oleh

Politisi Bongsor Atawa Gebi

by: Bang Sém

TAHU bongsor alias gebi (gede ubi)? Julukan ini sering diberikan kepada anak belum cukup umur tapi berbadan besar, sehingga terlihat seolah-olah dewasa. Pasti tak mempunyai kematangan dalam pengetahuan atau pengalaman.

Saya menyebut, siapapun politisi yang melihat dinasti politik sebagai realitas politik yang dikehendaki masyarakat adalah politisi bongsor atawa gebi.

Politisi yang sekadar politisi dan bukan negarawan. Politisi yang sekadar melihat kontestasi politik sebagai keniscayaan dalam berebut kekuasaan dan memandang nepotisme sebagai suatu kelaziman.

Politisi semacam ini berkarib dengan analis – surveyor politik praktis yang memandang pragmatisme politik dan politik transaksional sebagai bagian dari ciri post trust era. Era wadul yang memandang tipu-tipu, kelicikan dan keculasan politik sebagai suatu kewajaran.

Logika politisi bongsor atawa gebi, pasti pendek. Tak sampai sejengkal. Logika resluiting: “kalo rakyat milih, demokratis lah.”

Logika begini macam mulai terjadi di Indonesia, penghujung berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto, ketika Partai Golkar memperlihatkan secara seksama anak menantu pejabat Indonesia di lembaga legislatif. Lantas diikuti partai-partai lainnya di belakang hari, entah sampai bila.

Pada masa itu, Golkar sebagai partai mulai abai dengan tugas utamanya melakukan proses kaderisasi (kader penggerak teritorial desa dan kader fungsional). Proses seleksi kualitatif untuk menghasilkan kader bermutu, mulai ditinggalkan dan ditanggalkan.

Persisnya, setelah petinggi Golkar beroleh resep baru dan cepat untuk berkuasa secara politik dari kaum Machiavellian, yang merayap masuk ke seluruh sendi lingkungan partai, bersamaan dengan berkembangnya tren oligopoli politik.

Tren persaingan terbatas yang melihat demokrasi sebagai pasar yang dikuasai pemodal dan mengkonversi suara rakyat dengan angka-angka rupiah. Para pemilik modal punya kepentingan besar, menguasai para petinggi politik, sehingga bisa berkuasa secara invisible, tersembunyi.

Dalam situasi semacam itu, partai kehilangan daya menjalankan fungsi utamanya sebagai institusi yang mendidik rakyat berkesadaran dan bertanggungjawab atas kemajuan bangsa dan negaranya. Mendidik rakyat untuk mampu berkontribusi melalui partisipasi aktif, korektif, dan kritis.

Politisi bongsor adalah politisi jalan pintas, politisi kelas kindergarten atau tadikapuri atau taman kanak-kanak yang menguasai parlemen, seperti pernah diungkapkan allahyarham KH Abdurrahman Wahid. Politisi yang sedang belajar mengacungkan jari dan berteriak ‘interupsi,’ sambil belajar bermain dan sedikit bangor.

Politisi bongsor atawa gebi tentu tak pandai membaca tanda-tanda zaman dan realitas pertama yang terjadi di tengah masyarakat, karena yang mereka lahap dari para ‘baby sitter’ politik’ — akademisi kaki tangan — hanya cara ngedot, cara mengunyah dan menelan, dan ketika pup tak usah repot-repot, karena para ‘baby sitter’ dengan sigap mengganti popok. Nilai utama yang mengendap di benak dan pengalaman batinnya adalah bagaimana disuapi dan menyuapi.

Realitas sosial yang mereka sedot, kunyah dan telan adalah realitas kedua, hasil rekayasa melalui framing media dan luahan media sosial yang disiapkan para influencer dan buzzer.

Kini, ketika gerakan reformasi berubah menjadi gerakan deformasi politik, para politisi bongsor alias politisi gebi tentu tak akan melihat realitas sosial sesungguhnya. Mereka masih akan memandang, resep kaum machiavellian yang sengaja memelihara pragmatisme politik dan politik transaksional masih merupakan resep paling jitu untuk berkuasa.

Mereka akan terus hidup dan berendam di dalam kolam stratagem politik, sambil meyakini, hanya jampi Machiavelli yang paling paten katimbang jampi lain tentang ideologi politik.

Jampi Machiavelli ihwal keculasan dan kelicikan berpolitik memang paling digemari para politisi bongsor, karena kompatibel dengan gelombang besar globalisme kapitalistik yang memelihara manusia di seantero jagad hidup dalam singularitas dan transhumanisma. Plus nilai yang mengendap di benak dan batin ihwal ‘disuapi dan menyuapi.

Karenanya, tak perlu heran, ketika raswah — dari suap menyuap sampai maling duit rakyat yang diganti dengan korupsi — yang telah mengantar begitu banyak politisi bongsor ke penjara, akan terus terjadi. Dan, para politisi bongsor atawa gebi yang sedang berkuasa, dengan cara legal formal akan terus melemahkan upaya pemberantasan raswah. Raib-nya politisi Harun Masiku, adalah fakta dari realitas ini.

Jangan pernah berharap politisi bongsor alias gebi mempunyai kepekaan nurani untuk sunggh mendahulukan kepentingan rakyat. Jangan juga berharap mereka punya sensitivitas untuk mendahulukan kepentingan rakyat sekaligus mengutamakan pembangunan yang berorientasi keadilan dan kesetaraan rakyat. Karena yang ada di benak mereka hanya berlaku pepatah, “sekali berkuasa selamanya berkuasa.”

Mereka juga tak peduli dengan teriakan parau kaum yang kritis, yang memperjuangkan politik ideologis, karena pelajaran pertama yang mereka dapat — sebelum kelicikan politik a la Machiavelli — adalah pidato retoris Plato dalam karyanya yang legendaris, Republik.

Makin bergemuruh para pecinta dan pejuang aspirasi rakyat berteriak, makin kuat juga keyakinan mereka, bahwa dinasti politik adalah keniscayaan. Karena para Dewa hanya menyiapkan kaum yang terbuat dari ‘emas’ yang harus berkuasa.

Para politisi bongsor atawa gebi akan dengan sukacita berkata,”Kita semua bersaudara di bumi, tetapi para Dewa, berbeda cara menciptakan dan membentuk kita: kami para penguasa terbuat dari emas, kalian dan rakyat kebanyakan terbuat dari pasir yang kasar. Kami pilih dari kalian dari hamparan pasir besi dan kami sepuh dengan emas.”

Jampi Machiavelli, “kelicikan dan kebohongan politik itu mulia” akan terus tersemai di jiwa politisi bongsor atawa gebi, sampai tiba waktu Tuhan kembali menunjukkan vox populi vox dei: suara rakyat suara Tuhan.

Kapan itu? Setelah nanomonster Covid-19 menuntaskan aksinya, ketika perut rakyat yang lapar tak bisa lagi mereka beli dengan uang dan tipu-tipu politik. Ketika lapar berubah menjadi daya dahsyat yang menuntun rakyat memaknai cuci tangan sebagai membersihkan akal budi, social distancing menjelma menjadi jarak nyata rakyat dengan penguasa, dan mulut yang tertutup masker, terbuka untuk menyatakan vox populi yang sesungguhnya.

Grégoire Chamayou menyebut, akan tiba hari yang mengubah realitas palsu dan segalanya sangat cepat. Pada saat itu, segala propaganda mereka (politisi bongsor atawa gebi) semakin menjadi gelembung sabun. Hari itu, rakyat melihat, kelicikan politik tak berdaya, menyaksikan rakyat mengungkap manipulasi mereka yang sempurna, sekaligus membalik pandangan mereka melihat rakyat dalam ketidakberdayaan radikal, sebagai pandangan buram yang konyol.

Sejarah perjalanan bangsa ini menunjukkan, momen itu pernah terjadi dan akan terjadi dengan bentuknya yang lain..

Komentar