oleh

WAPRES YANG KIKUK

by M Rizal Fadillah
(Pemerhati Politik)

SETELAH beberapa menteri nyaris tak terdengar suara dan kiprahnya, tenggelam di hiruk pikuk wabah corona, kini rasanya Wapres pun kikuk juga. Di samping sudah sepuh yang tentu butuh pemanjaan fisik, juga rasanya posisi sebagai Wapres “ditinggalkan” juga. Dalam berita sebelumnya Wapres mengakui tidak bertemu dengan Presiden untuk beberapa waktu. Mungkin “phisical distancing”.

Dulu Pak Wapres kiyai ini dibutuhkan sebagai “vote getter” suara umat Islam. Terkesan dipaksa-paksakan untuk menjadi paket dalam Pilpres. Tak jelas kemenangan atas pengaruhnya atau bukan. Hanya saja sebagai pencitraan cukup lumayan. Dikesankan Presiden menggandeng “panutan umat” yaitu ulama. Meski tentu ada juga yang menilai bahwa hal itu justru sebagai gaya politik memperalat agama.

Setelah “sukses” merebut kemenangan barulah ujian kemampuan dibuktikan. Rupanya tertatih tatih juga pa kyai berperan sebagai Wakil Presiden. Ini lapangan tata negara bukan ruang fatwa. Sukses sebagai Ketum MUI tidak mutatis mutandis dengan kepiawaian menjadi Wakil Kepala Negara atau Pemerintahan. Agak belepotan beliau mengimprovisasi kebijakan politik.

Pak Jokowi sebagai Presiden seperti itu gaya dan polanya. Plus dan minus. Terbaca dan tergambar dari lima tahun memimpin sebelumnya. Di saat ini semestinya dibutuhkan Wakil Presiden yang gesit, visioner, dan mampu menyemangati rakyat untuk berjuang bersama menghadapi tantangan yang berat. Akan tetapi asa itu nampaknya berada diawang awang. Keduanya bukan pasangan yang pas seperti “baud dan sekrup”.

Jika tak disebut berjalan sendiri sendiri, sepertinya tidak dalam irama yang sama. Atau memang tidak ada irama. Rakyat melihat dalam beberapa tampilan pengambilan keputusan Wapres tidak terlihat. Diikutkan atau tidak ya? Di situasi “gawat kesehatan” seperti ini semestinya koordinasi mesti lebih erat. Social distancing bukan membuat pemerintahan saling berjarak. Kolektif kolegial yang berantakan.

Jika masih kuat, pak kyai hendaknya serukan kepada rakyat dengan bekal spiritual yang “lebih kental” bagaimana menghadapi wabah virus corona. Di samping umaro beliau juga tetap ulama. Istiqomahlah jangan ikut-ikutan pada budaya “mencla mencle” dalam politik kerakyatan dan keumatan.

Atau jika sudah merasa tidak kuat karena uzur, baiknya kyai istirahat saja dulu.
Menepi untuk menjadi “pandhito” atau “begawan” bangsa serta mengasuh cucu cucu. Ulama sudah, Wapres pun sudah. Mau apa lagi, Pak Kyai ?

Terlalu berat wabah lingkungan ini untuk dihadapi. Amanah yang dapat terabaikan.

Bandung, 2 April 2020

Komentar