oleh

Trump Memecah Cermin Demokrasi Pecah Berkeping

Bang Sém

NODA itu tercoreng di wajah Donald John Trump, sepekan sebelum ia mengakhiri jabatannya. Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pertama yang dimakzulkan untuk kedua kalinya oleh House of Representative (Dewan Perwakilan Rakyat).

Persisnya, ketika 10 orang anggota parlemen dari Partai Republik, pengusung dan pendukung dirinya, satu suara dengan anggota parlemen dari Partai Demokrat yang bersemangat dan gencar memakzulkannya.

Pemakzulan itu dilakukan para wakil rakyat, dengan lantang dan lugas menudingnya telah menghasut para pendukungnya, para pemberontak yang menjebol gedung Capitol, lambang demokrasi Amerika Serikat, pekan lalu.

Sebelumnya, ketika melakukan kunjungan ke perbatasan wilayah AS – Mexico, dia masih yakin seluruh anggota parlemen Partai Republik akan membelanya. Dia, bahkan sempat ‘mengancam’ Presiden AS Terpilih Joe Biden, bahwa apa yang dilakukan anggora parlemen Partai Demokrat terhadap dirinya, akan berbalas dan kelak menimpa Biden.

Trump tak begitu yakin kalau dirinya akan mengalami nasib tak mulus di ujung masa jabatannya. Dia mencoba menyembunyikan suasana hati dan keterkejutannya, ketika tahu, dalam pemungutan suara yang berlangsung sepanjang hari Rabu (13/1/20) di Gedung Capitol yang sudah berhias akan menyambut Biden, para pendukung pemakzulan beroleh 232 berbanding 197 suara.

Tak tanggung-tanggung alasan pemakzulan, itu. Trump dituding membahayakan negaranya dan demokrasi yang selama ini dibangga-bangakan AS. Melakukan kejahatan tak terlupakan, memprovokasi pendukungnya melawan dengan kekerasan terhadap pemerintah yang dipimpinnya sendiri.

Meski sudah menyatakan dirinya tak akan hadir dalam pelantikan Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021, dia tak membayangkan diusir para wakil rakyat untuk segera hengkang dari Gedung Putih, selekasnya.

Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dari California, selepas kerusuhan di Gedung Capitol pekan lalu, menyatakan, apa yang dilakukan Trump dan para pendukung fanatiknya yang anarkis, merupakan satu bab paling kelam dalam buku sejarah Amerika Serikat.

Selama sepekan, Pelosi gencar merangkul para koleganya untuk melakukan ‘solusi konstitusional,’ yang mampu memastikan, bahwa AS akan kembali aman dari watak bangor dan bengak Trump.

“Dia harus minggat. Dia telah jelas menghadirkan bahaya bagi bangsa yang kita semua cintai,” tegas Pelosi.

Anggota Parlemen Partai Republik yang beken, Kevin McCarthy menyatakan, hatinya hancur, tapi dia tak ingin menolak nuraninya untuk yang berkehendak ikut menghukum dan memakzulkan Trump.

McCarthy juga mendesak Wakil Presiden yang juga Ketua Senat, untuk bersama mengesahkan kemenangan Biden dan Harris. Menurut McCarthy, mestinya, Trump mencegah massa pendukungnya dan mengecam aksi kekerasan yang mereka lakukan.

Tapi, Trump malah memprovokasi, sehingga untuk melumpuhkan para perusuh dan pemberontak itu, Pasukan Garda Nasional harus diterjunkan ke Gedung Capitol.

Dengan aksentuasi yang dalam., McCarthy menyatakan, Trump harus memikul tanggung jawab atas serangan para perusuh pada hari Rabu di Gedung Capitol, itu.

Pesona demokrasi AS segera kusam, ketika Pasukan Garda Nasional yang hadir dengan performa serdadu di medan perang. Menciptakan suasana Amerika dekade 1860-an, ketika Union Army telah berada di dalam gedung. Peristiwa peenyerbuan para perusuh dan pemberontak itu telah menimbulkan trauma pada sebagian anggota parlemen.

Apalagi sebelum kejadian itu, Trump tampil tanpa pelitup (masker) yang diikuti oleh para pendukungnya yang liar.

Pemakzulan atas Trump, juga beroleh dukungan Senator Mitch McConnell, Republikan dari Kentucky, sekaligus pemimpin mayoritas. Upaya itu dilakukan, juga untuk dikatakan mendukung upaya tersebut sebagai cara untuk membersihkan partainya dari pengaruh Trump, yang tetap keukeuh akan melakukan pertarungan politik berkelanjutan.

Biden ‘memainkan’ pesonanya, melalui pernyataan yang terukur, bahwa kerusuhan dan pemberontakan akibat hasutan Trump yang ogah menerima kekalahan, merupakan serangan atas demokrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bangsa yang kadung dijuluki sebagai kampiun demokrasi itu, memilih cara yang pas menyambut tiba Biden dan Harris untuk mengambil sumpah di Gedung Capitol sebagai Presiden – Wakil Presiden AS 2021-2025. Yakni: memakzulkan Donald J Trump sebagai penjahat yang merusak demokrasi. Tak mudah menyatukan kepingan cermin demokrasi yang pecah berkeping-keping..|

Komentar