oleh

Dehumanitas Manusia Perut

by Bang Sèm

Lama sudah tidak ke Garut
Kota Intan tatar Pasundan
Congkak sungguh manusia perut
Abaikan nyawa pikirkan badan

DEHUMANITAS atau ketidakmanusiawian ditampakkan para manusia perut alias hamba perut (Abdul Buthun), ketika mereka sibuk dengan angka-angka untung dan rugi, dan terus berjuang untuk tidak mau rugi sekejap pun, meski hampir seluruh kantung-kantung ekonomi sudah terkuasai.

Itu kesan saya menyaksikan bagaimana sejumlah menteri, wakil menteri dan salah seorang pimpinan parlemen, plus salah seorang terkaya di Indonesia merespon keputusan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan melanjutkan pelaksanaan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti semula.

Sejumlah media — yang sedang lapar iklan — memainkannya sebagai topik dan isu dengan sajian a la nouvelle du désaccord, polarisasi pro kontra, menghadirkan informasi dubieus. Memicu virus infodemi akusasi para influenser sedang selesma dan buzzer kotok abai data dan realita.

Maklumat Anies Baswedan (diikuti kampanye gencar Wakil Gubernur A. Riza Patria tentang 3 M: Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dengan Sabun), maklumat biasa, seirama dengan fokus perhatian Presiden Joko Widodo yang mulai mafhum esensi krisis kesehatan.

Seperti kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Munardo, Anies tak pernah mencabut PSBB dan sentiasa berkoordinasi sebelum mengambil keputusan. Doni tidak sedang berpolemik dengan siapapun ketika dia, sebagaimana halnya Anies menyajikan informasi tentang situasi dan kondisi rumah sakit, mutakhir.

Tentu berbeda dengan omongan Menko Perekonomian (yang juga Ketua Umum Partai Golkar) Airlangga Hartarto yang bicara kondisi rumah sakit berbasis asumsi, sebagaimana halnya orang terkaya Indonesia yang tular, berkirim surat kepada Presiden Joko Widodo.

Di luar realitas pertama kehidupan yang dijalani manusia, yang menutup banyak hal dari kasad mata, peningkatan serangan nanomonster Covid-19 di Jakarta — yang memicu Anies Baswedan mengurangi pelonggaran pelaksanaan PSBB — menguak sesuatu yang samar-samar, menjadi nyata: oligarki kekuasaan.

Kimik-kimik oligarki pun nampak, ketika — kebetulan atau tidak — reaksi perangah Menko Perekonomian dan sejumlah menteri dalam koordinasinya atas anjloknya harga saham di bursa efek Indonesia, menyusul maklumat Anies, ‘sagiteuk sageyol’ dengan lontaran harap dan kehendak sang orang terkaya beserta kaumnya. Termasuk para politisi belum akil baligh yang ikutan berteriak, agar pelaksanaan PSBB seperti sediakala diberlakukan di Jakarta.

Dehumanitas manusia perut yang kehilangan kesadaran, entusiasme, simpati, empati, apresiasi dan respek terhadap upaya penyelamatan nyawa manusia, karena lebih mementingkan urusan perut tak kan pernah bisa disembunyikan, walaupun beragam tirai dipergunakan untuk menutupnya.

Bagi mereka, mungkin, meningkatnya jumlah orang yang tular nanomonster Covid-19, sesuatu yang biasa-biasa saja. Makin besar jumlah orang yang terpapar dan harus masuk ke rumah sakit, makin membuka peluang bisnis. Lantaran demand atas alat pelindung diri dan alat kesehatan, seperti ventilator dan tempat tidur, bahkan ruang untuk isolasi semakin terbuka.

Karenanya, untuk meyakinkan siapa saja, juga meyakinkan Tuhan —bila mereka percaya— bahwa ekonomi akan mematikan kehidupan, katimbang nanomonster Covid-19 yang mematikan manusia, segala argumen dan siasat disajikan sebagai alasan.

Mereka pasti berbeda dengan manusia kepala, yang selalu memadu-padan nalar dengan naluri, rasa, dan dria sebagai basis pertimbangan untuk melahirkan cara (way), menyelamatkan manusia merupakan prioritas primer. Karena hanya manusia hidup yang mampu menggerakkan kehidupan, termasuk menggerakkan ekonomi.

Dalam banyak hal antara manusia perut dan manusia kepala nyaris tak pernah bisa bersekutu. Manusia perut cenderung selalu berfikir, ‘makan untuk hidup.’ Manusia kepala cenderung berfikir, ‘makan bagian dari kehidupan.’

Manusia perut mendorong eksistensi manusia sebagai alat produksi dalam keseluruhan konteks pergerakan ekonomi, karenanya lebih senang memahami hakekat manusia sebagai sumberdaya. Manusia kepala menempatkan setiap manusia sebagai modal dan investasi, karena gerak perkembangan hidup untuk menghadapi risiko eksistensial dan peradaban sangat bergantung pada modal insan yang kelak berkembang menjadi modal sosial.

Manusia perut memperlakukan setiap manusia sebagai obyek kehidupan. Manusia kepala memperlakukan setiap manusia sebagai subyek kehidupan. Karenanya, kesehatan adalah basis yang akan mampu menggerakkan dinamika ekonomi.

Pandemi Covid-19 memberi peluang kepada kita untuk melihat mana manusia kepala dan mana pula manusia perut, mana manusia yang menempatkan akal pikirannya di kepala dan yang lainnya secara proporsional. Mana pula yang meletakkan perutnya di kepala dan menempatkan akalbudinya entah di mana.

Dalam kasus Anies Baswedan melaksanakan PSBB sebagaimana di awal dan bagaimana akhirnya dia berkompromi dengan situasi, silakan siapa saja menilai, mana yang manusia kepala dan mana pula manusia perut..

Yang jelas adalah, manusia perut senang melakukan dehumanisasi. |

Komentar