oleh

BAGUS SEKALI DIDU VS LUHUT

by M Rizal Fadillah
(Pemerhati Politik)

KRITIK mantan Staf Khusus Menteri ESDM Said Didu pada Luhut Panjaitan soal pemindahan ibukota di saat wabah dengan mengaitkan fikiran Luhut soal uang dan uang mendapat reaksi berupa ancaman tuntutan pidana. Sebagai Menteri atau pejabat publik semestinya Luhut tenang dalam menghadapi kritik.

Luhut sebenarnya sudah padat dengan kritik bukan saja oleh Said Didu tapi oleh banyak orang baik tokoh politik, pengamat, maupun netizen. Risiko dari jabatan yang diemban. Apalagi memang Luhut sering menyatakan banyak hal yang di luar kewenangan sebagai Menkomarinves.

Baiknya tantangan atau ancaman Luhut kepada Didu dilayani saja. Ini penting untuk pendidikan politik. Didu tentu punya data data yang perlu diketahui publik dari “serangan” nya kepada Luhut. Biar para tokoh politik dapat mempertanggungjawabkan semua pandangan atau pendapatnya.

Soal kepindahan ibukota memang kontroversial. Investasi tak terhindari dan ini tentu menyangkut uang. Ada benang merah dari pandangan Didu. Rakyatpun belum menyetujui soal kepindahan ibukota ini. Jadi perdebatan tentu menarik. Meskipun dibawa ke ruang hukum tapi publikasi tetap bisa berjalan.

Masyarakat banyak mengeluh soal kiprah Luhut di pemerintahan. Banyak disebut sebagai Menteri Segala Urusan. Kini ada “lawan berimbang” yaitu Said Didu. Ketika Didu nyatakan siap hadapi tuntutan Luhut maka banyak rakyat merasa terepresentasi. Didu pun akan mendapat support dari banyak elemen.

Dalam kaitan kekuasaan, Luhut adalah bagian dari pemilik kekuasaan dengan segala daya dukungnya termasuk taipan. Berhadapan dengan Didu yang tak memiliki jaringan sebagaimana Luhut. Pertarungan seperti Daud lawan Goliath. Uji nyali dan uji keyakinan terhadap perjuangan kebenaran.

Suplemen baru bagi Didu adalah pernyataan Faisal Basri bahwa Luhut lebih berbahaya daripada corona virus. Jika Faisal masuk sebagai intervenient maka pertarungan menjadi lebih seru.

Perlawananan Said Didu tentu sangat bermanfaat dalam mengingatkan penguasa bahwa prioritas perhatian itu perlu. Di saat semua pihak sedang sibuk dan panik menghadapi wabah, ini malah terus saja memikirkan dan menyiapkan pemindahan ibukota. Dananya juga masih mengais ngais. Jangan jangan ke China lagi.

Pak Luhut moga tidak menjadi seperti “orang miskin yang sombong”. Miskin akan rasa nasionalisme dan kerakyatan.

Bandung, 4 April 2020

Komentar