oleh

Merdeka (4): Timtim dan Sudsel

by: Ludiro Prajoko
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

TIMTIM memiliki klaim historis untuk tidak menjadi bagian NKRI. Para pendiri negara tahu, maka tidak memasukkan Timtim. P. Harto dianggap menganekasi-mencaplok Timtim melalui Operasi Seroja, berdasarkan mandat dari deklarasi Balibo.

Sejak itu, para penentang terus berjuang, Fretilin – Fron Revolusi Kemerdekaan Timor Leste, bergerilya di hutan-hutan, melahirkan sang legenda Xanana Gusmao. Mereka meyakini, sejarah Timtim penuh penindasan, pertama oleh Portugis, lalu penjajah Indonesia.

Karena mayoritas penduduknya Katolik, dapat dimengerti bila institusi gereja memainkan peran penting dalam proses pembebasan Timor Leste. Memunculkan Uskup Ximenes Belo yang cukup fenomenal. Beliau mengirim surat kepada Paus dan Sekjen PBB, mengusulkan refendum. Gigih melindungi korban tragedi Santa Cruz. Tahun 1996 Uskup Belo bersama Ramos Horta diganjar Nobel Perdamaian.

Australia tetangga dekat, tentu memainkan peran penting dalam proses pemerdekaan Timtim. Karena doktrin pertahanan negara: ATHG terhadap Australia, berasal dari atau melalui Indonesia. Maka, Timtim, juga Papua dan NTT, menjadi kawasan strategis bagi Australia. Selain itu, deposit minyak di Celah Timor.

Akhirnya, ketika Indonesia gaduh didera reformasi, perjuangan Timtim menuai hasil. PBB turun tangan, membentuk misi perdamaian yang menopang penyelenggaraan referendum. Lebih dari 2/3 penduduk menolak otonomi khusus. Memilih lepas, menjadi negara merdeka: Timor Leste.

Sudsel merdeka setelah menempuh jalan panjang perang saudara. Perang Utara-Selatan menjadi kegiatan sejak Sudan merdeka dari penjajahan Inggris. Akar perkaranya memang pelik. Selatan mayoritas penduduknya beragama Kristen, hidup dalam budaya Afrika. Utara muslim, Sub Sahara, hidup dalam budaya Arab.

Penyatuan Selatan-Utara diakhir masa kolonial-kemerdekaan Sudan tahun 1956, menjadi pemicu awal perang saudara. Selatan tak terima, karena hal itu berarti menyerahkan kekuasan pemerintahan kepada Utara. Menyingkirkan pemerintahan Selatan, sementara sumur-sumur minyak bertebaran di Selatan.

Perang saudara babak pertama berlangsung 17 tahun. Reda setelah tercapai kesepakatan Addis Ababa 1972 yang memberikan otonomi kepada Selatan. Awal dekade 80-an, perang saudara babak kedua dimulai, dipicu kebijakan Utara yang hendak menerapkan hukum Islam diseluruh wilayah Sudan. Perang berakhir tahun 2005 setelah disepakati perjanjian damai Nairobi. Intinya: sepakat diselenggarakan referendum. Enam tahun waktu yang diperlukan untuk menyiapkan referendum itu.

Campur tangan pihak asing tentu ada. Inggris yang paling dekat dan paham betul. Karena tidak sebentar Inggris menjajah Sudan. Bahasa resmi Sudan Selatan bahasa Inggris. Titik-titik sumur minyak di Selatan tentu sudah ditandai.

Faktor agama jelas sangat besar pengaruhnya dalam sejarah perang saudara Sudan. Perang yang bermuara pada agama-perang suci, memang selalu berdarah-darah. Tak mudah dihentikan. Perang Salip berlangsung tiga babak, perlu waktu dua abad untuk berhenti.

Akhirnya PBB turun tangan: Referendum dan, Sudsel merdeka. Lagu kebangsaannya: South Sudan Oyee! Tak lama setelah merdeka, perang saudara kembali pecah, di Sudsel. Suku pendukung Presiden melawan suku pendukung Wakil Presiden.

Komentar