oleh

Sebelas Tahun Rasil AM 720 dan Puluhan Miliar Harta Diwakafkan

by Geisz Chalifah

KETIKA banyak manusia sedang berupaya memperkaya diri sendiri, bahkan ada yang rela menjadikan dirinya sebagai penyebar fitnah dengan menjadi BuzzerRp bayaran dengan mengeren- ngerenkan dirinya menyebut sebagai influencer padahal cuma penebar fitnah yang dibayar.

Bahkan seorang dosen Universitas Indonesia yang dengan gagah menyuarakan anti syariat Islam tapi dengan poligami doyan entah apa yang bermanfaat dari ucapan-ucapan yang selaku dipenuhi kedengkian.

Di tengah kondisi ekonomi yang sedang carut marut dan tak menentu, ketika banyak orang takut kehilangan hartanya.

Kabar mencengangkan itu datang dari Cibubur. Radio Silaturahim (Rasil AM 720) oleh pendirinya, Faried Thalib Alumni HMI Komisariat STTN), Ichsan Thalib (Alumni HMI Komisariat FISIP Jayabaya), dan keluarga mewakafkan seluruh aset berupa tanah dan bangunan.

Tak main-main semua aset-aset itu adalah bangunan strategis dan bernilai puluhan miliar rupiah.

Sebelas tahun Rasil berda’wah dengan tagline: Untuk Islam yang satu untuk Indonesia yang bersatu. Meneduhkan dan mengayomi tapi juga lugas pada mereka yang jelas-jelas anti terhadap da’wah dan umat Islam.

Hampir semua da’i nasional pernah mengunjungi radio tersebut, juga KH Hazim Muzadi sebagai Wantimpres menemui Habib Rizieq Shihab di Rasil.

Tak hanya aset radio dan bangunan tapi juga sekolah SMP dan SMA Insan Mandiri Cibubur.

Masjid Megah yang berada di pinggir jalan raya di wilayah Jatinegara bernama Masjid Umar Bin Khattab juga secara hukum telah resmi diwakafkan.

Entah orang sakit jiwa mana yang masih saja mencurigai Rasil sebagai radio syiah tapi membangun masjid dengan nama Umar Bin Khattab. Hanya satu saja yang bisa menjelaskan fitnah keji itu, bahwa mereka itu agen Yahudi (pemecah belah umat).

Faried Thalib adalah Koordinator Pembangunan RSI Gaza dan mantan Pereli Nasional. Sedang Ichsan Thalib Koordinator Pembangunan Rumah Sakit di Myanmar. Kedua adalah dua sahabat, yang saya tahu persis bukan ustadz, bukan hafiz qur’an, bukan pula yang memahami ilmu Alqur’an secara mendalam.

Tapi satu hal yang mereka tahu secara leterlek dan meyakini sebagai jalan hidup bahwa: Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

Komentar