AMIN Sangat Layak dan Patut Menerima Amanat Rakyat


by: Bang Sém

PERJODOHAN politik Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar kian saya yakini sebagai pertemuan isyarat langit yang harus mewujud dalam realitas bumi.
Isyarat langit (non empirik), senantiasa anies atau halus, dan mesti dikelola secara elegan, tidak grasa-grusu, terencana baik, dan dilakoni dengan ikhlas.

Karena dengan cara anies (halus), isyarat langit tersebut akan nyelusup ke relung akal budi khalayak. Berpadu-padan seimbang dengan rasa dan dria. Khasnya, ketika isyarat tersebut hendak mewujud nyata dalam realitas bumi (empirik) yang masih penuh dengan realitas brutal.

Memanifestasikan isyarat langit sebagai realitas bumi, sebagai suatu aksi transformasi (perubahan dramatik) sungguh amat memerlukan kesadaran fungsional, yang boleh disebut sebagai kesadaran muhaimin. Yaitu, kesadaran untuk memelihara, merawat, menjaga, dan mengawasi seluruh proses aksi ikhtiar memperbaiki keadaan menjadi hidup yang lebih baik.

Bangsa ini sedang memerlukan kesadaran penuh untuk menghidupkan dan mengembangkan kembali adab, norma —nilai, integritas, effort (ikhtiar)—enhancement (perbaikan untuk naik taraf), melaui sinergi (kolaborasi – ta’awun) sehingga akan menjadi bangsa yang dicita-citakan pejuang di masa lalu. Bangsa yang mampu menguatkan nasionalisme – religius (kebangsaan berketuhanan), sehingga bangkit mewujudkan keadilan dan kesejahteraan dalam satu tarikan nafas.

Mewujudkan transformasi dengan rencana dan aksi perubahan dari kondisi yang remang miang dan gelap ke cahaya gemilang (surya susrawa), memang tidak mudah.

Menjemput Takdir Kebaikan

Kudu dirawat dengan kerja berkesungguhan, berbasis rekam jejak (pengalaman dan ilmu pengetahuan) di satu sisi, serta pandangan jauh ke depan (visioner) di sisi lain.

BACA JUGA :  Dua Putaran, Anies-Muhaimin Menang

Kehalusan akal budi dan kesungguhan melakukan aksi merawat cita-cita kebangsaan secara konsisten dan konsekuen, lebih memelukan cara katimbang alasan.

Ketika bangsa sedang dihadapkan oleh realitas brutal (pragmatisme, politik transaksional, kegamangan dan ketidak-pastian khalayak, kecurangan, ketidak-jujuran, dan anomali) isyarat langit yang halus, menuntut kehalusan akal budi dengan ketegasan yang dalam bersikap mengatasi keadaan.

Kesadaran ini harus dikelola dengan baik dan antusias dengan mewujudkan simpati, empati, apresiasi, dan respek antara sesama anak bangsa. Muaranya adalah wujud nyata kecintaan penuh pada bangsa.

Untuk itu diperlukan pemimpin yang bukan sekadar cerdas, berbakat, dan berkepribadian baik, sekaligus cerewet, dan eksplosif dalam menjemput takdir kebaikan (çri) sebagai hadiah (ganjaran) atas aksi kebaikan. Melainkan pemimpin yang mampu menempatkan diri sebagai berkepribadian syaikhul islam – pemandu keselamatan.

Pemimpin yang amanah, shiddiq, fathanah, dan tabligh, yang sungguh mau dan mampu mengimplementasikan ghirah dan gaiurah: sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (cara perubahan). Pemimpin yang terbukti mewujudkan amanah dengan kerja optimum, kreatif, inovatif, dan inventif. Sekaligus punya komitmen kuat membentang jalan kebangsaan menuju penghidupan yang tentram, berdaulat, bahagia, mengalirkan rasa keadilan pada seluruh rakyat.

Azimuth Kebangsaan

Tentu, dengan demikian, merupakan pemimpin yang menjadi sintesa atas pemimpin-pemimpin sebelumnya, sejak Indonesia merdeka.

Pemimpin yang bernas dan tangkas, sehingga fokus dan jernih mengenali rakyatnya, paham terhadap aspirasi rakyat dan mampu mengolahnya menjadi inspirasi kerja kepemimpinannya.

BACA JUGA :  Anies dan Kapal Besar Indonesia

Program-program kepemimpinannya merupakan peoples driven yang meliputi seluruh aspek kehidupan, diwujudkan secara terpadu dan progresif. Bermuara pada keselesaan rakyat (peoples satisfaction), sehingga tanpa diminta, rakyat akan loyal kepada negara dan bangsanya. Kelak, akan meninggalkan legasi yang berkelanjutan, bertumbuh, dan luas manfaat.

Dari perspektif HOS Tjokroaminoto, KH Wahab Chasbullah, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Haji Agus Salim, Soekarno, Abdul Muis, Hamka, Moh Natsir, Abdurrahman Baswedan, A.M Sangaji, Arudji Kartawinata, dan para pejuang lainnya, pemimpin bangsa yang diperlukan adalah yang mempunyai minimal lima hal utama.

Yaitu: Kemauan kuat untuk menegakkan keadilan bagi kesejahteraan rakyat secara konsisten dan konsekuen; Daya pengaruh untuk menggerakkan rakyat menghadirkan persatuan dan persaudaraan umat – kebangsaan; Kemenangan faktual dan legal administratif dalam demokrasi politik; Kewenangan mewujudkan janji perjuangan menegakkan daulat rakyat; dan, Kedaulatan untuk menyelenggarakan seluruh tata kelola pemerintahan, pembangunan, dan penguatan – pengembangan potensi rakyat di seluruh aspek kehidupan.

Pemimpin yang sedemikian, sadar sesadar-sadarnya, bahwa kekuasaan dalm amanah yang diberikan rakyat kepadanya diperuntukkan seluruhnya bagi menjawab dan menaklukan tantangan kebangsaan dan kerakyatan. Mulai dari kenyamanan dan kemerdekaan rakyat mengamalkan keyakinan religius dan ibadat agama; Persatuan – persaudaraan umat; Pendidikan dan kesejahteraan (tanpa kecuali kesehatan); Persamaan derajat kemanusiaan; Kemerdekaan sejati sebagai warga negara bangsa berdaulat; dan Kebahagiaan umat.

BACA JUGA :  Jangan Coba-coba…

AMIN Layak dan Patut

Saya mencermati dengan seksama dinamika dan aspirasi umat yang berkembang di berbagai belahan wilayah Indonesia, belakangan hari.
Dari berbagai fenomena fakta-fakta brutal di lapangan politik – penyelenggaraan negara, ekonomi, sosial dan budaya, juga ekologi dan ekosistem, serta fenomena arus besar penghancuran nalar khalayak, saya memandang, saatnya kita memilih pemimpin yang mampu membawa bangsa mencapai tujuan perjuangan kemerdekaannya.

Mengembalikan bangsa ini ke garis pencapaian tujuannya dengan bersungguh-sungguh mempertimbangkan azimuth kebangsaan.

Sekurang-kurangnya: Mewujudkan Pancasila sebagai prinsip moral dan pencapaian kebangsaan-kenegaraan; Meningkatkan potensi dan kemampuan rakyat dengan mengembangkan budaya kreatif berbasis sains dan teknologi; Menguatkan akses rakyat terhadap seluruh institusi dan ekstensi ekonomi, kesehatan (termasuk kesehatan mental), pasar, informasi untuk mencapai keseimbangan keterampilan dan kearifan; Menyempurnakan penegakan hukum sebagai penegakan keadilan untuk seluruh warga negara dan warga bangsa; Menguatkan dan mengembangkan strategi universe prosperity dan menegaskan seluruh proses penyelenggaraan negara sebagai gerakan peradaban; dan Memainkan peran strategis dalam menggerakkan arah baru geo politik – geo ekonomi – geo budaya dalam pergaulan global.

Saya memandang pasangan Anies – Muhaimin (AMIN) sangat layak dan patut menerima amanah rakyat memimpin bangsa ini, menjawab tantangan — setidaknya — lima tahun (2024-2029) ke depan, sekaligus memimpin langsung upaya merumuskan peradaban baru jelang seabad Indonesia merdeka. |

Komentar