oleh

Bawaslu DKI Pacu Peningkatan Kapasitas SDM Komunikasi Informasi

TILIK.id, Jakarta — Badan Pengawas Pemillihan Umum (Bawaslu) DKI Jakarta terus meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui sejumlah program kerja. Salah satu yang akan ditingkatkan adalah kemahiran dalam menulis jurnal ilmiah.

Upaya itu dimulai dengan menggelar Webtalk yang menghadirkan narasumber di bidang penulisan pada Kamis pagi hingga siang (13/8/2020).

Anggota Bawaslu DKI Jakarta Sitti Rakhma dalam prolognya mengatakan sunber daya manusia menjadi faktor penting untuk mencapai kinerja sebuah institusi, apalagi di bidang pengawasan.

“Kami di Bawaslu DKI menyadari hal ini. Karena itu sebagai program peningkatan kapasitas SDM, kami menghadirkan narasumber yang berkompeten dan pengalaman,” kata Sitti Rakhma.

Untuk sesi pertama, Bawaslu menggelar Webtalk untuk peningkatan kemampuan penulisan jurnal ilmiah. Bagi Bawaslu DKI, ini sangat penting karena menulis jurnal ilmiah tidak sekadar mengetik, tapi ada proses observasi, riset data kuantitatif-kualitatif, sebelum penulisan.

Menurut Sitti Rakhma, Jurnal ilmiah berisi artikel ilmiah atau sejumlah referensi yang menjadi rujukan penulisan tiap artikel ilmiah. Artikel ilmiah yang ditulis dalam jurnal ilmiah dapat berupa laporan hasil penelitian maupun review literatur.

Jurnal ilmiah bersifat spesifik, ditulis dalam perspektif disiplin atau sub disiplin ilmu tertentu. Jurnal ilmiah selalu merepresentasikan spesialisasi bidang ilmu pengetahuan tertentu.

“Misalnya jurnal hukum, jurnal sastra, jurnal sosiologi, hingga jurnal pengawasan pemilu,” kata Anggota Bawaslu DKI dan Koordinator Bidang SDM ini.

Dalam kaitan itu, kata dia. penting ada peningkatan kualitas SDM Bawaslu di bidang informasi dan data serta laporan ilmiah. Karena itu, Bawaslu DKI mengadakan Webinar atau Webtalk Penulisan Jurnal Ilmiah.

Sitti Rakhma mengingatkan kepada jajaran Bawaslu DKI bahwa ada beberapa kompetensi yang harus diperkuat lagi.  Yang pertama adalah komunikasi. Komunikasi ini adalah level pertama.

“Level komunikasi ini dari satu sampai 4. Level satu adalah bagaimana berkomunikasi dengan baik, kemudian level dua bagaimana kita bisa menggunakan berbagai media dan sarana komunikasi yang ada untuk menyampaikan pesan-pesan baik untuk internal maupun eksternal. Termasuk media dalam jaringan yang sekarang ini,” kata Sitti Rakhma.

Kemudian level ketiga adalah bagaimana kita mampu memodifikasi komunikasi. Karena komunikasi menjadi unsur penting bagi pengawas pemilu, bagaimana berkomunikasi dalam pengawasn, pencegahan, penindakan, dan lain-lainnya.

“ Yang masuk dalam penulisan jurnal ilmiah ini adalah bagaimana kita mengkomunikasikan ide kita, gagasan kita, kemudian hasil riset yang telah kita lakukan. Jadi pengawas pemilu itu sebenarnya dalam tugas pengawasan, pencegahan, penindakan punya data pemilu yang komprehensif sehingga kita mampu membuatnya, mengulasnya dalam bentuk tulisan,” ujarnya.

Dia mengakui bahwa kendala Bawaslu adalah mengkomunikasikan dalam bentuk tertulis atau dengan tulisan.

Selain Sitti Rakhma yang menberikan pengantar, juga hadir sebagai pembicara adalah Dr Meisanti, S.P, M.P, dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sedangkan moderator adalah Maskur, Kepala Bagian Administrasi Bawaslu Provinsi DKI Jakarta.

Meisanti mengatakan, tujuan penulisan jurnal ilmiah adalah untuk menyampaikan sesuatu. Misalnya melalui buku, majalah, diktat, dan sabagainya.

“Menulis jurnal ilmiah butuh data. Data boleh dari riset, riser S1, S2, S3, penelitian mandiri, penelitian kolaborasi, dan yang penting data itu memiliki kebaruan untuk dipublikasikan,” katanya.

Setelah data terkumpul, proses selanjutnya adalah penulisan. Prinsip dalam penulisan, adalah tepat, singkat, jelas, dan memecahkan masalah.

“Kita juga tidak boleh bertele-tele dalam menulis jurnal ilmiah. Kalau ditulis satu sama lain mungkin kita bisa menjelaskan secara panjang lebar sampai kemana-mana, tetapi kalau di jurnal ilmiah harus singkat, langsung pada sasaran.

Dikatakan, menulis dalam jurnal artinya menyampaikan sesuatu. Maksudnya adalah pembaca harus paham apa yang disampaikan oleh penulis kemudian menjadi pemecahan masalah.

“Satelah tulisan selesai, maka langkah selanjutnya adalah publikasi. Sarana publikasi juga harus tepat sesuai dengan karya tulisan yang dibuat,” kata Meisanti. (kmn)

Komentar