TILIK.ID — Ada fenomena baru di dunia sepak bola Jerman. Yaitu semakin banyak pemain sepak bola muda Jerman memilih negara lain daripada membela tim nasional Jerman. Deretan talenta muda berlatar belakang migran yang dianggap terbaik bakal tampil di Piala Dunia 2026 ini.
Di antara mereka adalah Ibrahim Maza dan Malik Tillman dari Bayer Leverkusen, Can Uzun dari Eintracht Frankfurt, serta Josip Stanisic dari Bayern München yang baru saja meraih gelar ganda di kejuaraan domestik.
Juga ada Pun Kenan Yıldız dari Juventus dan Paul Wanner dari PSV akan turun bersama timnas. Tapi meskipun mereka lahir atau menjalani sistem akademi di Jerman, tak seorang pun akan bermain untuk Jerman di panggung sepak bola terbesar dunia pada musim panas ini.
Mereka semua memiliki kewarganegaraan ganda dan memilih berkostum Turki, Aljazair, Amerika Serikat, Kroasia, atau Austria. Mengapa mereka lebih memilih timnas negara lain dibanding timnas Jerman?
Pilihan mereka untuk tidak membela Jerman dipengaruhi berbagai faktor, seperti alasan teknis di lapangan, emosional, keluarga, atau harapan untuk mendongkrak karier. Kondisi ini telah mengguncang Direktur Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) Andreas Rettig.
Direktur DFB, PSSI-nya Jerman, Andreas Rettig berupaya mengubah tren tersebut dan mengusulkan sebuah konsep untuk mempertahankan talenta migran itu.
Memang sebagian besar pemain yang disebutkan di atas merupakan pemain inti di klub masing-masing, bahkan beberapa di antaranya termasuk yang terbaik di posisinya.
Menurut Rettig, para pemain tim nasional kelompok usia menghabiskan antara 50 hingga 70 hari setiap tahun dalam program pembinaan DFB. Mereka berpotensi memainkan peran penting bagi tim nasional Jerman.

“Lebih dari 40 persen anak-anak berusia di bawah lima tahun di Jerman memiliki latar belakang migran. Kondisi ini memberi mereka pilihan untuk menentukan negaranya,” kata Rettig dikutip dari DW.com.
Dia khawatir angka tersebut akan menyebabkan meningkatnya jumlah pemain internasional potensial yang ingin berpindah kewarganegaraan.
“Kita harus menyikapi persoalan ini dengan serius agar tidak sampai berada dalam situasi ketika banyak pemain yang dibina di sini justru mencari peluang di tempat lain,” ujar Rettig.
Rettig pun memperkenalkan gagasannya mengenai skema “kompensasi pembinaan” untuk mengubah situasi saat ini. Pembinaan harus memberikan hasil, baik bagi pemain yang dibina maupun pihak yang membinanya.
“Saya ingin kita mengembangkan sistem yang memberikan kompensasi atas proses pembinaan, di mana kita bisa menginvestasikan kembali kompensasi pelatihan tersebut untuk pengembangan sepak bola akar rumput,” katanya.
Gagasannya cukup sederhana. Biaya pembinaan setiap pemain per hari akan dihitung secara rinci dan menjadi dasar pengajuan kompensasi. Informasi tersebut akan disampaikan secara transparan kepada seluruh pihak terkait sehingga dapat menjadi faktor penghambat bagi negara-negara yang merekrut pemain hasil pembinaan negara lain.
Rettig menegaskan bahwa tujuannya bukan sekadar memperoleh kompensasi finansial bagi DFB, melainkan memberikan manfaat bagi dunia sepak bola secara keseluruhan.
“Kita perlu meningkatkan kesadaran bahwa setiap federasi harus berinvestasi dalam pembinaan pemain,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa beberapa federasi sepak bola nasional saat ini “menghabiskan lebih banyak uang, waktu, dan tenaga untuk mencari pemain daripada membina pemain mereka sendiri.”
Menurut Rettig, tren tersebut bergerak ke arah yang salah. Ia berharap sistem kompensasi pembinaan yang transparan dapat mengurangi praktik tersebut sekaligus mendorong investasi yang lebih besar dalam pengembangan pemain muda di dalam negeri. |**






Komentar