oleh

Keberpihakan Pada Kader, Umat, dan Bangsa

Mengenang Kanda Saleh Khalid dan Teh Reni

Oleh; Arief Rosyid
(Ketum PB HMI 2013-2015)

BELUM mulai saya menulis tentang kebaikan Kanda Saleh Khalid, sore ini saya peroleh kabar menyesakkan ditinggal Teh Reni. Politisi perempuan yang memiliki ketegasan sikap untuk hal-hal yang dianggapnya prinsip, khususnya keberpihakan pada umat dan bangsa.

Kanda Saleh dan Teh Reni adalah senior yang selalu dekat dengan junior-juniornya, meski usianya terlampau jauh dan memiliki posisi penting di jantung kekuasaan. Ada banyak momentum yang merekatkan hubungan saya dengan keduanya.

Ketika masih aktif sebagai Ketua Umum PB HMI 2013-2015, Kanda Saleh dan Teh Reni adalah alumni yang sering mengingatkan nilai-nilai keislaman dalam setiap nafas pengabdian sebagai manusia terlebih sebagai kader di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pada keduanya juga terletak keberpihakan pada juniornya. Dalam banyak kesempatan Kanda Saleh dan Teh Reni adalah alumni yang sangat peduli terhadap karir adik-adiknya.

Mereka selalu sadar keberadaan mereka sebagai senior harus menjadi teladan buat juniornya, dan tak sungkan memberi kelapangan jalan untuk pengembangan diri juniornya.

Saya coba merapihkan kembali ingatan saya ketika berinteraksi dengan keduanya, bagaimana komitmen dan ketegasannya pada Islam sebagai nilai juga keberpihakannya terhadap regenerasi pemimpin muda umat dan bangsa.

Kanda Saleh Khalid dan Al Quran

Alhamdulillah sebagai Ketua Umum PB HMI 2013-2015, saya termasuk orang yang beruntung bisa secara intensif berinteraksi dengan beliau. Beliau salah satu alumni yang sering menasehati dan membimbing saya sebagai Ketum waktu itu.

Tak sedikit waktu beliau diluangkan untuk sekadar menghadiri undangan saya dan teman-teman. Kepengurusan kami termasuk yang sering mengundang Ketum PB HMI lintas periode untuk membicarakan masa depan HMI, juga tentu masa depan umat dan bangsa.

Satu yang melekat dari kanda Saleh, setiap nasehatnya selalu mengingatkan agar HMI sebagai organisasi harus menegakkan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. Tak terhitung berapa kali pesan itu dititipkannya dalam setiap kali perjumpaan dengan beliau.

Selain di kantor PB HMI, suatu waktu juga kami ketemu di apartemen tempat beliau menetap di Jakarta sewaktu menjabat sebagai Komisaris (Dewan Pengawas) PT. Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan). Apartemennya tepat dibelakang kantor beliau itu.

Terakhir tanggal 11 Juli 2020 di WAG Ketua Umum PB HMI, beliau merespon tulisan saya tentang “Bonek dan Kekuatan Sosial” dengan “Luar biasa. Adinda Arief Rosyid bisa menjadi milenial segala urusan nih hehe. Ok, jaga stamina”.

Sebelumnya, di kegiatan Halal Bi Halal tanggal 29 Mei 2020, pesan terakhir beliau secara tegas meminta agar HMI dan HMI (MPO) mulai membuat tim untuk islah. Inilah cita-cita yang tentu banyak diharapkan oleh pelaku sejarah waktu itu.

Teh Reni dan Kepedulian Kader

Berkali-kali, baik di acara HMI/KAHMI maupun di kegiatan-kegiatan lain, dengan tegas beliau bicara tentang keberpihakannya pada umat Islam dan bangsa Indonesia.

Yang melekat juga di setiap narasi beliau, bagaimana senior harus punya keberpihakan pada juniornya. Terngiang-ngiang ucapan beliau agar senior harus membuka kesempatan atau jalan untuk juniornya.

“Kalau bukan kita yang memberi kesempatan kepada adik-adik kita, kepada kader kita, maka kepada siapa lagi kita berharap”, begitu tuturnya di berbagai kegiatan.

Nampak terang tanggung jawabnya sebagai senior yang ingin juniornya lebih sukses. Begitulah hakikat perkaderan sesungguhnya, kita mesti legowo memberi ruang untuk kader-kader kita jauh lebih baik lagi.

Pertemuan terakhir saya dengan Teh Reni, di Rumah Pak JK tanggal 12 Februari 2020, tepat dengan ulang tahun Bu Mufidah Kalla. Waktu itu kita sedang mempersiapkan kegiatan “Simposium Internasional Resolusi Konflik A la JK”.

Kami menikmati nasi kebuli dengan kambing, sambil mencicipi telur ikan yang sering terhidang setiap kali acara silaturrahim dengan Pak JK. Beliau akan selalu mengingatkan untuk menjaga integritas, juga selalu punya keberpihakan pada umat dan bangsa.

Sore tadi saya menemuinya, menyaksikan wajah yang kebiruan dan terbujur dingin di kamar jenazah RSCM. Menyaksikan kanda Amin (suami) dan anak pertamanya begitu tegar melepas almarhumah. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Komentar