GUE ngerti rasanya sakit. Ngerti rasanya kecewa.
Bahkan sebelum merasakan apa yang kalian rasakan hari ini, gue pernah lebih dulu mengalaminya.
Tahun 1974, ketika Johan Cruyff sedang berada di puncak kejayaan, gue masih SD. Harapan itu kembali membuncah pada Piala Dunia 1978. Bahkan di penghujung pertandingan final, tendangan Rob Rensenbrink membentur tiang gawang. Andai bola itu masuk, mungkin sejarah akan berbeda. Tapi kenyataannya, keadaan justru berbalik.
Lalu datang Piala Dunia 2010. Belanda tampil menggila. Sejak fase grup, satu demi satu lawan berhasil dilewati. Rasanya inilah waktunya Arjen Robben mengangkat trofi yang selama puluhan tahun hanya menjadi mimpi.
Inilah waktunya Oranye berjaya. Penantian panjang sejak final 1974 seakan-akan akan berakhir di Johannesburg.
Tapi sepak bola tidak selalu berpihak pada tim yang paling kita harapkan.
Harapan itu direnggut Spanyol. Menit ke-116 babak perpanjangan waktu, sebuah salah umpan dari lini tengah Belanda berhasil dipotong pemain Spanyol. Bola kemudian dialirkan kepada rekannya, dan akhirnya sampai ke kaki Andrés Iniesta.
Gooool!!
Hanya satu gol. Tapi satu gol itu mengubur mimpi yang gue tunggu puluhan tahun. Yang tersisa hanyalah diam, kecewa, dan pertanyaan yang terus berulang: kapan akhirnya Oranye akan menjadi juara dunia?
Karena itu, buat kalian para pendukung Ronaldo, gue paham rasanya.
Hari ini mungkin kalian kecewa. Mungkin marah. Mungkin merasa inilah kesempatan terakhir yang hilang. Percayalah, perasaan seperti itu pernah dirasakan jutaan pendukung Belanda selama puluhan tahun.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh skor pertandingan.
Kesetiaan.
Kesetiaan kepada tim. Kesetiaan kepada pemain yang sudah memberi begitu banyak kenangan. Kesetiaan yang tidak bergantung pada trofi.
Sepak bola akan terus berjalan. Generasi akan berganti. Trofi akan berpindah tangan. Akan lahir bintang-bintang baru.
Namun bagi seorang pendukung sejati, kenangan tidak pernah pensiun.
Begitu juga dengan rasa hormat kepada seorang pemain yang telah memberi begitu banyak momen indah. Karena pada akhirnya, yang kita kenang bukan hanya berapa banyak trofi yang ia angkat, tetapi bagaimana ia membuat kita jatuh cinta pada permainan ini sejak pertama kali melihatnya bermain.
Sepakbola adalah soal respek, dan satu-satunya manusia yang tak perlu dapat respek di dalam sepakbola adalah Erick Thohir manipulator publik. Untuk satu nama itu gue ga punya respek sama sekali. |••
