oleh

Nikmat Tersembunyi dalam Puasa

Oleh: Moh. Bahri, S.Pd.I., SH              (Anggota DPRD Banten, Fraksi Partai Gerindra, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep Madura)

 

IBADAH puasa memiliki kaidah yang agak berbeda dengan aktivitas amaliah lainnya.

Seperti tingkat personalitas yang terjaga. Saat puasa, kita tak perlu “go public”, tidak dilaksanakan terbuka dan berjamaah melainkan cukup kita yang tahu.

Begitu juga dengan ganjarannya. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman: Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.

Sedikit banyak, level kerahasiaan dan privasi puasa memang nyata adanya. Pun dengan aspek batiniahnya.

Ibadah lain, bisa saling bantu dan gotong royong. Shalat berjamaah butuh imam dan makmum. Amar ma’ruf nahi mungkar bisa dilakukan bersama. Menuntut ilmu butuh guru. Shadaqoh atau infaq membangun masjid perlu kerjasama. Apalagi saat berhaji, begitu banyak pihak yang membantu dan jadi faktor penentu.

Dalam berpuasa, menahan diri dari segala godaan, sangat tergantung pada kemampuan diri kita sendiri.

Saking personalnya aktivitas puasa, maka begitu banyak hikmah rahasia tersembunyi, yang secara langsung terjadi pada diri kita.

Daya juang menahan dahaga serta lapar, mengendalikan nafsu syahwat, menjaga lisan dari kata-kata kotor, melipatgandakan kebaikan, adalah ditentukan oleh diri kita sendiri. Tak mungkin kita minta bantuan orang lain untuk, misalnya, menghilangkan rasa haus di saat puasa.

Di titik ini, maka kita berkesempatan mengalami aneka rahasia makna puasa, langsung secara pribadi per pribadi. Bukan via nasehat orang lain

Para Ulama sejak era klasik pun sudah menuliskan hal ini.

Menurut Imam Izzudin dalam Kitab Maqasidh As Saum, menyebut bahwa salah satu hikmah berpuasa, adalah kita berkesempatan merasakan langsung nikmat yang sifatnya rahasia.

Sang Imam yang berjuluk Sultanul Ulama (raja para ulama) ini mengingatkan, saat tidak puasa, kita jarang merasakan nikmatnya terbebas dari haus dan lapar, lantaran hal itu terkesan sepele, rutin, dan terlalu biasa.

Sehari-hari dengan mudah kita mereguk minuman dan melahap hidangan. Sehari-hari kita merasa gagah untuk bekerja dan beraktivitas, karena tubuh senantiasa segar. Di saat puasa, aneka kemudahan itu justru hilang (atau tertunda hingga waktu berbuka tiba).

Inilah salah satu rahasia utama yang kita raih kala berpuasa. Yakni menyadari nikmat tersembunyi, yang kerap kita abaikan kala tak berpuasa (nikmat terbebas dari haus, lapar, dan tenaga lemah).

Senada dengan hal ini, beberapa Ulama juga menyebut bahwa Puasa adalah Ibadah Sunyi. Mengapa?

*Pertama*, hakikat puasa adalah mengelola dorongan nafsu di dalam diri kita. Untuk tidak makan minum dan menghindari rafats (bersetubuh dengan pasangan yang halal). Padahal di luar puasa, semua itu diperbolehkan. Perjuangan batin ini sangat pribadi dan tak perlu koar-koar atau diperbincangan ramai.

*Kedua*, harapan memperoleh balasan pahala berlipat ganda saat berpuasa, juga adalah pilihan-pilihan personal, keputusan sendiri, dan sekali lagi, kita tak harus mempublikasikan tindakan amaliah kita kala berpuasa.

*Ketiga*, puasa juga lahan ujian dan eksperimentasi untuk mengerek derajat keimanan kita. Saat kita menahan lapar haus, tak ada respek atau apresiasi langsung. Beda misalnya dengan menyumbang masjid atau sholat berjamaah, yang saat itu juga kita beroleh kebahagiaan langsung dan dinikmati bersama. Jadi satu satunya sandaran adalah kekuatan iman kita, bahwa puasa kita hanya dipersembahkan untuk Allah SWT.

Terakhir, *keempat*, puasa secara pribadi juga mengasah kepekaan dan empati kita. Kita jadi tahu betapa susahnya saat tubuh tak boleh makan minum. Batin kita akan dipenuhi rasa syukur, sebab kita hanya “menunda” makan minum, sementara kalangan fakir dan dhuafa kesulitan untuk mencari konsumsi tubuh.

Dari uraian ini memang terlihat cahaya kebenaran ilmu dari para alim ulama, tentang makna rahasia dan tersembunyi dari berpuasa. Selamat melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan.

Komentar