya legal, dan dapat dipercaya”.

Beliau pun banyak memberikan saran pada kami bagaimana kegiatan yang baik bisa dilegalkan, salah satunya perlu disahkan notaris (dengan membentuk yayasan), dan dibuatkan laporan yang baik secara kontinyu.

Sisi lain yang menarik, kalau mau ngetest Bang Geisz gaul, pancing cerita tentang perkulineran di Jakarta dan tempat hangouts anak muda di zamannya juga Zaman now. Beliau akan bercerita dengan semangat dimana kuliner enak di Jakarta, cafe-cafe cozy yang oke buat foto (instagrammable), tempat clubbing (mana yang sudah tutup mana yang masih eksis).

Saya aja orang Jakarta, malah gak hafal.. hahaha.. walaupun Bang Geisz masih ga habis pikir “kenapa ya sekarang orang pengen banget terkenal dengan harus eksis di media sosial sampe bawa koper untuk kostum, sewa fotografer dan make up artist?”.

Salah satu sahabat saya, Fifie nyeletuk, “ya, suka aja, bang, tapi itu saya dulu, sekarang udah insyaf”.

Bang Geisz makin menyelidik “kenapa sekarang insyaf?” Fifie menjawab lagi.. “panggilan hati, lebih enak sekarang street feeding kucing-kucing jalanan, uangnya dipakai untuk hal-hal baik yang mudah2an lebih bermanfaat”.

Bang Geisz terlihat hanya manggut-manggut, tapi juga geleng-geleng kepala, karena sahabat-sahabat saya ini juga bercerita kalau street feeding kucing-kucing liar bangun jam 3 pagi, mulai jalan jam 4 pagi untuk keliling-keliling komplek perumahan dan sekitarnya, selesainya bisa jam 9 pagi.

Tak terasa waktu sudah hampir maghrib ngobrol dengan Bang Geisz. Bener-bener seru, karena selalu banyak topik yang bisa didiskusikan yang rasanya ga ada habisnya. Kami pun pamit, dan berjanji, suatu hari kita akan ketemu ngobrol-ngobrol lagi, silaturahmi ini akan tetap terjalin.

Dari pertemuan dengan Bang Geisz, sesungguhnya Beliau bukan pecinta sejati kucing seperti kami, dan bukan berarti pembenci kucing-kucing liar pula, namun beliau paling tidak mau ketinggalan soal kolaborasi kebaikan, sehingga kegiatan-kegiatan kami laksanakan, Beliau sangat support sekali. Intinya saya belajar dari Beliau, kolaborasi kebaikan dapat berjalan baik bila dijalani dengan niat tulus ikhlas, tanpa memandang ego, perbedaan suku, etnis, bangsa dan keyakinan.

Bila hal itu dihilangkan, Insya Allah keberkahan dan kesuksesan dapat diraih. Amin.

Komentar