PEMICU PETAKA

Bang Sém

BENCANA atau petaka tak datang hanya karena fenomena alam semata. Sebagian besar bencana bermula dari ulah tingkah manusia.

Tak sulit mengundang atau memicu petaka. Sejumlah riwayat dan kisah menjelaskan, petaka atau bala’ alias bencana sangat mungkin datang, karena manusia ‘memancing Allah’ untuk menurunkannya ke bumi.

Imam Attirmidzi, meriwayatkan, suatu kali Rasulullah Muhammad SAW menyatakan, “Jika ummatku telah melakukan lima belas perkara, maka pasti, bala’ (bencana, petaka) akan tiba kepada mereka”.

Sejumlah sahabat bertanya: “Apa saja lima belas perkara yang menyebabkan datangnya bala’ itu?” Lalu, Rasulullah mengurainya satu per satu.

Bala’ akan datang ke suatu kaum atau bangsa, bila kekuasaan telah dianggap sebagai keuntungan. Dengan kekuasaan, mereka mendulang aneka perbuatan yang hanya menguntungkan bagi dirinya. Karena mereka menganggap dan mengelola kekuasaan, layaknya berniaga atau berbisnis.

Sejumlah kalangan ulama menjelaskan, pemicu petaka yang pertama adalah perilaku buruk manusia yang selalu dokoh mengambil keuntungan duniawi bagi kepentingan pribadinya (materialistis), lantas mereka dipilih sebagai pemimpin kaum atau masyarakat.

Lalu? “Ketika amanat dianggap seperti ghanimah”, seru Rasulullah SAW. Artinya, seseorang diberikan kepercayaan melaksanakan sesuatu jabatan, tidak untuk menjaga dan memelihara amanat dengan baik. Melainkan menerimanya sebagai ghanimah, harta pemberian, hadiah, lantaran telah ikut berjasa terhadap diperolehnya sesuatu kekuasaan. Karena itu, mereka menganggap zakat sebagai cukai, dan dirasakan merugikan, lantaran dianggap mengurangi harta.

Sebagian kalangan ulama memahaminya sebagai perilaku mereka yang diberikan kepercayaan mengemban amanah oleh umat dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk mendulang kekayaan.
Pada masa itu, dana zakat tidak segera dibayarkan atau diberikan kepada mustahik, mereka yang berhak menerima zakat, bahkan dana zakat diniagakan dulu sebagai investasi dan atau dipergunakan kepentingan lain yang amat berjarak dengan realitas mustahik, juga untuk mengambil keuntungan kelompok atau pribadi yang bukan mustahiq. Meski dengan alasan, misalnya, tidak sengaja atau meminjam sementara untuk kepentingan pembangunan.

Lalu? “Ketika suami sudah tunduk kepada isteri”, jawabnya. Bersamaan dengan itu, jumlah orang yang durhaka kepada ibunya bertambah. Demikian pula yang membenci ayahnya. Mereka lebih patuh kepada teman, katimbang orang tua. Apalagi menyakiti dan melukai hati ibu kandungnya, langsung atau tidak langsung. Termasuk mengubah kata-katanya menjadi sembilu bagi hati ibunya. Secara paralel, hal ini juga berlaku sikap derhaka atau menentang ayah atau bapak kandungnya.

Kemudian, pada masa itu terlalu banyak orang menjerit-jerit (bersuara keras) dan gaduh di masjid-masjid (dan community centre). Pimpinan kaum itu, kata Rasulullah SAW, orang yang rendah budinya.

Ada kalangan ulama yang memahaminya, umat sudah enggan datang dan memakmurkan masjid dan abai atas panggilan salat (adzan). Pada saat bersamaan, banyak orang menggunakan masjid sebagai ajang berbagai lomba. Masjid kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana ibadah dan peradaban manusia melalui proses pendidikan – formal, informal dan non formal.

Saya memahaminya tak hanya masjid secara harafiah, melainkan semua medium yang menjadi wahana ‘ibadah’ dan menjadi ajang pencerahan bagi manusia supaya menjadi sungguh seorang abid, hamba yang mesti sujud kepada Allah, termasuk media.

Pada masa itu, seseorang diidolakan dan disegani karena kejahatannya, bukan karena kecerdasan dan kearifannya. Tentang hal ini, ada kalangan ulama yang memahaminya sebagai ironi sosial, menjadikan orang-orang yang hina (koruptor, musyrikin, pemuja setan, penggosip, produsen dan penebar buhtan – hoax dan namimah – pengadu-domba, produsen dan penebar fithan – fitnah) diberikan kepercayaan menjadi pemimpin dan guru hanya karena memenuhi asas formalitas akademis.
Ada juga yang memahaminya dari perspektif lain, khalayak atau ummat memuliakan dan mengagung-kan seseorang karena dicekam rasa takut kepada seseorang.

Petaka juga akan tiba, ketika khamr (segala yang memabukkan, seperti minuman keras, narkoba, dan zat adiktif – psikotropika) merajalela, dan menjadi konsumsi terlarang yang tidak diberantas tuntas dari sumbernya. Akibatnya selalu tersedia di tengah masyarakat, baik terang-terangan atau tersembunyi.
Pada masa itu, kaum lelaki senang mengenakan busana berbahan sutra sebagai pakaian masyarakat sehari-hari, dengan beragam alasan. Lantas berbagai kalangan yang mengikuti tren mode semacam itu, sibuk menyoal dan mempertanyakan argumen dan alasan agama melarang lelaki mengenakan pakaian berbahan sutra.

Ketika itu juga segala bentuk hiburan dihalalkan dan dilegalkan, sehingga menyebabkan umat lalai pada dzikir untuk mengingat Allah. Ada juga yang memahami, aneka hiburan yang menghadirkan erotisme dan sesualitas ditampilkan oleh para penghibur secara luas dan legal, tanpa mengindahkan artistika, estetika dan etika.

Bencana juga akan terpacu, ketika pergelaran seni pertunjukan musikal sebagai hiburan, mengabaikan prinsip kemanfaatan bagi penguatan kesadaran imani, dan membuat umat atau manusia menjadi lupa diri.

Lantas? Telah muncul kaum yang sibuk melemparkan ketidak-mampuan mengatasi sesuatu masalah mutakhir, kepada para pemimpinnya di masa lalu dan hari kemarin. Setiap kali terpuruk, spontan menyalahkan (tidak mau mengambil amsal obyektif) para pendahulu.

Diam-diam dan atau terang-terangan, mereka juga merutuk umat yang sebelumnya, termasuk para imam, tabi’in, dan para syuhada.

Aneka bencana pun akan segera datang bergantian, bila sudah banyak kaum terpelajar, termasuk mereka yang mempelajari ilmu agama, hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan status duniawi semata. Sekaligus dengan bangga ‘merendahkan’ dirinya setara dengan barang atau benda lain.
Saya memahami situasi itu adalah, ketika sangat banyak kaum terpelajar dan akademisi, tetapi amat miskin cendekiawan yang dengan ilmunya mencerahkan sekaligus memberi solusi bagi umat untuk mengatasi masalahnya.

Bila ini sudah terjadi, dan lengkap, datanglah petaka sebagai azab Allah, mulai dari angin merah, penyakit, bencana alam, dan bencana sosial yang memusnahkan. Mudah-mudahan, kelima belas pemicu bala’ itu belum ada dalam kehidupan kita kini |