oleh

Burung-burung pun Ceria Menuju Tuhan

by: DR. Muhammad Sabri, MA

Dan Sulaiman telah menerima warisan dari Daud. Dan dia berkata: ‘Wahai umat manusia! Telah diajarkan kepada kami Bahasa burung (manthiq al-thayr). (QS. 27:16)

MANTHIQ  al-Thayr (“percakapan burung”) sebilah diksi Qur’ani, tentu. Tapi belakangan menjadi inspirasi alegoris yang penuh pesona dalam tradisi keruhanian Islam. Setidaknya, ada tiga karya kesarjanaan sufistik yang mencoba menganyam narasi perjalanan cinta menunju Tuhan dengan simbolisme Manthiq al-Thayr.

Bermula dari Ibn Sinâ yang mengulasnya secara genial dalam Risâlat al Thayr (“Risalah tentang Burung”), diikuti oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghazâlî, teolog-sufi terkemuka, yang risalahnya, dengan judul serupa kurang masyhur. Sementara karya Farid al-Dîn ‘Aththâr, Manthiq al-Thayr, meski mengangkat tema serupa dengan dua tokoh sufi sebelumnya, mempersembahkan sesuatu yang berbeda.

Jika Ibnu Sinâ membicarakan visi intelektual yang memungkinkan “jiwa kembali ke asal surgawinya” dan al-Ghazâlî dengan “penderitaan dan perjuangan sungguh-sungguh merengkuh kasih Tuhan,” maka ‘Aththâr mempercakapkan keutamaan “pengalaman spiritual dan mistikal” dengan Yang Maha Lain.

Meski ‘Aththâr menggunakan tema “penderitaan” Ghazalian yang dilalui oleh burung-burung sehingga akhirnya mampu memasuki istana Sang Raja surgawi, tapi dia “megembara” melintasi lapis luar tingkat itu melalui tingkatan inisiatik paling puncak yang memungkinkan dirinya lebur dan muncul dalam subsistensi Diri, sehingga setiap burung-burung memiliki kesadaran-diri dan akhirnya mengenal Diri-nya: burung-burung tidak hanya terpesona menikmati keindahan Hadirat-Nya, tapi juga melihat diri-mereka sebagaimana adanya, yang terpantul dalam Diri, yang tak lain adalah Diri dari setiap diri.

‘Aththâr, karena itu mendaku: semua yang tidak “berumah” di alam bayang-bayang fana ini, merindukan asal mereka di kediaman primordial-surgawi, termasuk sekawanan burung-burung karena jiwa mereka memiliki sayap, betapapun rapuhnya untuk terbang menuju Tuhan. Manthiq al-Thayr adalah sebuah ode (syair pujian) yang digubah untuk “keluarga makhluk bersayap”—keluarga yang dalam spesies manusia dapat diidentikkan dengan para pencari Tuhan—yang banyak disebut tapi hanya sedikit yang terpilih.

Syaikh ‘Aththâr sendiri menyebut kuplet-kuplet syairnya yang berjumlah 4.458 baris sebagai Zabân-i Murghân yang secara harfiah berarti Bahasa Burung atau Maqâmât-i Thuyûr, Maqam-maqam Burung, yang merujuk ke narasi quranik tentang manthiq al-thayr. Dan dari judul yang quranik ini karya abadi ‘Aththâr pada urutannya dikenal dunia

Karya besar Manthiq al-Thayr tersebut, berhimpitan dengan makna esoterik pengetahuan Sulaiman tentang “bahasa burung,” tidak hanya menembus bentuk percakapan yang asing, tapi juga secara spesifik bekelindan dengan jenis dan golongan makhluk dalam pengembangan spiritualnya, karena sejatinya maqamât-i Thuyûr bukan hanya mempercakapkan bahasa pelbagai jenis hewan tapi tentang burung-burung yang sayapnya secara langsung menyimbolkan hakikat realitas “penerbangan” dan pendakian melawan seluruh bentuk kerendahan duniawi, menuju puncak infinitum.

Keunikan trans-metafisik Manthiq al-Thayr, karena ia dimulai dengan alpha (awal) dan merengkuh omega (akhir) kehidupan spiritual: karena dalam pendahuluannya mengisahkan Realitas Ilahi, sebuah kisah yang mengandaikan buah pengamatan keindahan oleh jiwa-burung Simurgh. Melalui cresendo rapsodis sang penyair besar, berhasil mengekspresikan pujiannya kepada Yang Mahaesa hingga dia mencapai tingkat yang membuatnya mengucapkan: Wahai Engkau yang melalui manifestasimu menjadi tak kasat-mata/Seluruh kosmik adalah Engkau/namun tak seorang pun melihat wajah-Mu/Jiwa tersembunyi di dalam tubuh dan Engkau di dalam jiwa/wahai Engkau yang tersembunyi di dalam yang tersembunyi/Wahai Jiwa seluruh jiwa!/Meski Engkau tersembunyi dalam hati dan jiwa/Engkaulah yang nyata bagi hati dan jiwa/Kulihat segenap kosmik nyata karena-Mu/meski kulihat tiada tanda-Mu di dunia.

Dengan sajak-sajaknya yang memabukkan ketika memuja Tuhannya, sajak yang mengandung kebenaran puncak-terdalam metafisik, dan menghasilkan buah dari pohon makrifat, ‘Aththâr lalu mempercakapkan dengan indah perjalanan burung-burung menuju Tuhan: sebuah perjalanan dunia kode, semesta lambang dan simulakrum trans-metafisik yang titik omega-nya terkandung di dalam alpha epik mistiknya.

Di sini, ‘Aththâr sesungguhnya ingin mengeja kembali tentang ajakan “pulang” (raja’a) sebagai idea-moral al-Qur’an, di mana hakikat pulang mengandaikan, seseorang “pengembara” selalu tiba pada titik di mana ia “berangkat”.

Perjalanan “pulang” burung-burung dalam Manthiq al-Thayr, dilukiskan sebagai sebuah perjalanan penuh rintang dan onak, juga bahaya. Di sana di gambarkan, burung-burung itu melintasi tujuh lembah pegunungan kosmik Qâf, yang di puncaknya terletak Penguasa Puncak Kehampaan, Sunyata:

“pencarian” (thalab), “cinta” (‘isyq), “gnosis” (ma’rifah), “kepuasan jiwa” (istighna’), “keesaan” (tawhid), “keterpesonaan” (hayrat), “kemiskinan” (faqr), dan “lebur” (fanâ’). Tingkatan maqam-jalan ini juga merupakan lembah-ngarai kosmik yang menginteriorisir dalam jiwa inisiasi.

Peleburan atau “ketercelupan” ontologis, merupakan puncak-terdalam dari perjalanan Manthiq al-Thayr. Di sana setiap diri “menyatu-lenyap” dalam Diri: terlahap oleh cahaya wajah Simurgh ‘tuk menyadari bahwa/aku tak tahu apakah aku adalah Engkau dan Engkau adalah aku/aku telah lebur di dalam dirimu-Mu/dan kegandaan pun musnah. Dan inilah agaknya, tujuan akhir segenap perjalanan.

Komentar