Oleh: H. Muh. Ikhsan AR
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari)
ADA kehilangan yang tidak hanya terasa di ruang-ruang pribadi, tetapi juga menggema dalam lanskap sosial dan spiritual umat. Wafatnya KH Djakri Napu adalah kehilangan semacam itu—hening, tetapi dalam; sunyi, tetapi sarat makna.
Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tidak pernah berisik dalam menunjukkan diri, tetapi selalu hadir dalam memberi arti. Dalam dirinya, saya menemukan perpaduan yang jarang: keteguhan seorang ulama, keluasan seorang intelektual, dan kerendahan hati seorang kader.
Sebagai anggota Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Sulawesi Tenggara, beliau bukan tipe tokoh yang gemar tampil di depan. Ia lebih memilih menjadi penimbang—memberi arah tanpa harus mendominasi, mengingatkan tanpa harus menggurui. Dalam forum-forum, pandangannya jernih, tidak tergesa-gesa, dan selalu berangkat dari kedalaman pertimbangan, bukan sekadar reaksi.
Namun, lebih dari itu, saya mengenal beliau sebagai penjaga ruh masjid. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pengurus Masjid Raya Al-Kautsar Kendari, beliau memperlakukan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai pusat pembinaan umat. Ia memahami bahwa masjid harus hidup—bukan hanya ramai oleh kegiatan, tetapi juga kaya akan makna. Di bawah sentuhan beliau, masjid tidak kehilangan kesakralannya, sekaligus tetap terbuka bagi dinamika zaman.
Ada satu dimensi penting dari sosok beliau yang sering luput dari sorotan: identitasnya sebagai alumni HMI. Bagi beliau, HMI bukan sekadar organisasi masa lalu, tetapi ruang pembentukan karakter yang terus hidup dalam sikap dan cara berpikirnya.
Nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan yang menjadi ruh HMI tampak nyata dalam kesehariannya. Ia adalah kader yang tidak berhenti menjadi kader.
Dalam kesederhanaannya, ia tetap menjaga tradisi intelektual; dalam kesibukannya, ia tetap memelihara kepekaan sosial; dan dalam pengabdiannya, ia tidak pernah kehilangan orientasi spiritual. Ia menunjukkan bahwa menjadi alumni bukan berarti selesai, tetapi justru awal dari pengabdian yang lebih luas.
Yang paling membekas dari Kyai Djakri adalah keteduhannya. Di tengah dunia yang sering gaduh oleh perbedaan dan klaim kebenaran, beliau hadir sebagai penenang. Ia tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa menghakimi, dan tidak kehilangan adab dalam menyampaikan pendapat. Dalam dirinya, kita melihat wajah Islam yang ramah—yang kuat dalam prinsip, tetapi lembut dalam pendekatan.
Kepergian beliau menyisakan ruang kosong yang tidak mudah diisi.
Namun, seperti halnya orang-orang yang hidup dengan makna, ia tidak benar-benar pergi. Ia tinggal dalam jejak: dalam nasihat yang pernah ia sampaikan, dalam kebijakan yang pernah ia rumuskan, dan dalam keteladanan yang pernah ia tunjukkan.
Bagi saya pribadi, mengenal beliau adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana menjadi berarti tanpa harus terlihat. Bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung, dan ketulusan tidak selalu membutuhkan pengakuan.
Kini, Kyai Djakri telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Yang tersisa bagi kita adalah melanjutkan nilai-nilai yang ia wariskan—menjaga keseimbangan antara ilmu dan amal, antara keberanian dan kebijaksanaan, antara gerak dan arah.
Selamat jalan, Kyai. Doa kami mengiringi.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan kami yang ditinggalkan, akan terus belajar dari sunyi yang engkau ajarkan.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu birahmatika yaa arhamarraahimiin, Al-Fatihah
