oleh

KRITIK

by Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

SEJAK mengenal baik-buruk, benar-salah, manusia menghayati kritik. Memang, tak ada sisi kehidupan yang dapat disterilkan dari kritik. Kritik melecut agar lebih maju, lebih baik. Juga, karena manusia, siapapun, tak luput dari hukum relativisme internal kata Cak Nur. Tentu, hal itu hanya berlaku bagi siapa saja yang sanggup bersikap objektif, terbuka, introspektif, korektif, …. Respon-penerimaan terhadap kritik memang berkait dengan kebesaran jiwa.

Siapa saja, lebih-lebih para pemimpin, membutuhkan kritik demi keberhasilan dan kepemimpinannya. Bahkan, ada orang merasa perlu memiliki devil advocate: tukang kritik yang berperan sebagai antitesa, guna menguji ketepatan pandangan-sikap.

Dalam tradisi Katholik, sebelum seseorang dinobatkan sebagai Santo-Santa (canonisasi), terlebih dahulu harus lolos dari advocatus diaboli, sang pembela iblis yang menelisik keburukan kandidat, guna menjamin objektifitas pengukuhan orang suci.

Bernegara tentu tak perlu begitu. Karena, negara tak perlu dipimpin seorang suci. Cukup lazimnya manusia, dengan beberapa hal yang dipandang khalayak sebagai kelebihan yang dibutuhkan sebuah bangsa. Misal: lancar berbahasa Inggris, paham hal ikhwal kontraksi ekonomi, memiliki pengetahuan yang meyakinkan tentang penyebab banjir, …. Selebihnya: sanggup menerima kritik.
Lebih-lebih dalam negara demokrasi yang mengidealkan masyarakat sipil dan politik yang waras: memberi-menerima kritik.

Kritik dibutuhkan dan berlaku dalam semua lini kehidupan. Tapi, tak setiap hal perlu dikritik. Tak semua hal dalam jangkauan kritik. Memang, kritik hanya berlaku dalam urusan yang normal (sekadar menyebut contoh): kebijakan investasi, prioritas membangun infrastruktur, pengaturan seragam sekolah berkekhususan agama, pengelolaan urusan publik, pembubaran ormas, ….. Dan, dalam jangkauan pikiran waras.

Maka, kasus Mega Korupsi (Bansos, dll), pembunuhan terhadap warga negara tanpa mengindahkan hukum, tak termasuk urusan normal yang memerlukan kritik. Tapi, masuk wilayah kewarasan berpikir yang didasarkan pada hukum (lebih-lebih) Pancasila, sebagai basis etik bernegara, berpemerintahan.

Dalam hal melampauai batas kenormalan dan kewarasan itu, kritik tak berguna. Karena telah diambil alih-digantikan oleh protes. Kenormalan urusan memang berhimpitan dengan kewarasan berpikir. Maka, kemunculan gerakan protes, hampir selalu menandai sedang terjadi ketaknormalan, karenanya juga ketakwarasan yang menyebabkan penyimpangan dari standar-komitmen-tujuan objektif yang disepakati. Siapapun yang waras, dalam urusan yang normal, pasti tak memicu gerakan protes.

Secara umum, kritik: pernyataan pendapat, pemikiran, penilaian, sebagai tanggapan terhadap sesuatu hal. Kecaman dapat dipandang sebagai kritik pada tingkat paling keras. Tentu yang dibutuhkan kritik membangun.

Dewasa ini, kritik perkara lumrah. Banyak pihak mengritik terkait dinamika pengelolaan kehidupan berbangsa-bernegara. Rizal Ramli mengritik demokrasi kita sebagai demokrasi kriminal. HRS keras mengritik hal-hal yang dipandang sebagai penyelewengan Pancasila. KAMI, juga sejumlah tokoh akademisi, aktivis, pengamat, …. rajin melontarkan kritik melalui aneka media, saban hari, terkait kondisi ekonomi, politik, sosial, …….

Tak perlu (lagi) meminta. Tapi, amat diperlukan menerima kritik, dibuktikan dengan tindakan yang sesuai dengan pesan pokok kritikan itu. Lalu, mengapa tokoh sekaliber Kwik Kian Gie merasakan ketakutan yang tak pernah dialami sebelumnya?

Suatu ketika, Mao menjalani hari-hari dengan lebih banyak berbaring. Hanya urusan kakus yang tak ia lakukan di ranjang. Kala itu musim dingin dan Mao tak bermaksud bermalas-malasan. Ia sedang memikirkan sesuatu: pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan pada pidato 4 jam di hadapan Dewan yang selalu menyetujui kehendaknya.

Di forum itulah, Mao menyampaikan maklumat bahwa ia mengundang pimpinan partai, juga siapa saja, untuk menyampaikan kritik. Karena, kekuasaan harus bisa dikendalikan dan dapat diawasi, jelasnya. Lalu, Mao mengritik keras Stalin yang keterlaluan menghabisi lawan-lawannya. Maklumat Mao terdengar masuk akal. Menyakinkan dengan bubuhan pepatah: Biarkan seratus Bunga mekar.

Kalangan intelektual dan aktivis paling diharapkan Mao agar bersuara lantang, mengritik keras. Sekalipun sarana penyampaian kritik tetap dibatasi. Hanya boleh disuarakan melalui pamflet-poster yang ditempel di dinding-dinding, dan pertemuan skala kecil yang disebut seminar. Selain itu: dilarang!

Segera China diguyur hujan kritik. Segala hal yang selama ini dianggap tabu, dosa besar, menggerojog ruang publik. Seorang pengritik menyoal monopoli kekuasaan yang dinyatakan sebagai sumber segala hal yang buruk. Ada yang membandingkan Mao dengan Hitler.

Seorang pembicara dalam seminar, menilai pemerintah sekarang lebih buruk dari jaman dinasti, juga lebih buruk dari Chiang Kai-shek. Seorang profesor menilai konstitusi tak lebih dari tisu toilet. Seorang mantan pejabat pemerintahan bersuara lantang: patuhi hukum, bukan penguasa! Sebuah poster menyeru kepada petani yang kecewa: cemplungkan foto Mao ke dalam kakus. Dan, seorang sastrawan bertanya: apakah gunanya pemimpin? Siapa yang memimpin Beethoven, Tolstoy, …. ? Tampaknya, sang pengritik hanya ingin menegaskan, seniman tak butuh pemimpin macam Mao.

Kamerad Mao menyeringai. Kepada kroni dekatnya yang terpercaya, ia menjelaskan: kalian harus bersiap. Biarkan para setan dan ular itu menyerang, mengecam kita, …. Kita memang melemparkan tali panjang untuk menjerat…. Nanti, kata Mao memastikan, hukuman keras akan menghantam kepala mereka.

Musim kritik berlangsung tak lebih dari 5 bulan. Berakhir dengan diterbitkannya surat edaran Mao. Segera setelah itu, pembersihan besar-besaran dimulai. Mao menetapkan kuota-target korban, paling banyak 10 persen dari populasi intelektual, gerombolan yang dicap kanan oleh Mao. Waktu itu, jumlah mereka diperkirakan 5 juta orang. Dengan catatan, tak berlaku bagi para ilmuwan dan insinyur, terutama dibidang fisika nuklir dan roket.

Prioritas pembersihan diarahkan kepada para penulis, seniman, ahli sejarah, yang menurut Mao tak berguna. Lebih dari 500.000 orang tewas selama periode pembersihan itu. Banyak orang ditangkap hanya untuk memenuhi kuota yang ditetapkan. Jung Chang mengisahkan “seratus bunga mekar dan pembersihan besar-besaran” itu, dalam “Mao, Kisah-Kisah yang Tak Diketahui”.

Kritik memang hanya untuk urusan yang normal. Dibutuhkan dan berguna bagi pikiran yang waras. Dil uar itu (sangat vulgar ditunjukkan Mao): dunia yang tak normal dan, jebakan mematikan dari pikiran yang tak waras.

Komentar