oleh

Hadiah Ulang Tahun Jakarta: Predikat WTP Tiga Kali Beruntun

Oleh: Geisz Chalifah

MINGGU 21 Juni 2020, saya menyusuri jalan-jalan di Jakarta setelah tiga bulan mengurung diri yang bila pergi sebatas pada hal yang sudah sangat penting.

Minggu sore itu saya menikmati jalan-jalan di Jakarta yang total berubah, daerah Kramat Raya dengan deretan warung-warung restoran padang yang legendaris telah dibenahi dengan baik menjadi apik dan indah.

Trotoar disepanjang jalan itu menjadi lebar dan di sepanjang jalan itu juga sampai Matraman pepohonan di kedua sisinya mulai tumbuh yang kelak akan semakin menghijaukan Jakarta.

Daerah Kramat Raya adanya di sekitar Senen dan yang melekat di kepala banyak orang Jakarta (Bukan Liberal Udik, yang tak tahu dimana adanya bioskop Kramat/Grand, Rivoli, Gitabahari, Senen/Rex theater) bila mengingat daerah seputar situ maka yang teringat lebih dulu adalah kumuh dan angker.
Dan kini penataan sedang berlangsung yang menampakkan citra sebaliknya dari kesan yang selama ini tertanam.

Melewati Cikini Raya, jalan sekitar situ sudah tuntas penataannya, yang menurut rencana Anies: Di sepanjang jalan itu menuju TIM (Taman Ismail Marzuki) akan menjadi galeri seni, sarana ekspresi berkesenian yang tentu saja akan menjadi sangat menarik karena mereka walau tampil di pinggiran jalan tetap akan dikurasi lebih dulu sebelumnya. Sebagaimana musik tepi barat dibeberapa tempat diseputaran Jalan Sudirman.

Di beberapa bangku yang disediakan di pinggiran jalan dua bapak-bapak tua sedang berbincang nampak mereka menikmati suasana d isekitarnya. Fasilitas bangku dan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki adalah hal sederhana tampaknya, tapi hanya pemimpin berperadaban yang memikirkannya. Kita akan menemui hal semacam itu di kota kota di negara eropa maupun di negara maju lainnya bukan di negara yang fasilitas publik dibuat seadanya dan sekedar ada, hanya anggaranya saja yang besar yang kemudian lenyap entah kemana yang tak manusia lainpun tau kecuali setan dan para komplotan mereka.

Kini dana APBD menjadi nyata dan terlihat hasilnya, sepanjang tahun publik bisa menikmatinya menjadi sarana transportasi yang layak maupun fasilitas lainnya yang semakin membuat kota ini tertata.

Semakin hari pemandangan banyaknya para pesepeda dijalan-jalan menjadi lumrah terlihat, gerakan Gubernur Jakarta mengajak banyak orang menjadikan sepeda sebagai sarana transportasi mulai menampakkan hasilnya, yang tentunya menyehatkan bagi warga.

Beberapa hari lalu tersebar tulisan negatif tentang Jakarta yang dipimpin oleh Anies Baswedan, dari sumber yang sudah sangat biasa yaitu Sewordungu.com. Berbasis dari pendapat anggota DPRD DKI dari partai pecundang bernama PSI, mereka tak faham apa itu kritik apa itu kedengkian.

Tulisan itu memberi opini tentang kejanggalan dana APBD yang sebagiannya dipindahkan untuk menanggulangi Covid 19. Anies tak menjawab berbagai kedengkian yang selalu mereka ungkap tanpa malu-malu walau tak memiliki data memadai dan jawaban Anies adalah: Hari ini Jakarta mendapat Predikat WTP 3 kali berturut-turut yang tak pernah dicapai sekalipun ketika junjungan mereka memimpin Jakarta.

Selamat Ulang Tahun Jakarta Selamat Berbahagia Warganya. Para buzzerRp liberal udik, otak dikit silahkan merana, kami berharap DKI memberi sedikit fasilitas untuk mereka berupa sebuah empang yang kotor dan bau untuk mereka bergembira sesuai dengan habitat yang mereka miliki.

Geisz Chalifah
(Anak Jakarta Cinta Persija, lahir dan besar di Poncol Senen Jakarta Pusat)

Komentar