Fenomena Anies Baswedan

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar
(Alumni UGM dan Curtin University,Perth-WA, Tinggal di Kendari)

TULISAN ini dimaksudkan memotret sisi pemikiran dan konsep Anies Baswedan, yang terekam dalam beberapa aspek dan peristiwa, serta sisi pemihakan publik atas figur Anies Baswedan sebagai pemimpin, dalam prespektive Anies Baswedan sebagai salah satu pusat “Lingkaran Fenomena”, kearah legitimasi politik publik, melalui salah satu “peristiwa rukun demokrasi” yaitu Pemilu Presiden Tahun 2024 yang akan datang.

Disadari sepenuhnya bahwa ada kesulitan paradigmatik, dalam memotret Anies Baswedan secara utuh, dalam berbagai sisi, tetapi paling tidak kita akan memahaminya dalam konteks sebagai berikut :

(1) Anies Baswedan, bisa dengan cepat merebut simpati masyarakat Jakarta, untuk memilihnya menjadi Gubernur, meskipun berhadapan dengan kompetitor yang didukung penuh oleh Partai Pengusung yang kuat, dan sumber pendanaan yang sangat besar serta pemihakan kekuasaan yang terbuka. Kondisi tersebut haruslah dipahami sebagai adanya kekuatan integritas pribadi, serta kekuatann dan kejelasan visi, yang selanjutnya masyarakat menaruh harapan kebaikan sosial, politik dan ekonomi;

(2) Anies Baswedan, memiliki karakter kempimpinan egaliter, dan siap mengkomunikasikan konsepnya dalam memenuhi harapan masa kini dan depan bangsa, dengan melibatkan emosi primordial, yang selanjutnya pesan konsep itu menjadi resonansi yang menggugah emosi masyarakat;

(3) Anies Baswedan, dalam banyak kesempatan dalam mengiternalisasi konsep dan gagasannya tentang pembangunan masyarakat dan bangsa, adalah menposisikan diri dan konsepnya sebagai “tumpuan dalam mencari kepastian dan kejelasan, di tengah hiruk pikuk, ketidak pastian pengelolaan ekonomi, kepastian hukum, harmonisasi dan integritas bangsa, serta good governance.

Meskipun pemilu presiden dilaksanakan kurang lebih dua tahun lagi, tetapi konstalasi aktual saat ini, yang terekam dalam sikap masyarakat, lahirnya pilihan figur, yang diharapkan memimpin pemerintahan dan pembangunan bangsa Indonesia, dan salah satu figur yang sangat menonjol adalah Anies Baswedan.

BACA JUGA :  Jokowi Dukung Anies, Keterbelahan Berakhir

Anies Baswedan memenuhi kriteria akademik dalam hal pemimpin bangsa yang kita butuhkan kedepan, sebagai bangsa yang modern dan beradab. yaitu Pertama ; Anies Baswedan pemimpin yang memiliki akar konsistensi, peta garis kejujuran dan ketegasan, serta tangkas dan cerdas dalam mengambil keputusan. Dalam istilah Nurcholish Madjid (2003 ), pemimpin yang memilki visi tentang masa depan bangsa.

Kedua, Anies Baswedan seorang dengan intuisi kepemimpinan savoir faire (basirah), yaitu senantisa tetap setia memelihara amanat dan kepercayaan umum, dan berperan sebagai pembina kesepakatan (concensus builder) antar berbagai komponen bangsa. Sisi ini adalah aksiomatik di dalam memenuhi janji-janji politiknya pada saat kampanye calon Gubernur DKI Jakarta;

Ketiga, Anies Baswedan, terinternalisasi menjadi karakter pemimpin yang memiliki prespektif; untuk membawa perubahan dan mengangkat martabat bangsa, menjadi bangsa yang memiliki daya saing yang tinggi, bangsa yang mampu mengelola sumber daya alam dengan sumber daya manusia dan teknologi sendiri, pemimpin yang konsisten mendorong penegakan supremasi hukum, dan pemimpin yang konsisten memberantas korupsi;

Keempat Anies Baswedan pada sisi lain yang lebih utama dari sudut pandang demokrasi adalah, merintis jalan yang cukup luas untuk partisipasi sosial-politik, maka pemimpin yang akan datang harus menemukan “formulasi dan paradigama” guna mengantisipasi perubahan kualitatif pada masyarakat, dalam bentuk meningkatnya berbagai harapan dan tuntutan dalam berbagai konteks kehidupan, terutama bidang ekonomi, penegakan hukum dan sosial-politik.

Di luar formulasi tersebut, maka konsekwesinsi logisnya yang akan dihadapi oleh pemimpin baru pasca pilpres adalah gejolak sosial, yang terus mengganggu dan akhirnya kegagalan substansial atas harapan objektif rakyat.

Di akhir masa jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta, semakin mempertegas dirinya sebagai pemimpin yang penuh pesona berwibawa, baik karena prestasi yang diraih, maupun karena orsinilitas konsep dan gagasan yang diperkenalkan dalam forum nasional dan internasional, sehingga pada gilirannya wibawa Anies Baswedan bergerak kearah pengakuan masyarakat sebagai lambang harapan bersama, sumber kesadaran arah (sense of direction) dan penggerak atas kesadaran tujuan dalam hidup bernegara.

BACA JUGA :  5 Alasan Mengapa Anies Harus Jadi Presiden

Masyarakat merindukan bangsa ini dikawal oleh tokoh yang memiliki integritas yang tinggi, cekatan dalam mengambil sikap, memiliki pemihakan yang tinggi dan nyata kepada masyarakat, siap mencairkan rutinitas formal, dan melompat dari formalitas yang menghambat, dan membangun komunikasi equal (saling memahami serta dipahami), tetapi tetap diposisikan sebagai negarawan. Karakter seperti ini, sesungguhnya ada pada beberapa tokoh nasional, tetapi Anies Baswedan memiliki karakter lebih menonjol, khususnya cara pandang dan problem solving terhadap masalah bangsa.

Pandangan dan pernyataan-pernyataan problem solving Anies Baswedan terasa resonasinya lebih tulus, -lepas dari basa basi, lebih memihak kepada kebaikan bersama, dan selalu dalam prespektif posistif. Sisi ini menjadi penting karena memberikan peneguhan psikologi kepada masyarakat bangsa, sebagaimana sorotan tajam para akademisi, mahasiswa, kelompok masyarakat terpelajar, para tokoh agama, yaitu di tengah keresahan sosial yang meningkat, karena kegagalan pembangunan ekonomi bangsa, lemahnya kepastian hukum, makin meluasnya secara kualitatif korupsi, menurunnya kepercayaan masyarakat kepada pimpinan nasional, karena seringnya memberikan informasi yang disangsikan validitasnya, dan yang paling krusial adalah berkembangnya disintegritas, karena benturan-benturan identitas, yang terkesan untuk marjinalisasi suatu kelompok.

Sorotan tentang kegagalan pembangunan tersebut dapat kita uji secara akademis, dengan memakai indikator keberhasilan pembangunan suatu bangsa, seperti yang dirumuskan oleh Eugene Staley, yang dirujuk oleh Nurcholish Madjid (1987), sebagai berikut:

(1). Tingkat produksi dan pendapatan yang lebih tinggi dan merata;

(2) Kemajuan pemerinatah yang semakin demokratis, mantap dan sekaligus tanggap terhadap kebutuhan dan kehendak rakyat;

(3). Pertumbuhan hubungan sosial yang demokratis, termasuk kebebasan yang meluas, kesempatan untuk pengembangan diri dan penghormatan kepada kepribadian individu;

BACA JUGA :  Bawaslu Sabu Raijua: Orient Riwu Kore Lakukan Pembohongan Publik

(4). Tidak mudah terkena komunisme dan totalitarianisme lainnya, karena alasan-alasan tersebut.

Pada akhirnya, figur yang akan diberi amanah oleh rakyat menjadi pemimpin nasional melalui pemilu presiden tahun 2024, adalah pasti relevan denga apa yang terekam dalam aspirasi ideal masyarakat tentang penyelenggaraan berbangsa yang modern dan beradab, yang bertumpu pada figure yang memiliki rekam jejak dalam konteks integritas pribadi yang tinggi, dan visi tentang keindonesian, adil, beradab dan religius,yang secara instrumental tergambar dalam konsep-konsep yang dapat diwujudkan yaitu:

(1). Good governance, intinya adalah tata kelola yang “baik dan benar”, yaitu terbukanya akses masyarakat dalam proses pelaksanaan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan;

(2). Adanya sikap berfikir dan prespektif untuk mengatasi benturan-benturan identitas atas kenyataan pruralisme masyarakat kita, yang mengancam integritas nasional. Dalam prespektif itu, maka pruralisme dipahami sebagai pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan keadaban. Demikian juga halnya dengan tolerasi. Tolerasi menurut Nurcholish Madjid justru dipahami oleh umat sebagai persoalan ajaran hikmah, dan karena toleransi itu adalah ajaran maka lahir kewajiban untuk melaksanakannya.

Toleransi adalah salah satu azas masyarakat Madani (civil society) yang dicita-citakan, sehingga tuduhan bahwa “Ummat Islam intoleran”, bertentangan dengan fakta sebagai suatu ajaran hikmah dan sekaligus cita-cita dan

(3). Penegakan supremasi hukum secara konsisten dan bertanggungjawab, penegakan supremasi hukum ini bertalian secara kohesif dengan good governance, seperti dua sisi koin.
Dengan tetap menjadikan Pancasila secara konsisten sebagai sumber nilai, pijakan bersama dan dasar filsafat bangsa,dalam proses pembangunan ekonomi, sosial, politik dan ketatanegaraan, maka dipastikan, bangsa Indonesia akan melahirkan pemimpin, yang akan mengantar bangsa ini menjadi bangsa yang modern, beradab, demokratis dan berkeadilan sosial.

Komentar