Mahasiswa Jijik dengan Narasi Gibran Wakili Anak Muda

Oleh Xhardy

BELUM lama ini, Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM berbagai kampus menggelar aksi Mimbar Kerakyatan di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret Yogyakarta, hari Rabu kemarin.

Mereka mengkritik Gibran yang lolos jadi cawapres karena polemik putusan MK, tapi diklaim sebagai representasi anak muda dalam jalur politik. Mereka tidak sudi dan tidak mau Gibran diklaim sebagai perwakilan dari seluruh anak muda di Indonesia.

Ketua BEM UGM mengatakan, sebagai bagian dari anak muda, dia justru tidak terima dengan narasi yang menyebut Gibran sebagai representasi aspirasi suara pemuda. Mereka tidak terima. Mereka justru merasa jijik. Dia bahkan mengatakan, apa yang terjadi saat ini justru hal paling najis dalam sistem demokrasi.

Majunya Gibran dinilai tidak lebih dari praktek culas terhadap konstitusi, melalui rekayasa di MK.

Selain itu yang membuat mereka jijik adalah jalanan di berbagai daerah dihiasi dengan baliho-baliho ukuran besar tapi dengan gagasan kecil. Ini benar-benar menyakitkan tapi memang kenyataan sih. Baliho besar dan menjamur, tapi gagasan kecil. Gagasan yang besar hanyalah joget gemoy dan susu gratis.

BACA JUGA :  Anies Paham Ekosistem Pers, Jika Jadi Presiden Kebebasan Pers Lebih Terjamin

Ketua BEM UGM juga hadir dalam acara diskusi di MetroTV. Dia bilang kalau gimmick politik sudah berlebihan, itu adalah wujud dari eksploitasi kebodohan masyarakat. Capres-cawapres yang bersangkutan merasa, rakyat cukup dijejali dengan gimmick aja sudah puas, sudah bisa mendulang suara yang besar. Ini menjadi bukti bahwa capres-cawapres dengan sengaja memanfaatkan kebodohan publik.

Dia juga mengatakan pesta demokrasi jangan cuma dimaknai sebagai pesta, tapi juga sebagai sarana titik balik bangsa. Salah satu kecemasan anak muda di pilpres kali ini adalah kecenderungan fokus pada gimmick politik.

Ketika dia ditanya oleh host acara, pihak mana yang paling banyak gimmick politik, dia menjawab yang paling kelihatan itu Paslon nomor urut 02, atau Prabowo-Gibran. Karena di Jogja, ada banyak baliho besar, tapi gagasannya kecil.

Untuk kali ini saya harus setuju dengan orang ini. Narasi-narasi tak jelas kayak joget-joget demi menjadi viral dan menarik perhatian anak muda, ini adalah penghinaan dan pembodohan publik. Mereka pikir anak-anak muda adalah orang-orang lugu yang gampang dipengaruhi dan ditipu-tipu dengan gimmick murahan.

BACA JUGA :  Kasus Syahrul Yasin Limpo Rekayasa?

Gimana mau maju, kalau SDM kita selalu dipengaruhi lewat gimmick-gimmick yang tidak jelas. Yang dimakan adalah narasi pembodohan publik. Dan dari tiga paslon, memang yang paling banyak gimmick adalah Prabowo-Gibran. Entah siapa yang memulai isu gemoy ini. Yang jelas, ini adalah bentuk pembodohan publik yang dikemas dengan narasi yang kekinian untuk menarik perhatian anak muda.

Jangan sampai tertipu deh. Apalagi anak muda yang tidak pernah merasakan era sebelum reformasi, jangan sampai terbuai dengan yang viral-viral di medsos. Kalian itu target empuk untuk dijadikan batu loncatan. Jangan tertipu dengan cawapres muda yang mewakili anak muda. Itu bukan perwakilan anak muda, tapi lebih cocok sebagai perwakilan keluarga yang mau melanggengkan kekuasaan.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar