Dari Revolusi ke Notre Dame

Oleh Mubha Kahar Muang

Mubha Kahar Muang menulis artikel dengan judul “Dari Revolusi ke Notre Dama” tepat di hari ulang tahunnya, 7 April 2026 ini. Harapannya, di hari bahagianya, tulisan ini bermanfaat adanya.

Dari Revolusi ke Notre Dame

HAMPIR semua revolusi penting di dunia dalam abad modern terinspirasi oleh Revolusi Prancis, dan Paris-lah pemantiknya.

Dari kota ini dunia mengenal nama-nama penting seperti Montesquieu, Voltaire, Napoleon Bonaparte, Victor Hugo hingga Marie Antoinette.

Ratu Marie Antoinette dan suaminya, Louis XVI, menjadi penanda revolusi.
Kedudukannya sebagai permaisuri Raja Louis XVI dan ibu dari Louis XVII membuat Antoinette terseret menemui ajal.

Revolusi Prancis

Revolusi Prancis 1789-1799 memiliki latar belakang yang hampir sama dengan berbagai revolusi di negara lain.

Kebijakan yang diterapkan oleh raja, penguasa, atau pemerintah untuk mengatasi krisis keuangan lazimnya berupa penarikan pajak tinggi.

Hal ini membebani masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah yang merupakan sebagian besar penduduk.

Kondisi tersebut diperparah oleh situasi umum yang tidak menguntungkan, sehingga beban berat itu mendorong lahirnya revolusi.

Ketika itu, Perancis sedang mengalami yg krisis keuangan. Kerajaan berutang kepada bankir Yahudi, Samuel Bernard, dana yang dipercayakan kepada raja dan digunakan untuk mendukung Perang Kemerdekaan Amerika Serikat.

Raja kemudian menempuh kebijakan pajak tinggi di tengah kesulitan lain seperti inflasi dan naiknya harga bahan pokok, termasuk tepung untuk roti.

Ketidakpuasan masyarakat, terutama buruh tani, mendorong lahirnya pertemuan-pertemuan dan deklarasi.

Selain itu, Louis XVI dan permaisuri menolak reformasi sistem monarki.

Upaya mereka melarikan diri dari Paris gagal setelah ditangkap pasukan revolusioner. Keadaan ini berujung pada revolusi.

Pada September 1792, Konvensi Nasional menghapus monarki dan mendeklarasikan Perancis sebagai republik.

Louis XVI menjalani hukuman mati pada 21 Januari 1793, sementara Marie Antoinette pada 16 Oktober 1793. Keduanya dipancung dengan guillotine, pemenggal kepala bagi para terhukum.

BACA JUGA :  Suara Anak Muda untuk Anies Baswedan

Alat yang lahir di Paris ini dimaksudkan untuk mengeksekusi secara lebih manusiawi dan meminimalkan rasa sakit.

Alat guillotine diusulkan oleh seorang dokter, Joseph Ignace Guillotin yang justru dikenal sebagai penentang hukuman mati. Ironisnya, ia menemui ajalnya dengan alat tersebut.

Kota ini juga melahirkan konsep “trias politica”, yakni pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai pijakan demokrasi modern.

Konsep tersebut pertama kali dikemukakan oleh John Locke, kemudian dikembangkan oleh Montesquieu pada 1748.

Paris

Seperti kota-kota penting dunia lainnya, Paris telah lama menjadi etalase pencapaian budaya, khususnya sastra, musik, arsitektur, sains, hingga fashion.

Landmark kota ini, Menara Eiffel, menawarkan renungan tentang pencapaian konstruksi dan arsitektur modern.

Dibangun dari baja sebagai penanda peringatan Revolusi Prancis, menara ini selesai pada 1889, tepat 100 tahun setelah revolusi.

Tinggi menara 300 meter atau 320,75 meter jika menghitung antenanya.
Menara Eiffel dirancang oleh Gustave Eiffel.

Bangunan ini memiliki bobot sekitar 7.300 ton baja dan pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia hingga 1930, sebelum dikalahkan oleh Chrysler Building.

Keunikan menara ini, ketika diterpa angin kencang, goyangannya bisa mencapai 12 cm, dan tingginya dapat berubah hingga 15 cm akibat perubahan temperatur.

Selain itu, Paris juga dianugerahi Sungai Seine yang membelah kota sepanjang sejarahnya. Dengan panjang sekitar 780 km, sungai ini berhulu di tenggara Perancis di wilayah perbukitan kapur pada ketinggian 470 meter di atas permukaan laut.

Menurut legenda, nama Seine diambil dari dewi air dalam kepercayaan suku bangsa Galia, penduduk asli Perancis.

Para ahli purbakala mencatat, kepercayaan terhadap Dewi Seine telah ada sejak abad ke-5 sebelum masehi.

Dari sungai inilah kota Paris memperoleh denyutnya di sepanjang sejarah.

Hal ini setidaknya terlihat dari 36 buah jembatan yang membelahnya. Setiap jembatan memiliki ciri khas tersendiri.

BACA JUGA :  Imlek, Kesetaraan, dan Keadilan di Jakarta

Yang paling megah adalah jembatan Alexander III dengan sepuhan emas berkilau, menghubungkan jalan raya Champs Elysees yang terkenal dengan Les Invalides Plaza.

Jembatan Alexander III dibangun pada awal tahun 1900-an untuk memperingati persekutuan kembali Perancis dan Rusia di bawah kekuasaan Kaisar Alexander III.

Sejarah juga mencatat, sekitar seabad sebelumnya, Rusia pernah diluluhlantakkan oleh pasukan Napoleon Bonaparte yang membumihanguskan Moskow.

Katedral di Sisi Sungai Seine

Di sisi Sungai Seine berdiri megah Katedral Notre Dame de Paris. Katedral ini mulai dibangun pada 1163 di bawah perintah Bishop Maurice de Sully dan baru rampung pada 1335.

Ia dikenal sebagai salah satu mahakarya terbaik arsitektur Gotik Perancis.

Pembangunannya yang memakan waktu hampir dua abad melibatkan banyak arsitek, tercermin dari ragam corak dan ornamen, terutama pada fasad barat dan menaranya.

Tak pelak, Katedral Notre-Dame de Paris menjadi simbol pencapaian kebudayaan manusia yang memadukan agama, seni, sejarah, dan kisah-kisah kehidupan.

Hal inilah yang mungkin menginspirasi Victor Hugo menulis novel terkenalnya, Notre Dame de Paris, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Hunchback of Notre Dame.

Victor Hugo sendiri, kabarnya, keberatan dengan judul Inggris bukunya itu, tetapi The Hunchback-lah yang kemudian menyebarkan ke seluruh dunia.

Hingga saat ini sudah difilmkan sebanyak 10 kali untuk versi layar lebar dan 4 kali untuk versi televisi.

Novel ini berkisah tentang La Esmeralda, gadis gypsy yang cantik, dan Quasimodo, si bungkuk penjaga lonceng katedral.

Quasimodo diasuh sejak bayi oleh seorang pendeta Katedral Notre Dame bernama Claude Frollo. Setelah besar, Quasimodo diberi tugas membunyikan lonceng gereja Notre Dame. Tugas yang membuat lelaki bermata satu itu perlahan-lahan menjadi tuli dan bisu.

La Esmeralda ke mana-mana selalu ditemani seekor kambing putih bernama Djali. Karena kecantikannya, Pendeta Claude Frollo jatuh cinta dan tampaknya mau melakukan apa saja untuk merebut hatinya.

BACA JUGA :  Sari Pati Revolusi

Demikian juga dengan si bungkuk Quasimodo. Dengan caranya sendiri ia hanya bisa mendamba La Esmeralda. Pada saat yang sama La Esmeralda jatuh cinta kepada seorang kapten bernama Phoebus tetapi tidak memperoleh respon.

Sampai kemudian gadis ini bersaksi untuk menyelamatkan seorang penyair bernama Pierre Gringorie dari hukuman gantung, yang juga mendamba cinta La Esmeralda. Kisah ini berpuncak ketika Esmeralda dituduh melakukan pembunuhan.

Victor Hugo yang lahir sebagai Victor Marie Hugo pada 26 Februari 1802, melalui novel ini, oleh para kritikus dipandang sebagai puncak dari aliran romantisme dalam sastra barat.

Bersama karya agung Hugo lainnya, Les Miserables, Notre Dame de Paris dianggap sebagai bukti kebesaran penyair Perancis tersebut. Bahkan ada yang menyebutnya penyair terbesar dunia setelah Shakespeare.

Kisah Si Bungkuk dan La Esmeralda membuktikan kebesaran Hugo. Di puncak cerita, ketika La Esmeralda siap digantung, Si Bungkuk datang berusaha menyelamatkannya.

Sebuah tindakan penyelamatan yang gagal. Karena meski Si Bungkuk berhasil membawa Esmeralda hingga ke puncak menara Katedral Notre Dame, Esmeralda menolak penyelamatan itu.

Gadis itu juga menolak bantuan Pendeta Claude Frollo. Ia akhirnya dieksekusi.

Dalam lukisan 200.000 kata, novel ini menjadi saksi kisah tragis manusia yang berpusar pada kisah cinta, pengorbanan, kesia-siaan dan kepahlawanan yang bersatu padu.

Suatu saat ketika seorang peneliti bertanya siapa sesungguhnya tokoh utama dalam novel ini, apakah La Esmeralda atau Si Bungkuk Quasimodo? Sang penyair menjawab: Katedral Notre Dame de Paris.

Itulah keagungan Paris. Arsitektur, sejarah, sastra, sains dan manusianya, semua menginspirasi hingga lahir karya-karya budaya yang agung.
Cerminan sebuah reproduksi kultural yang terus terjadi menandai eksistensi sebuah kota. |••

Komentar