Tersingkirnya Teknokrat-Akademisi-Gender di Munas KAHMI

Oleh Arianto
(Pengamat Sosial)

PERHELATAN Munas KAHMI usai sudah memilih 9 Presidium MN KAHMI. Kesembilan terpilih semua berasal dari Politisi; *Doli Kurnia (Ketua DPP Partai Golkar), Yohan Wahyu (Ketua DPP PAN), Herman Khaeron (Ketua DPP Partai Demokrat), Saan Mustofa (Ketua DPW NasDem), Rifqinizamy (Pengurus DPD PDI Perjuangan), Abdullah Puteh (Anggota DPD RI/PKS), Romo HR Syafii (Ketua DPP Partai Gerindra), Zulfikar Arse (DPP Partai Golkar), Sutomo (Ketua Partai Kebangkitan Nasional/PKN DKI Jakarta).

Dari 40 calon presidium, tersingkir yaitu *Prof dr Fachmi Idris (Profesional/Akademisi), Prof Fazli Jalal (Akademisi), Prof Asep Saefuddin (Akademisi/Rektor Univ Al Azhar), Prof Heri Hermansyah ( Akademisi/ Dekan FT UI), Prof Lely Pelitasari soebekty (Akademisi/Wakil Rektor UIC), Prof Suparji Ahmad (Akademisi, Prof Imam Mujahid (Akademisi)* Dan masih banyak lagi tersingkir.

Tersingkirnya unsur gender di KAHMI menjadi Pertanyaan besar atas keberpihakan KAHMI terhadap kaum hawa; figur Ulla Uchrawati, Nadhira Seha Nur, dll turut tersingkir karena dahsyatnya “Tunai”.

Fenomena tersingkirnya Teknorat-Akademisi-Gender merupakan gejala baru yang patut dipertanyakan antara lain .?

BACA JUGA :  Desak Anies Ambon, Anies Gandeng Pengajar Muda Indonesia Mengajar

Apakah stakeholder KAHMI tidak lagi melihat peran alumni HMI dari kalangan tknokrat-akademisi sebagai bagian penting dalam mewujudkan misi keislaman dan misi keindonesiaan HMI?

Ataukah ada faktor lain yang menyebabkan Majelis Daerah-Majelis Wilayah mengutamakan politisi daripada teknorat-akademisi ?

Apakah benar pemilik suara mematok harga 2,5juta s/d 5 juta kepada para calon presidium? Konon Abdullah Puteh menggunakan mobilebanking ke rekening pemilik suara, Saan Mustofa dan Doli Kurnia menggunakan TUNAI dan dibayarkan oleh sejumlah KPUD yang sengaja hadir di Palu untuk menangkan kedua mitra kerja DPR-Nya.

Herman Khaeron-Rifqi-Yohan-Zulficar dikenal Raja Sawer sejak di dapilnya, selama di Palu membagi uang tunai ke pemilik suara. Romo dikenal ulama, tapi seluruh jaringan DPRD Gerindra saweran menyiapkan TUNAI untuk kemenangan Romo. Sutomo pendatang baru menebar uang tunai diduga berasal dari Achmad Ali Politisi NasDem.

Apakah info diatas benar? Hanya Mereka yang terpilih dan memilih bisa berkata jujur? Mungkinkah kejujuran itu akan lahir dari KAHMI? Ataukah saling menutupi berjamaah solusi tepat?

BACA JUGA :  Mainang Pulau Kampai Melayarlebarkan Seni Tradisi

Majelis daerah diperkirakan mengantongi jika dihitung Rp. 2,5jt X 9 orang ; 22,5jt/suara

Di tengah bencana Cianjur ratusan orang wafat, justru KAHMI mempertontonkan “Kemunafikan baru” dalam perjuangan keislaman dan ke-Indonesiaan.

Pertanyaan di atas mendasar untuk dijawab stakeholder KAHMI karena medan pengabdian alumni HMI tersebar luas berbagai profesi, bukan hanya POLITISI.

Tepian Sungai Pengabdian.
Salam sejahtera
Yakusa

Komentar