oleh

AGAMA TANPA “AGAMA”

Dr. Muhammad Sabri, MA

DERRIDA adalah pesona. Ia perlu didengar seperti irama musik. Ia mempercakapkan filsafat dengan gaya yang tipikal. Tak banyak kata yang bisa mendekatkan kita pada teksnya. Teks purba yang tak tersentuh sekalipun, dengan amat dingin, ia analisis dengan cara yang mengguncang penalaran kita dengan dekonstruksi.

Bila kita menyusuri anak sungai literasi ke belakang, abad ke-6 SM adalah titik simpul yang menandai “perubahan kiblat” misterius peradaban manusia dari mithos ke logos, abad ke-17 “mekarnya ilmu dan teknologi” yang mengubah total paras manusia dan abad ke-21, babak baru yang mengandaikan “pembongkaran” terhadap anggitan dan konsep lama. Salah satunya adalah anggitan “agama”.

Berhadapan dengan bisikan lembut Rudolf Otto bahwa agama selalu bermula pada yang nominous, Yang Maha Lain dan tak tercakapkan, di era post-realitas, “agama” justru berada dalam selubung New Age dan spiritualitas palsu yang memroduksi tema-tema religius ke dalam budaya populer. Virtualitas di dunia cyber telah mengaburkan konsep tentang yang-nyata dan mengarahkan ke tema-tema New Age versi baru, penampakan UFO, ET, dan pseudo mistik.

Di titik lain, agama dijadikan sebagai “jubah suci” bagi tindak kekerasan kaum radikal-fundamentalis yang mengidap klaim kebenaran akut dan bertindak untuk dan atas nama Tuhan.

John D. Caputo—seorang pos-modernis Heideggerian-Derridean—dalam karya monumentalnya, On Religion (2001) memperlihatkan kegusarannya terhadap “agama” jenis New Age. Ia mencoba melakukan pengkajian dan perumusan ulang atas makna dan posisi agama itu kini.

Sebagai dekonstruksionis—dengan menggunakan perspektif Derrida—Caputo lalu mengenalkan semacam theologia negativa yang memroduksi istilah teknis serba “negatif” macam “ketidakmungkinan”, “ketidakterbatasan”, dan “ketidaktahuan”. Bahkan aksioma yang digaungkannya pun berbunyi negatif: “Saya tidak tahu apakah yang saya percayai adalah Tuhan atau bukan,” atau “apa sebenarnya yang aku cintai ketika aku mencintai Tuhanku?”.

Meski demikian, Caputo tak lantas jatuh ke dalam lembah “nihilisme” mistis-esoteris macam kecenderungan para perennialis, atau “netralisme” dogmatis macam ahli compartive study of religions. Skeptisisme dan perspektif dekonstruksi Caputo lebih merupakan “siasat” untuk melepaskan agama dari kepungan verbal proposisi nyinyir tentang “apa” atau “siapa” Tuhan, dan mengembalikan kehidupan religius kepada intinya yakni cinta.

Di tengah tendensi kebangkitan agama di bawah suluh kaum demagog—yang memicu terbitnya kecenderungan dogmatisme-legalisme-literalisme-radikalisme—sejatinya justru berisiko menghancurkan diri-agama itu sendiri. Apa yang kelak dibilangkan Caputo sebagai agama tanpa “agama” atau “agama cinta” menarik dipertimbangkan.
Pada ladang subur keruhanian Islam, Ibn ‘Arabi dan Rûmî adalah teosof-penyair yang paling intens mengkonstruk “agama cinta”.

Dalam sebuah karyanya, Tarjumân al-Asywâq, Ibn ‘Arabi misalnya mengenalkan sifat tak terbatas dan tak menjelma (nonspecifity and non-entification) dari hati sang Insan Kamil, yang berkekalan mengalami teofani atau manifestasi yang Ilahi. Karena itu, hatinya menjadi wadah segenap kosmik. Rûmî menyinggung hal serupa ketika mengatakan, “intelek tak berdaya di hadapan Agama Cinta” (D 2610).

Bagi Rûmî, cinta—bersama keindahan dan sukacita yang merengkuhnya—merupakan jantung dan sum-sum agama, tema sentral segenap spiritualitas. Sementara Ibn ‘Arabi, cinta adalah suatu alternatif cara untuk menyadari Kebenaran Tak Terbatas. Rûmî mendaku, manusia secara terus menerus didorong pada pengalaman akan cinta sebagai realitas sentral yang melampaui segala konseptualisasi yang mungkin.
Sementara Ibn ‘Arabi membilangkan bahwa cinta memiliki peranan yang mengatasi segalanya.

Dalam konteks psikologi spiritual Rûmî, kehidupan ego identik dengan kematian ruhani; persekutuan dengan dunia-rendah berarti keterpisahan dengan Tuhan. Derita dan kepedihan hati berakar pada ilusi kedirian (illusory selfhood) dan jarak yang mencerabut diri dari Diri Sejati. Inilah makna senandung Rûmî: “selama kita tak menanggung kepedihan/kita tak akan pernah mencari penawarnya/selama diri tak memiliki cinta/kita tak akan pernah mencari Sang Kekasih.”

Diri yang ilusif adalah diri yang terjebak pada simulakrum dan karena itu tak otentik. Saat manusia berhasil melenyapkan ego-tak-otentiknya—yang dibakar oleh bara kerinduan dan api cinta—tidak akan ada yang tersisa selain Tuhan sendiri. Seperti yang diungkapkan Rûmî, dengan kalimah syahadat:

Setelah “tiada Tuhan,” apa lagi yang tersisa?
Masih tertinggal “selain Allah” yang lain telah sirna.
Bagus, hebat, wahai Cinta yang membakar berhala. (M V 589-90)
Kesejatian dan otentisitas, memang selalu terancam sirna, ketika semesta tanda dan simulakrum melumatnya.

Demikian halnya dengan agama, ketika ia menyapa kehidupan kita kini melalui paras “pos-agama”, maka api cinta agama pun telah padam. Agaknya, manifesto agama tanpa “agama” lebih merupakan palu-godam dekonstruksi terhadap anggitan “agama-topeng” yang sejauh ini tengah merampas kesadaran kita.

Jangan-jangan yang kita butuh adalah agama cinta yang mengandaikan: “Tuhan lebih penting dari agama, sebagaimana cinta lebih agung dari iman.”

Penulis adalah Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Komentar