Hasil Pilpres 2024 Sudah Diketahui Sebelum Hari Pemungutan Suara


Oleh: Tarmidzi Yusuf
(Kolumnis)

KEGADUHAN pasca pemungutan suara, 14 Februari 2024 terus menjadi kontroversi. Kejanggalan hasil quick count yang ditayangkan TV Nasional sejak jam 3 sore pada hari pencoblosan telah ditutup karena diprotes banyak pihak.

Habis quick count terbitlah real count KPU. Hasil real count KPU 11-12 dengan hasil quick count. Ada indikasi kuat hasil real count KPU menyesuaikan hasil quick count beberapa lembaga survei. Skor Pilpres 2024 telah diatur. Penundaan perhitungan suara di tingkat kecamatan merupakan indikasi kuat adanya pengaturan suara. Sirekap menyesuaikan dengan hasil quick count.

Real count KPU pun menuai protes. Yang paling mencolok publik adalah adanya indikasi kuat penggelumbungan suara pasangan calon 02, Prabowo-Gibran. Banyak temuan di lapangan kertas suara telah dicoblos dan penggelumbungan suara di tempat pemungutan suara (TPS). Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengakui salah input. Ada 1.223 TPS yang salah menginput data perolehan suara ke dalam Sirekap untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Bahkan per 19 Februari 2024 ada sekira 50 juta suara menguap entah kemana. Temuan kejanggalan 50 juta suara ini terungkap dari penjelasan Channel YouTube Wepotech ID. Data yang janggal ini bisa dilihat dengan mudah dengan menggunakan program Microsoft Excel. Dimana jumlah daftar pemilih tetap (DPT) dikali progres rekapitulasi sehingga ketahuan berapa jumlah data pemilih yang masuk.

BACA JUGA :  Pendapat Hukum Terkait Tembak Mati Perempuan Membawa Sejata Api

Channel YouTube tersebut mencontohkan Jawa Barat. Jumlah DPT Jawa Barat tercatat 35.714.901 pemilih, sedangkan input data masuk progresnya sudah 66,70 persen. Jumlah DPT (35.714.901 suara) kali progres (66,70 persen) harusnya mendapatkan hasil 23.821.838 suara yang masuk.

Akan tetapi saat dijumlah hasilnya berbeda. Perolehan suara ketiga paslon hanya 15.354.246 suara. Di Jawa Barat seharusnya data yang masuk sudah 23.821.838 suara, namun yang masuk hanya 15.354.246 suara. Artinya di Jawa Barat ada selisih yang signifikan, yakni 8.467.593 suara tidak masuk dalam situs KPU atau setara 35,5 persen. Secara rata-rata tingkat partisipasi pemilih di Jawa Barat dalam beberapa kali Pilpres hanya 80 persen. Ada sekira 15,5 persen suara Pilpres 2024 di mark up ke paslon 02.

Penggelumbungan suara melalui aplikasi Sirekap KPU menuai banyak protes. Bukan saja soal penggelumbungan suara melainkan juga ada indikasi kuat pengaturan skor suara peserta Pilpres dan Pileg 2024. Wajar bila beberapa pihak menuntut audit forensik aplikasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU. Apalagi Roy Suryo menyebut keabsahan data dalam web itu perlu dipertanyakan. Saat publik meributkan C1 dengan hasil konversi di pemilu2024.kpu.go.id di situ ia mulai menelisiknya. Dari penulusuran Roy Suryo menemukan IP address 170.33.13.55. IP address itu milik perusahaan Alibaba Cloud.

BACA JUGA :  Anies, Kilas Balik Jakarta dan Indonesia

Kontroversi hasil quick count dan real count KPU mengingatkan kita dengan video yang pernah viral di Pilpres 2019 lalu. Video itu sekarang kembali viral di media sosial. Pakar teologi dari Gereja Advent, Dr. G T Ng membandingkan pemilihan umum di Indonesia dengan Somalia dan Amerika Serikat.

Dalam acara bertajuk “Presentation at the General Conference Annual Council 2019” yang berlangsung 15 Oktober 2019, Dr. G T Ng yang jadi pembicara membandingkan pemilu di beberapa negara.

Dia mengajak hadirin membandingkan sistem pemilu di negara mana yang paling efektif. Dr. G T Ng lalu mencontohkan Somalia, sebuah negara kecil di benua Afrika. Di sana, hasil pemilu diketahui 20-30 hari setelah pemungutan suara.

Sebagai negara maju, Amerika Serikat jauh lebih canggih. Hasil pemilu, katanya, sudah bisa diketahui hanya dalam beberapa jam setelah pemungutan suara selesai.

“Di Indonesia, mereka sudah tahu hasilnya sebelum pemilihan,” kata Dr G T Ng dalam bahasa Inggris yang langsung disambut tawa hadirin.

Demokrasi Indonesia untuk ketiga kalinya sejak Pilpres langsung digelar tercoreng. Pilpres 2014, 2019 dan 2024 penuh rekayasa baik sebelum pelaksanaan pemungutan suara, saat pemungutan suara maupun pasca pemungutan suara. Hasilnya telah diketahui sebelum hari pencoblosan.

BACA JUGA :  Partai Demokrat Akhirnya Resmi Dukung Anies di Pilpres 2024

Bandung,
11 Sya’ban 1445/21 Februari 2024

Komentar