Setelah Tewasnya Ali Khamenei, Siapakah Tokoh Pengganti yang Disegani IRGC?

TILIK.ID — Setelah kematian Ali Khamenei pada 28/02/2026 akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, negeri para mullah itu masuk ke fase yang paling berbahaya dalam sejarah politik modernnya.

Media Iran sudah mengkonfirmasi, sunbrr-sumber internasional juga sudah memberitakan seperti BBC, CNN, Al Jazeera, New York Times, Associated Press juga membuat laporan yang sama bahwa Ali Khamenei tewas di kediamannya pada usia 86 tahun. Iran langsung menetapkan masa berkabung 40 hari.

Masalahnya kemudian tidak ada penerus resmi yang diumumkan sebelumnya. Secara konstitusional suksesi ditentukan oleh Majelis Ahli. Ada 88 ulama senior yang harus memilih pemimpin baru dengan minimal 59 suara. Saat ini Mejelis Ahli dipimpin oleh Muhammad Ali Mofahedi Khamani yang sudah berusia 92 tahun.

Tapi dalam kondisi serangan masih berlangsung dan situasi keamanan yang tidak stabil seperti sekarang, majelis sulit sekali berkumpul secara normal. Sementara itu pemerintah transisi dijalankan oleh Presiden Masoud Preskian, Kepala Yudikatif Golam Husein Moseini, dan satu anggota dewan wali.

BACA JUGA :  PKS dan PAN Dorong Pemerintah Lebih Keras Mencari Solusi Masalah Palestina

Namun semua orang tahu kalau mereka itu bukan pusat kekuasaan sesungguhnya. Kekuatan sesungguhnya itu ada di tangan IRGC atau Islamic Revolutionary Guard Cops.

IRGC bukan sekedar militer biasa, mereka itu menguasai intelijen, menguasai para militer basic dan sekitar 30-40 persen ekonomi Iran selama lebih dari 25 tahun adalah partner kekuasaan utama dari Ali Khamenei.

Sekarang dalam kekosongan ini mereka tidak akan membiarkan sistem ini runtuh. Sumber internal menyebut rantai komando IRGC sempat kacau, beberapa komandan enggan kembali ke pangkalan karena takut serangan lanjutan. Ada kekhawatiran demonstrasi massal juga akan meledak seperti bulan lalu.

Pertanyaannya siapa yang paling dipercaya oleh para jenderal-jenderal IRGC ini? Paling realistis saat ini adalah Mojtaba Khamenei yang masih betumur 56 tahun. Mojstaba adalah putra kedua Ali Khamenei.

Mojtaba bukan ulama berpangkat tinggi, dia bukan seorang ayatollah, sehingga menjadi kelemahan besar secara teologis. Suksesi ayah ke anak juga dianggap tabu dalam tradisi revolusi Iran.

Tapi bagi IRGC, legitimasi teologis mungkin bukan prioritas utama saat ini. Yang mereka butuhkan adalah figur yang loyal bisa dikendalikan dan tetap heartliner. Beberapa skenario bahkan menyebut kemungkinan model junta militer dengan Mojtabah sebagai simbol sementara kekuatan operasionalnya tetap di tangan para jenderal IRGC.

BACA JUGA :  Kiprah MER-C di Afghanistan Disambut Baik Kemenlu RI

Ada kandidat lain seperti Ali Raisa Arafi, Mirak Baheri, Sadik Larijani, dan Hasan Kjomeni, tapi tidak ada yang punya kedekatan struktural dengan para jenderal-jenderal IRGC sekuat Mojtaba.

Oposisi seperti Maryam Rajafi atau Raisa Pahlevi jelas ditolak mentah-mentah oleh aparat keamanan. Kalau pertanyaannya siapa yang dihormati dan disegani oleh jenderal-jenderal iRGC, jawabannya saat ini bukan tokoh populer di mata rakyat. Tapi orang yang paling kredibel di mata aparat keamanan, dan itu mengarah kepada Mojtaba Ali Khamemei.

Namun dituasinya sekarang masih sangat cair. Keputusan 24-48 jam ke depan akan menentukan apakah Iran tetap di jalur hardliner atau dia berubah menjadi semi junta militer atau justru masuk ke fase kekacauan yang lebih dalam.

Satu hal yang pasti IRGC tidak akan membiarkan kekosongan ini tanpa kendali. |••

Komentar